Cara Asyik Belajar bersama Orang Lain
Minggu, 14 Juni 2020
azkail
Bagikan

Cara Asyik Belajar bersama Orang Lain

"Jika kau menginginkan sesuatu dalam hidupmu yang tak pernah kau punya. Kau harus melakukan sesuatu yang belum pernah kau lakukan." -JD Houson

---

Kutipan itu selalu terngiang dan menari-nari di kepala saya saat ada target yang ingin dicapai. Kadang ya, kalau tantangan untuk naik kelas itu datang pas berbarengan dengan PMS tuh bikin gemes deh. Kan jadi tambah ra karuan gitu rasanya. Apa lagi kalau bertepatan dengan proses belajar bersama orang lain untuk menaikkan kompetensi diri ke arah yang lebih baik lagi. Duh, itu beneran bisa emosi jiwa, bisa tetiba males dadakan muncul, kadang tuh ya plus BT menyerang negara pertahanan saya. Maka kutipan itu selalu saya tempel di pintu lemari dan wallpaper HP, mak. Biar jadi gebukan kasur buat saya saat PMS dan malas belajar mandiri atau dengan orang.


Bersyukur saat sedang menapaki perjalanan seru menuju mamak yang produktif menulis dan pepotoan, saya dipertemukan dengan program kelas bunda cekatan. Sebuah pembelajaran sarat makna yang difasilitasi, saatnya kami melepas beban yang mengganjal di hati selama melakukan proses mentorship di kelas. Saatnya beristirahat sebelum akhirnya nanti melompat lebih tinggi. Saatnya mengambil napas lebih teratur, melemaskan otot dan otak untuk melakukan sesuatu yang pernah saya tuliskan dalam mind map target 6 bulanan saya selama di kelas bunda cekatan. Dan kali ini di minggu ke empat, kami semua berhenti di pit stop. Memastikan kembali separuh perjalanan mentorship ini apa sudah sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Mendiskusikan kembali dengan mentor tercinta saya terkait time line yang telah saya buat. 


Ya, minggu lalu saya mengirimkan beberapa hasil jepretan sederhana saya kepada beliau. Belum terbiasa dengan ambil gambar melalui ponsel jadul markudul. Minggu lalu saya fokus belajar pencahayaan. Mencari spot di dalam rumah yang pencahayaannya bagus itu gampang-gampang susah, Esmeralda. Kudu pinter dan tahu di mana letak matahari masuk atau lampu rumah yang terang. Saya sadar diri ga punya peralatan perang pepotoan. Jadi saya harus mencari cara gimana mendapat pencahayaan yang bagus untuk hasil foto yang diinginkan. 


Mentor saya ini keren banget dalam fotografi. Keren dalam kacamata saya tuh, keterampilan yang saya butuhkan ada padanya. Hahaha. Karena keterampilan itu kan bisa dilatih, maka saya kudu mepet orang yang memiliki keterampilan yang saya butuhkan. Saya musti belajar sesuatu dari beliau nih. Jadi sebelum melamar untuk berguru, saya melakukan ini nih:


1. Cek kebutuhan 

Kebutuhan siapa? Ya kebutuhan saya sebagai mentee doong. Sebelum mencari seorang mentor, hal wajib yang paling mendasar adalah kita paham apa yang kita butuhkan. Saya menggaris bawahinya dengan kebutuhan yang penting dan mendesak. Kalau sudah penting dan mendesak, biasanya saya akan mudah fokus melakukan itu sampai saya menemukan perbedaan selama berproses. Mind map yang telah saya buat, membantu untuk tetap on the track. Bikinnya saat itu mikir pake banget, terniat, mak. Berusaha untuk fokus untuk melakukan apa yang dituliskan saat menuliskan sesuatu untuk dilakukan. 


2. Cari mentor yang sesuai

Nah, ini ngeri-ngeri seddep nih. Karena mentor di kelas bunda cekatan tuh sampai 1500-an dengarn ragam keahlian yang dimiliki. Apa lagi kalau mentor di dunia maya, bisa bikin kriting jempol untuk menemukan yang pas. Akhirnya saya menggunakan cara cepat dengan menscreening mentor yang ada di kelas. Saya masuk ke mesin pencarian  dengan menuliskan kata sesuai kebutuhan saya. Muncullah beberapa nama, alhamdulilahnya ga sampe puluhan saat itu. Saya buka satu per satu fokus keahliannya. Dan bertemulah saya dengan mentor baik hati dan tidak sombong ini. Saya stalking media sosialnya, dan waw, hasil jepretannya cakep-cakep untuk pengambilan gambar dan sejenisnya. Saya suka. 


3. Miliki rencana B

Alhamdulilah, saya menemukan mentor yang sesuai dengan kebutuhan saya. Kemampuan dan pengalamannya saya butuhkan untuk membantu mementori kemampuan saya yang cetek ini. Awalnya, sempat berpikir, bagaimana bila tidak menemukan mentor yang keahliannya ga sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Yup, saya sudah punya rencana B, yaitu saya tetap akan mencari mentor yang keahliannya mendekati salah satu mind map yang telah saya tulis. 


Itu persiapan perjalanan menemukan mentor yang saya butuhkan. 


Namanya mentorship itu adalah proses pendampingan dan berbagi pengalaman serta pengetahuan antara mentor dengan mentee. Kemampuan bertanya dan menggalinya seorang mentor diuji saat ia mendampingi mentee dalam berproses. Maka wajar, saat mentorship di awal bulan lalu, kami saling terbuka. Terbuka tentang level kemampuan mentor dan mentee. Jangan ditutup-tutupi karena akan berpengaruh selama mentorship nanti berjalan. Atau bahkan bisa jadi kita mungkin salah mengambil mentor karena berbeda fokus keahlian. Kedekatan sejak awal antar mentor mentee perlu dibangun agar ke depannya diskusi menjadi lebih asyik. Buat saya, respect adalah hal yang pertama yang harus dibangun di luar kemunikasi bersama mentor.


Kebetulan mentor saya ini sedang hamil muda. Maka yang awalnya kesepakatan ngobrol di siang hari, bisa jadi bergeser jam. Ga papa kok, selama ada komunikasi yang dibangun setiap harinya. Progres beberapa foto juga saya kirim ke mba mentor untuk diberikan feedback. Dan banyak sekali input pengalaman yang digambarkan saat itu. 


Kemampuan mba mentor satu ini bisa dilihat dari media sosialnya dalam pengambilan foto. Aiih, keren. Saya yang terbiasa menggunakan foto mas Azka atau bahkan mengambil dari laman gratis yang memang dibolehkan untuk disebarluaskan, akhirnya tergerak untuk belajar fotografi menggunakan ponsel yang ada.


Jadi, saat sudah bertemu mentor, pastikan lima hal asyik berikut ini ya mak:


1. Siapkan wadah kosong terbaik

Karena akan menyerap ilmu dan pengalamannya, maka menyiapkan hati dan pikiran terbaik akan memudahkan proses belajar bersama mentor. Setiap kita diciptakan dengan keunikan dan kelebihannya yang khas. Pasti akan menemukan juga kekhasan dari mentor yang nanti akan meneman kita belajar. Dengan bersiap bersama wadah kosong terbaik, artinya adab menuntut ilmu sudah mulai terbangun dalam diri kita. 


2. Respek

Ya, ini penting, menaruh rasa hormat pada orang lain saat kita belajar itu membawa ilmu dan pertemuan kita menjadi lebih berkah. Apapun yang akan kita lakukan nanti bersama mentor, dahulukan adab. Apapun tantangan yang dihadapi selama mentorship, mendahulukan adab salah satunya adalah dengan menghormatinya, insya allah banyak kemudahan datang. 


3. Pro Aktif

Sebagai mentee yang membutuhkan pendampingan dan belajar, pro aktif menjadi keharusan buat saya. Jangan menunggu disuapin kalau bisa makan sendiri. Kan kita sudah tahu apa kebutuhan belajar kita sendiri. Maka saat sudah mulai menemukan jalan, segera berbagi pengalaman itu pada mentor. Minta pendapatnya, ajukan pertanyaan penting yang ingin diketahui saat mendapatkan feedback langsung dari mentor.


4. Komunikatif

Jangan ragu jangan malu untuk mengatakan kalau aku tidak tahu. Orang yang mengakui dirinya tidak tahu, akan memudahkan orang lain untuk memberitahu akan sesuatu yang tidak diketahuinya itu. Akan lebih memudahkan lagi bagi mentor, kalau kita itu tahu kalau kita tidak tahu. Komunikasikan dengan baik bersama mentor agar kemampuan yang diharapkan itu meningkat sesuai apa yang dibutuhkan.


5. Berdoa dan saling mendoakan

Selama malakukan proses belajar, tak hanya diperlukan hubungan baik dengan manusia. Tapi juga dengan pencipta-Nya. Memperbaiki kedekatan hati dengan Yang Maha Memiliki akan dibukakan jalan kemudahan bagi kita untuk naik kelas. Allah mboten sare. Berdoa adalah bukti bahwa kita mahluk yang lemah, mahluk yang membutuhkan sesuatu. Maka perkuat pikiran dan hati kita dengan berdoa. Meminta agar ilmu, pengalaman dan silaturahminya tetap terjaga dalam islam. Berdoa agar keberkahan ilmu datang pada majlis ilmu yang sedang dilakukan menotr dan mentee. Jangan pernah lupa untuk saling mendoakan dalam diam. Saya selalu teringat dengan hadist Nabi SAW:


"Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengtahuan saudaranya itu, mustajab. Di atas kepalanya ada malaikan yang mencatatnya. Setiap kali orang itu mendoakan kebaikan untuknya, maka malaikan itu mengucapkan amiin (semoga Allah mengabulkan) dan untukmu juga seperti itu". HR Muslim


Jangan pernah ragu untuk melakukan lima hal sederhana di atas saat kita berproses dalam kebaikan. Apa lagi saat menuntut ilmu. Mendoakan kebaikan untuk orang lain tanp sepengetahuannya itu tidak mudah. Tapi tak ada salahnya untuk mencoba melakukannya bukan? 


Semoga keberkahan hadir dalam kehidupan kita semua ya. Dan saya bahagia berada dalam lingkungan kebaikan ini.

#jurnalkeempat #buncek1

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar