Cara Mencegah Masalah Kecil yang Mengganggu Hidup Kita
Jum'at, 05 Juni 2020
azkail
Bagikan

Cara Mencegah Masalah Kecil yang Mengganggu Hidup Kita

Jika tidak dapat melakukan hal yang besar di dunia ini. Lakukan hal kecil dengan rasa cinta dan peduli yang besar.


Pernah ga sih kita merasa jengkel, sebel dan BT terhadap seseorang?

Pernah merasakan kondisi yang terpuruk banget?

Atau merasa orang paling ga guna atau sengsara banget?

Atau mungkin pernah merasakan bahwa kenapa sih orang lain tuh ga ngertiin banget dengan kondisi kita gituuu?

Pernah merasakan keadaan yang kacau balau?

Atau pernah bergumam. “seharusnya aku melakukan itu sejak dulu biar ga seperti sekarang ini.”

---

Sebetulnya dalam kehidupan ini, ada banyak sekali masalah dan tantangan yang kita hadapi tiap waktu. Ga mungkin lempeng-lempeng aja yakan. Ga mungkin juga hidup tanpa ujian. Tinggal kadar ujiannya yang mungkin akan berbeda satu sama lain. Bisa jadi kita melihat orang lain itu kok bisa melewati ujian yang ada. Yang mungkin kalau kita berada di posisinya saat itu, kita bakalan oleng beruntun. Tapi percayalah bahwa kadar itu sudah ada ukurannya yang telah ditetapkan Allah SWT. Tinggal kita mau bergerak, mau berubah atau tidak saja. 


Nah, bicara soal masalah, tantangan atau ujian, buku keren satu ini juga memberikan dampak baik nih. Layak banget dibaca. Etapi sebelum ngomongin bukunya, saya mau cerita dikit.


Salah seorang youtuber sedang senang-senangnya membuat konten wawancara di channel youtubenya. Beliau selalu mengundang orang-orang hebat dan inspiratif. Obrolannya pun mulai dari hal yang ringan hingga berat dan yang bisa menginspirasi banyak orang. Hingga pada suatu saat, saya membaca salah satu komentar penontonnya agar youtuber itu tidak memotong pembicaraan sang tamu yang diwawancarai. Ya, kita yang nonton pun merasa ga nyaman bin ga asik kalau lagi enak-enak nyimak obrolan, tiba-tiba ada yang motong pembicaraan. Bisa dibayangkan kalau kita menjadi tamu yang diajak ngobrol itu gimana rasanya dipotong pembicaraannya. Terlihat sepele ya? ‘Hanya’ memotong pembicaraan.


Pernah merasakan seolah-olah pekerjaan itu tiada henti setiap detiknya? Tuntutan pekerjaan kantor dari menit ke menit. Selesai satu projek, lanjut ke projek berikutnya. Selesai nyuci baju anggota keluarga serumah lalu bisa dilanjut nyetrika beberapa baju diantara cucian itu. Belum selesai nyetrika, si balita ngamuk karena mainannya direbut kakaknya. Baru ngrasain nikmatnya selonjoran, tiba-tiba ada tamu.


Kalau kata Richard Carlson di buku Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar, jangan terobsesi  untuk menyelesaikan sesuatu karena kita tak akan mendapatkan kebahagiaan. Tetapi nikmati segera setiap apa yang Anda lakukan dalam setiap kegiatan itu. Intinya adalah segera ubah cara pandang kita terhadap sesuatu.


Buku setebal 234 halaman ini menarik dan enak untuk dibaca. Cocok buat proses pengembangan diri atau buat Anda yang butuh motivasi dan pencerahan. Buku aslinya berjudul Don’t sweat the small stuff...And It’s All Small Stuff. Simple Ways to Keep the Little Things from Taking Over Your Life ini best seller selama 101 minggu. Berhasil diterjemahkan ke dalam 30 bahasa. Walau Richard Carlson sekarang sudah tiada, buku yang ditulis Carlson masih menjadi salah satu buku yang paling banyak dicari dan dibaca loh. Pepatah bahwa bila kau ingin mengenal dunia, maka membacalah, namun bila kau ingin dikenal dunia, maka menulislah, ini terjadi pada Carlson. Sang penulis yang mengkhususkan diri pada genre tulisan pengembangan diri ini telah menulis kira-kira 20 judul buku. Buku yang saya baca ini, sebetulnya terbit di tahun 1997, udah luama banget. PT Gramedia Pustaka Utama baru mendapatkan lesensinya tahun 2019 lalu, dan saat buku yang saya beli, sudah masuk cetakan kedua di bulan Juni 2019.


Terjemahan bahasa Indonesianya sangat mudah dipahami. Enak dibaca. Ukuran bukunya juga termasuk mungil karena bisa saya buka dengan satu tangan saat tangan lain pegang stabilo. Warna cover yang kuning kunyit cukup menarik mata saat berada dijajaran buku-buku di rak buku. Kepiawaiannya dalam memilih diksi untuk judul cover buku, sepertinya menjadi salah satu jawaban mengapa buku ini masuk best seller di banyak negara.


Saat membaca halaman demi halaman, mata saya tidak lelah untuk melanjutkan dari satu pemikiran ke pemikiran lainnya. Carlson mengajak kita untuk melihat segala sesuatu dari sisi positifnya yang tentu saja akan membawa nilai kebaikan dan ketenangan hati. 


Kalau saja kita mengikuti banyak masukan dan saran yang diberikan Carlson, mungkin hubungan kita dengan orang lain akan menjadi lebih baik dan hati menjadi jauh lebih tenang. 


Ada 100 tema menarik terkait masalah yang sering muncul dalam kehidupan kita sehari-hari. Carlson piawai sekali mengunci dengan hikmah dalam 100 tema itu. Contoh-contoh yang saya sebutkan di atas itu adalah bagian dari isi bukunya. Bahasa yang lugas mampu menohok saya saat menemukan bahasan tantangan atau masalah yang ia tuliskan. Banyak hal sederhana yang menurut kita sepele bin remeh temeh dalam keseharian tapi ternyata mampu membuat hati kita makin keras, jadi ga sabaran dan sulit sekali percaya pada orang lain.


Contohnya nih, saat kita sebel dengan orang lain, Carlson mengingatkan agar kita harus melihat apa yang tersembunyi dibalik tingkah laku orang itu, lalu anggaplah orang lain itu tidak bersalah. karena pilihan untuk menjadi orang baik itu lebih baik dari pada menjadi orang yang benar.


Atau bila kita ragu-ragu siapa yang mendapatkan giliran membuang sampah, ya lakukan saja sendiri tugas itu. Ini sepele kan ya. Tapi kadang kita ga terima gituu, ada aja bisikan syaitonirrojiim yang meniupkan ke telinga kita, "kan kemaren aku udah buang sampah, masak sekarang aku lagi. nanti ke enakan lah dia."


Yang menarik dari 100 tema itu buat saya adalah untuk mengatakan satu hal baik pada satu orang setiap hari. Belajar melihat bahwa setiap orang itu hebat dan memiliki kelebihan yang khas. Dan akhirnya membuat kita terbuka akan kelebihan orang lain di mata kita.


Aah, maak. Baca deh buku ini. Bahasannya sederhana dan sering kita temui dalam sehari-hari. 


Saya teringat sebuah penelitian mengapa seorang ulama itu sebagian besar berusia diatas 70 tahun. Salah satu penyebab utamanya adalah ia selalu berhusnudzon (berprasangka baik) pada keadaan, pada orang lain lalu menyerahkan hal itu semua kepada Sang Pencipta. Sulit memang bagi kita yang mungkin belum mencapai tahap itu. Ah, tapi kan bisa kita contoh dan kita mulai biasakan sedikit demi sedikit agar mampu sampai pada tahap yang minimal mendekati itu. Karena sebetulnya, bukan persoalan karena tidak bisa, tapi mau atau tidak aja sih ya.


Baca buku ini bolak-balik ga akan bosen deh. Percaya sama saya, mak. Sudah tak buktikan.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar