Akhirnya saya jadi seperti ini



Wajahnya teduh, sorot matanya menenangkan bagi siapa saja yang berbicara dengannya. Kerutan dalam lagi berlipat tampak sangat jelas di wajah abah. Rambut putihnya nyaris tertutupi oleh kopiah yang tampak usang. Baju batik panjang pun tak bisa menutupi jemari tuanya. 
-
Nyaris setiap sore, abah ini selalu lewat depan rumah menawarkan dagangannya. Badannya yang renta mampu memanggul dua keranjang bambu besar berisi ragam pisang. Jalanan menanjak di depan rumah membuat halaman depan selalu menjadi persinggahan abah untuk duduk dan menawarkan dagangannya. Dan nyaris setiap hari juga saya tercyiduk dengan pisangnya yang ranum. 
-
Buat seorang kakek yang memiliki 11 anak ini, hidup adalah tanggung jawab kita pada Sang Pencipta. Karena kelak akan ditanya, apa yang kita lakukan selama usia masih dikandung badan. Maka menjual hasil kebun sendiri dengan berjalan kaki pun dilakukan abah demi tanggung jawabnya pada Sang Pencipta. Kata-kata abah ini jleb banget buat saya. Usia yang nyaris menyentuh angka 80 pun tak pernah menjadi penghalang sekalipun anak dan cucu menghalanginya berjualan. Karena kata abah, berjualan itu artinya membantu menemukan kesukaan orang lain, dan itu adalah bagian dari ibadah. 
-
Ucapan rasa syukur tak pernah lepas dari bibirnya setiap kali saya membeli dagangannya. Dan tak berhenti sampai disitu, doa nan panjang pun keluar dari mulutnya. Saya tak mengerti banyak apa yang dimaksudkan kata per kata, karena terhalang dengan jumlah kosa kata bahasa sunda yang saya miliki. Namun saya tahu, bahwa kakek itu tengah bersyukur dalam doanya. Satu yang selalu membuat saya terenyuh adalah, saat saya menanyakan harga, selalu dijawab "terserah ibu mau beli dan ngasih berapa, abah ridho."
-
Dari 11 anak itu, hanya separuhnya yang sudah bekerja tetap, selebihnya buruh harian dan menganggur. Namun lagi-lagi abah bilang, "Allah itu selalu punya cara untuk membuat Abah bersyukur, neng. Berapa banyak coba yang ingin sekali punya anak, abah dikasih 11, cucu? sudah banyak, kadang abah salah manggil namanya."
-
Ah, abah, semakin kerdil saja diri ini. Tak secuil pun keluar kata-kata mengeluh dari mulut abah sepanjang saya mengenal abah. Terima kasih karena selalu hadir dengan pisang ranumnya. Bagai oase di padang tandus, sebait kata-kata abah selalu menyegarkan menjelang berbuka puasa. Semoga kita bertemu di jannah-Nya ya, bah.

  • Selasa, 22 Mei 2018

Artikel Terkait

30 Days Book Challenge
30 Days Book Challenge
Dasar pencuri !
Dasar pencuri !
Mari berpuisi prosais
Mari berpuisi prosais
Dan Aku pun Hidup
Dan Aku pun Hidup
Saat maut menjemput
Saat maut menjemput
Belajar Manajemen Komunitas
Belajar Manajemen Komunitas
Cara terbaik agar bisnis menjadi berkah
Cara terbaik agar bisnis menjadi berkah
Sistem Operasional Terpadu Online
Sistem Operasional Terpadu Online

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar