7 Tips Mengelola Keuangan untuk Remaja

"Bund, uangku udah habis nih, hari ini ga ada ongkos." 

"Bund, aku minta uang dong, hari ini temenku ngajak ke sekolah, mau ngasih surprise untuk guru yang lagi milad."

"Bund, aku pinjem deh uangnya, bulan depan kurangin uang saku aku."

***

Pernah kah mengalami hal seperti di atas, mak? Saya mengalaminya, tadi pagi. Uang bulanan mereka sudah habis, jadi emaknya 'diberhentikan' langkah kakinya untuk keluar rumah. Tiap dapet uang, semua di tabung. Jadilah untuk keperluan sehari-hari jadi tarik ulur.  Dan akhirnya, jurus emak tega pun keluar. Belajar konsisten atas apa yang telah disepakati di awal. Hehehe. Melatih anak-anak dalam mengelola uang memang seru-seru gimanaa gitu. Ada saja argumen cantik yang kadang kita (baca: saya) ga kepikiran. Coba yuk beberapa tips sederhana ala emak dalam menerapkan tanggung jawab finansial pada remaja. 


1. Jelaskan why-nya.

Anak remaja cenderung sedikit berargumen saat kita menawarkan kesepakatan baru yang biasanya akan mengusik 'kenyamanan' mereka. Maka saat menawarkan aturan/kesepakatan baru, diskusikan dan jelaskan mengapa kita melakukan hal itu. Jelaskan apa manfaatnya untuk ia. Ambak, pernah dengar istilah Ambak? Apa Manfaatnya BAgiKu


2. Buat kesepakatan bersama

Saya lebih suka menyebutnya dengan kesepakatan. Dari namanya, otomatis antara orang tua dan anak terjadi sebuah komunikasi produktif, sebuah kesepakatan bersama setelah didiskusikan tentang rencana pengelolaan keuangan anak. Saat anak melakukan kesalahan, ia akan mudah menerima kesalahan itu dengan lapang hati karena sejak awal kesepakatan itu telah diketahui bersama. Sepakati juga untuk apa saja uang itu nanti digunakan. Mana tanggung jawab anda sebagai orang tua, mana tanggung jawab anak untuk menggunakan uangnya.


3. Berikan tanggung jawab mengelola sendiri uang sakunya sendiri

Remaja, biasanya sudah memiliki keinginannya sendiri akan kepemilikan barang tertentu yang sedang trend atau barang kesukaanya yang ada di wishlist mereka. Nah, bagaimana cara mendapatkan barang yang diinginkan itu adalah hal yang harus dikenalkan pada mereka sejak dini. Dengan memberikan kepercayaan untuk mengelola uang sakunya sendiri, kita sudah memberikan ruang dan pengalaman baru bagi mereka. Satu yang perlu diingat, saat uang mereka menipis, mereka bisa saja dengan wajah memelas, akan meminta uang tambahan, bayar dengan bekerja pada orang tua atau minta diambil lebih dahulu uang saku bulan depan. Pastikan emak setrong ya lihat wajah memelasnya. Lihat urgensinya adalah hal yang paling sederhana.


3. Tentukan jumlah uang saku bersama anak Anda

Menghitung bersama anak anda tentang berapa uang saku itu sesuatu yang mengasyikkan. Betapa akhirnya mereka tahu berapa besaran uang bulanan mereka untuk satu item saja, di transportasi misalnya. Dari sini, mereka akan belajar berhemat. Bahkan, saat emak pinjem uang receh untuk bayar tukang sayur yang ga ada kembalian, suatu saat akan ditagih dan dihitung sebagai pinjaman loh mak. Hehehe. *nujuk idung sendiri


4. Berlatih bersama

Saat kita menyampaikan aturan tanggung jawab baru, berlakukan aturan itu juga untuk seluruh keluarga dengan bobot yang berbeda disesuaikan dengan usia. Aturan waktu pemberian uang saku yang berbeda untuk kakak yang SMA dengan SD. Contoh, untuk kakak diberikan uang saku sebulan sekali, untuk adik tiga hari sekali. 


5. Konsisten pada aturan yang telah disepakati

Saat anak mulai merengek karena uang sakunya mulai menipis dan minta kucuran uang saku lagi, biasanya, kita akan mudah luluh. Namun kembalikan lagi pada tujuan awal anda bersepakat dengan anak anda. Dari sini anak akan belajar mengelola masalah dan menemukan jalan keluarnya. 


6. Latih anak anda untuk bisa menahan keinginan dengan bantuan catatan keuangan sederhana

Mengenalkan dan melatih diri menahan keinginan akan sesuatu adalah latihan tanpa batas waktu. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan ya, mak.


7. Pastikan Anda sudah melakukan tahapan pengenalan dan pengelolaan uang pada anak sejak awal.

Mulai dari mengenalkan konsep uang, saat anak berusia tk misalnya, beri tanggung jawab untuk membantu emak belanja di toko terdekat, sesekali memberikan imbalan setelah ia membantu Anda di rumah sampai dengan pembiasaan berbagi/bersedekah/bersyukur dan menabung setiap hari.


Apapun alasannya yang disampaikan pada kita, percayalah, itu bagian dari pendewasaan yang berproses. Tinggal kita bantu arahkan dengan latihan yang konsisten. Tulisan ini efek dari emak mengikuti tantangan 10 hari di Institut Ibu Profesional dalam mengenalkan kecerdasan finansial pada anak-anak emak yang sudah remaja. 10 hari yang benar-benar menantang, menggemaskan dan menjadi wadah kami belajar.


Setiap keluarga tentu mempunyai visi dan misi tertentu. Selama bisa dipraktekkan dalam keluarga kita, kenapa tak mencobanya?

Kategori
Tips Ketjeh

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar