4 Hal Yang Patut Disyukuri Saat Berpuasa Di Tengah Pandemi

“Bersyukur itu lebih baik dari pada mengeluh”

Bisa berkumpul dengan keluarga?

Bisa bercengkrama dengan anak-anak dan keluarga?

Semua keluarga sehat wal afiat?

Masih ada beras dan lauk pauk di rumah?

Masih bisa menghirup udara pagi ini tanpa bantuan alat pernapasan?

---

Sudah selayaknya kita mensyukuri apa yang kita miliki. Saat pandemi seperti ini, kondisi tak menentu, kita tak pernah tahu kapan penyebaran covid 19 akan melandai bahkan menurun kurva penyebarannya. Kita tak pernah bisa membayangkan apa yang sedang dirasakan para tenaga kesehatan yang sedang berjuang membantu para pasien yang terpapar virus covid 19. Mereka punya keluarga tapi mereka tak mendapatkan kesempatan seperti kita yang bisa tinggal di rumah bersama keluarga. 


Pandemi ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Bulan yang ditunggu-tunggu umat islam dalam satu tahun. Karena di bulan ini, tak hanya pahala kebaikan yang berlipat yang akan Allah berikan kepada umatnya, namun rahmat untuk mendapatkan syurga pun terbuka. Tentu ada banyak kebaikan dan hikmah mengapa pandemi ini terjadi saat bulan Ramadan. Namun dari berjuta hikmah yang tak bisa saya tulis, ada hal mendasar yang ingin saya bagi kali ini, yaitu tentang rasa syukur yang sudah sepatutnya kita lakukan. Saya mencatat ada empat hal yang patut kita syukuri saat pandemi hadir di bulan suci Ramadan.


1. Rezeki

Bersyukur atas segala rezeki yang telah Allah berikan pada kita hingga saat ini. Rezeki yang banyak sekali bentuk dan macamnya. Tak melulu bicara materi, entah dalam bantuan kemudahan dari orang lain, hadiah kejutan dari tetangga dan sebagainya. Pernahkah merasakan pagi berbagi Rp 10.000 kepada orang yang membutuhkan dengan iklas, kemudian Allah balas langsung dengan 100 kali lipat di hari yang sama? Pernahkah saat tak memiliki uang sama sekali untuk membayar SPP anak, tiba-tiba ada teman lama membayar hutang yang kita sendiri bahkan sudah lupa? Pernahkah berpikir berapa biaya yang harus kita keluarkan bila oksigen yang kita hirup hingga saat ini harus membayar? Ya, membayar layaknya orang yang membutuhkan alat bantu pernapasan di rumah sakit, kalikan harga satu tabung dengan jumlah hari. Namun mengapa selalu sisi kekurangan yang melulu kita-saya- ungkapkan. Yang paling santer sempat menjadi trending adalah penggajian yang tidak dibayar penuh selama pandemi. Karena banyak pembelajaran yang dilakukan secara daring, ditambah lagi kondisi ekonomi memburuk. Banyak orang tua mulai kesulitan 'sekedar' membayar SPP anak. Pertanyaannya, apakah matematika kita sama dengan matematika yang Allah miliki? Ingatlah mak, bahwa bersyukur itu jauh lebih mudah dari pada mengeluh. Yuk, sama-sama perbaiki diri sejak sekarang, dimulai dari perbanyak rasa bersyukur kita agar tak kufur nikmat.


2. Keluarga

Seperti yang saya singgung sedikit di paragraf awal. Saat pandemi, berapa banyak tenaga meds yang tak bisa berkumpul dengan keluarga. Sekali pun mereka tinggal di hotel berbintang dengan fasilitas lengkap, apa itu semua bisa menggantikan posisi keluarga? Bersyukurlah, kita, yang masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga saat ini. Yuk manfaatkan bonding lebih dalam lagi antar keluarga. Mungkin dengan bermain bersama anak-anak dengan alternatif permainan bisa dibaca di sini dan di sini Atau mungkin bisa mencoba membuat menu berbuka yang praktis, sehat dan mudah di sini .


img-1588992997.jpg


3. Makin mendekatkan diri pada-Nya

Karena 24 jam nyaris di rumah saja, maka waktu ‘lapang’ yang ada makin terbuka lebih luas. Kita jauh lebih fleksibel mengelola waktu minimal bisa jeda sebentar dari rutinitas work from home. Jeda yang bisa dilakukan dengan menambah bacaan al quran atau sholat sunnah. Belum lagi bila waktu berbuka tiba, kesempatan bisa berbuka puasa bersama seluruh keluarga setiap hari itu tak terbayarkan dengan apapun. Coba kita ingat-ingat, bagi orang tua yang bekerja shift atau mungkin tak ada perubahan jam kerja saat Ramadan, berapa kali dalam satu bulan bisa berbuka puasa bersama keluarga? Momen luar biasa yang jarang bisa dinikmati bukan? Saya pernah merasakannya, mak. Selesai buka puasa bersama, kita bisa lanjut sholat magrib berjama’ah. Indah banget. Bahkan mungkin sholat fardu yang lain pun kita jadi lebih sering berjama’ah.


4. Silaturahmi 

Mengapa silaturahmi perlu disyukuri saat berpuasa di tengah pandemi? Pernahkah Anda berbalas pantun dengan tetangga dalam hal makanan berbuka? Atau dari yang awalnya hanya say hello ketemu dengan tetangga, tapi sekarang, karena nyaris 24 jam bisa melihat terus, bahkan tak jarang ngobrol antar pagar. Tak hanya itu, saat pandemi terjadi, kita mungkin jadi lebih sering menghubungi keluarga melalui video call atau aplikasi lain. Sesuatu yang mungkin dulu jarang kita lakukan. 

img-1588996547.jpg


Sebetulnya tak ada yang berubah dari jumlah jam yang ada dalam setiap harinya. Masih 24 jam sehari. Tapi sadarkah kita bahwa perubahan mungkin telah terjadi selama pandemi ini? Perubahan apa yang akhirnya baru kita sadari, mak?


Jika kita ingin hidup lebih bahagia, maka ingatlah untuk memulai dengan mensyukuri apa yang telah kita miliki, walau itu hanya tarikan napas.

Karena cara terbaik menikmati momen yang ada adalah dengan menikmatinya. 


Selamat menikmati berkahnya Ramadan.


Kategori
Cerita Emak

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar