Belajar konsisten dan komitmen jilid 2

Saatnya saya belajar dengan ceu KOKOM.

Aiih, mohon maaf yang bernama serupa ya, itu hanya sebutan yang saya gunakan untuk reminder diri sendiri saat belajar untuk KOnsisten dan KOMitmen akan sesuatu. Jadilah saya menyebutnya dengan KOKOM. Kenapa pulak ada ceu nya? Ya karena lagi ada di Bogor, Jawa Barat, jadi aja tak panggil sekalian dengan sebutan ceu kokom. Sesederhana itu siih. 


Buat saya, menciptakan lingkungan mendukung atas apa yang akan saya rubah itu penting selain berubah dimulai dari diri sendiri. Yekaliii kita maksa orang untuk ikut ke perahu kita untuk berubah. Kalau punya tujuan yang sama sih bahagia banget, tapi kalau engga? ya minimal dimulai dari diri sendiri dulu dengan menciptakan lingkungan sendiri. Dan biasanya siih, dari apa yang kita mulai, orang akan lihat kok progresnya seperti apa. Kalau itu dirasa baik, maka orang lain akan ikut, baik secara terang-terangan atau pun secara diam-diam. 


Karena saya sedang belajar untuk konsisten dan komitmen pada diri sendiri, maka aturan main pun saya yang buat. Dan kali ini di minggu kedua, saya melanjutkan keseruan yang sudah saya mulai sejak minggu lalu. Apa lagi kalau bukan mengurangi jam online di WA dan facebook. 


Minggu lalu terasa berat, karena baru mulai, agak terkaget-kaget nih jempol. Rewardnya pun warna-warni. Tapi masuk minggu kedua, otot dan otak saya sudah mulai terbiasa. Waktu yang ada jadi jauh lebih banyak dimanfaatkan untuk hobi lama. Banyak nambah jam baca buku. Rumah makin kinclong dan glowing. Yang bikin bahagia, saya sudah mulai menemukan ritme kebutuhan jam online di facebook. Yup, facebook menjadi salah satu media bakulan buku saya selain di WA atau blog. Maka saya perlu atur jam kerja perharinya di facebook doang.  Awalnya saya pasang target sehari hanya 40 menit facebook-an di minggu pertama, dan ternyata masih kepanjangan waktu onlinenya. Minggu ini saya naikkan challenge menjadi 20 menit sehari. Terlalu pendek walau dalam beberapa hari saya berhasil. Setelah dicek grafik kebutuhan online di facebook, ternyata kebutuhan per hari saya itu rata-rata 30 menit. Di situ menyapa pelanggan, cek invoice, menjawab kepo’ers. Dan inilah grafik saya dalam waktu satu minggu kemarin.


img-1587023625.jpg


Grafik dua minggu ini bisa menjadi pijakan awal untuk merevisi puasa saya di minggu ketiga nanti. Khusus di urusan facebook saja.

Bagaimana untuk platform whatsapp? Uwow, ini prestasi luar biasa menurut saya. Saat bukan jam online, setting-an wifi di gawai, tak matikan. Tak  nyalakan saat jam online gawai. Itu pencapaian aduhai minggu ini. Saya banyak mendapatkan poin 3 untuk prosesnya.    Check this out, beb


Terkait jam online harian dan melihat progres minggu ini, bisa menjadi pijakan saya berikutnya untuk perbaian di minggu depan. Untuk menjadi habit baru, banyak penelitian dan diskusi para pakar tentang waktu yang dibutuhkan untuk menjadi kebiasaan baru. Penelitian awal menyebutkan butuh 21 hari agar menjadi habit baru. Namun penelitian tahun 2009 menyanggahnya dalam sebuah jurnal European Journal of Social Psychology yang ditulis oleh Phillippa Lally, seorang psikolog kesehatan di London. Di sana disebutkan bahwa rata-rata dibutuhkan 2 bulan sebelum perilaku itu menjadi kebiasan baru yang melekat, lebih tepatnya 66 hari.


img-1587023710.jpg


Jadi kebiasaan baru apa yang ingin Anda lakukan, mak?

Oia, belajar konsisten dan komitmen jilid 1 nya bisa dililhat di sini ya

jurnal minggu kedua tahap kepompong

Kategori
Komunitas Ibu Profesional

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar