Cara unik saat membantu sesama selama wabah

Kita bagaikan satu tubuh. Bila kelingking yang sakit, maka semua tubuh akan merasakan rasa sakit yang sama. 


Kulit wajahnya sudah mulai mengendur. Jemarinya memberi makna bahwa asam garam sudah banyak dilalui, keriputnya pun tak bisa ditutupi. Jilbab merah marun lusuh dan baju hijau usang, tak mampu menutupi semangat yang terpancar dari tubuh rentanya. Perempuan tua itu terus berjalan dengan sedikit terseok. Sebuah karung besar berisi botol bekas ia tarik hingga menimbulkan suara khas. Tak lama, karung besar itu disandarkan di pagar luar masjid. Ia merapihkan jilbab dan pakaiannya kemudian melangkah masuk ke halaman masjid. Sapu tangan lusuh dikeluarkannya dari kantong baju, dua lembar uang berwarna coklat yang sudah lusuh kemudian dimasukkan ke dalam kotak infaq di depan pintu masjid. Mulutnya tak berhenti bergerak, doa panjang ia bisikkan dengan mata tertutup. Masya allah. Aku dibuat malu siang itu. Berbagi tak menunggu kaya, karena kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati yang mau berbagi.


img-1587600142.jpg


Dua hari yang lalu, ramai media elektronik memberitakan seorang anak laki-laki usia SD yang memberikan seluruh tabungannya untuk dibelikan baju APD. Tabungan yang seyogyanya akan dibelikan sepeda impian, ia relakan untuk didonasikan kepada para dokter dan tenaga kesehatan di rumah sakit. Celengan hasil menyisihkan uang jajan selama 7 bulan, ia ikhlaskan untuk membantu para tenaga medis wabah covid-19. Tak ada yang menyuruhnya. Berita setiap hari akan kebutuhan mendesak baju APD bagi para medis lah yang menggerakkan hatinya untuk melepas apa yang telah ia kumpulkan selama ini. Karena berbagi tak melulu soal dewasa usia.

img-1587599794.jpg


Dilansir dari detik.com 18 Maret lalu, seorang ibu muda yang suka sekali memfermentasikan makanan, bercerita. Ia baru menyadari bahwa ternyata makanan yang telah ia fermentasikan itu sangat bermanfaat saat pemerintah melarang warganya untuk keluar rumah seperti saat ini. Tak semua toko makanan buka. Sehingga kesulitan mendapatkan makananpun mulai terasa di minggu-minggu masa karantina mandiri.  Wabah covid-19 telah merengut waktu berkumpul bersama keluarga dan teman-teman di apartemen itu. Banyak sekali para lanjut usia yang jauh dari sanak saudara yang tinggal di bangunan apartemen 11 lantai. Kemudian ia berinisiatif untuk membuat beberapa makanan fermentasi dalam jumlah banyak. Lalu dibagikan kepada mereka di apartemen tempatnya tinggal. Tak berhenti sampai di situ, ia mengumpulkan para orang tua dalam satu grup whatsapp. Ia memanfaatkan grup whatsapp untuk sekedar bertanya kabar, bercerita atau bahkan menginformasikan bahwa ia sudah meletakkan makanan yang difermentasikan di depan pintu apartemen mereka. Cara yang unik. kita semua tahu bahwa usia senja adaa saat dimana membutuhkan teman bicara. Aksi Ibu DilKilsby yang tinggal di kawasan St Kilda, Meulbourne ini disambut meriah oleh warga sekitar. Aksi serupapun dilakukan. Meletakkan makanan hingga tissu toilet di satu titik untuk dibagikan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang membutuhkan. Keren ya, aksi kecil yang menular kepada orang lain.

img-1587600946.jpg

https://news.detik.com/


sumber berita : suara.com 


Kategori
Tips Ketjeh

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar