Catatan Perjalanan Umroh
Sabtu, 20 Februari 2021
azkail
Bagikan

Catatan Perjalanan Umroh

Perjalanan umroh adalah pengalaman yang paling mengesankan sepanjang hidup


Sstt... sudah baca cerita saya sebelumnya di sini kan?

Jam menunjukkan pukul 2.30 pagi waktu Makkah. Musyrif kami, sudah selesai memberikan penjelasan terkait alur perjalanan ibadah dan hal teknis lainnya kepada seluruh anggota kelompok saya. Bismillah, satu per satu mulai naik bis ¾ yang akan mengantar jama’ah menuju halaman masjidil haram. Sebetulnya dari pelataran hotel tempat saya tinggal tuh deket banget, mak. Mungkin 150 meter lah. Hanya memang karena bagian depannya sedang dalam pembangunan, jadi dari pihak hotel menyediakan bis ukuran kecil untuk antar jemput para tamu Allah. Bis ini selalu stand by setiap 10 menit sekali yang siap menemani menuju masjidil haram dan atau kembali lagi ke hotel. Oke, kami semua sudah berada dalam bis ini. Bismillah


Seharian nyaris belum tidur. Eh tidur deng waktu di pesawat. Sejak berangkat dari Jakarta, saya memang sudah niat banget, istirahatnya full di pesawat. Karena sampe Jeddah nanti jelang tengah malam. Dan saat itulah saya tidak mau melewatkan sedikitpun untuk menikmati dan menyelami proses berangkat hingga sampai di masjidil haram. Dan benar saja, selama perjalanan darat dari Jeddah ke Makkah, kantuk hilang entah kemana. Nguap pun tak ada. Mungkin seluruh aliran darah saya sudah terpusat pada ibadah kali ini. Selama berada dalam bis, tak henti-hentinya berdzikir, bersyukur mendapatkan pengalaman luar biasa. Kita akan merasakan hal yang berbeda walaupun sudah berkali-kali datang ke kota ini. Selalu ada rasa mendalam yang kadang sulit untuk digambarkan. Terutama saat langkah kaki ini mulai mendekati masjidil haram. 


Perjalanan pun dimulai, kami masuk melalui pintu paling kiri dekat pintu King Abdul Aziz. Pintu no 91 kalau tidak salah. Bersebelahan dengan lift dan jalan menanjak menuju pelataran masjidil haram paling atas.


img-1613951384.jpg

Sumber foto : indonesianews.com


Persis depan pintu 91 ini, kami semua memasukkan sandal jepit ke dalam tas kecil yang sudah disiapkan masing-masing. Para asykar sudah siap mengecek bawaan seluruh jama’ah satu persatu. Hanya tas kecil saja yang diperbolehkan masuk ke dalam masjidil haram. Saya membawa ransel kecil atau backpack yang isinya sajadah panjang ringan, kaos kaki, tas kecil untuk menyimpan sandal jepit, tempat minum 600 ml, al quran, permen, biskuit, roti, sapu tangan, tissu, panties, koran bekas dan hp yang dimatikan. Masuk dari pintu no 91 itu agak sedikit berkelok untuk menuju titik ka’bahnya. Musyrif membawa kami ke jantung  masjidil haram, sebuah bangunan berbentuk kubus yang dilapisi kain hitam tebal yang selalu dirindukan.


img-1613951822.jpg

Sumber foto : https://pwmu.co/

Ka'bah nampak dikejauhan saat memasuki dari pintu king abdul aziz


Dari kejauhan sudah mulai tampak bangunan itu, air mata sudah tak terbendung lagi. Bayangkan, sepanjang hayat, kita -saya- hanya tahu wujud bangunan yang dirindukan itu hanya melalui televisi, internet atau buku. Namun saat ini, saya diberikan kesempatan untuk datang dan melihat langsung di depan mata. Kau tahu rasanya rindu berada di lingkungan terbaik ini, mak? Rindu berat setelah sekian purnama tak melihat, memandang, menyentuh dan bermunajat menghadapnya langsung? 


img-1613951543.jpg

dokumentasi pribadi

Foto ini saya abadikan jelang shalat isya di lantai paling atas. Hari itu adalah hari Jum’at, banyak sekali yang datang untuk melakukan ibadah umroh. Maka terlihat penuh sesak dari foto di atas. Berbeda sekali pemandangannya di hari-hari sebelumnya.


Thowaf


Selama melakukan thowaf, air mata tak kunjung berhenti. Mata ini seolah-olah ikut merasakan kebahagiaan dan keharuan yang sedang saya rasakan. Selama berkeliling tujuh kali, saya mengamati setiap sudut ka’bah. Kalau dulu ada garis coklat di lantai yang menandakan garisnya hajar aswad. Garis ini menandakan dimulainya perhitungan untuk berputar tujuh kali. Namun sekarang sudah jauh lebih mudah, karena persis segaris dengan hajar aswad itu ada lampu besar yang berada di tiang masjdil haram di sebelah kanan atas. Jadi ini sangat membantu saat jama’ah sedang penuh-penuhnya, kita cukup melihat ke kanan atas. Tidak lagi melihat ke lantai, yang justru bisa membahayakan jamaah karena harus menunduk beberapa saat. Padahal di belakang kita akan terus terdesak lautan jutaan manusia.


Saat itu saya belum siap untuk meringsek masuk ke lingkaran depan untuk mendekat ke hajar aswad. Tidak sekarang. Perlu kekuatan fisik yang prima, niat yang kuat dan strategi agar bisa mencium hajar aswad. Nyaris dua hari saya belum ketemu kasur yang bisa ngajakin badan ini rebahan. Maka saya ikut apa kata musyrif untuk tetap berada di lingkaran terluar saat thowaf.


Selesai thowaf, kami lanjut sholat dua raka’at. Persis dekat dengan ka’bah. Ada di pelataran ka’bah. Masya Allah. Biasanya kalau untuk sholat wajib, perempuan tidak diperkenankan sholat di area ini. Tapi karena saat itu masih jam tiga pagi, situasi pun masih lengang, kami berkesempatan untuk menunaikan sholat sunnah di area tersebut.


Ah… maak, shalat menghadap ka’bah tanpa penghalang dan dekaaat sekali dengan ka’bah itu rasanya luar biasa berkecamuk. Banyak-banyak memohon ampun dan memohon agar dimudahkan lagi untuk bisa datang ke kota suci ini adalah doa yang berkali-kali dimunajatkan.


Sa’i dari bukit Shofa ke bukit Marwah


Pagi itu udara tidak terlalu dingin tidak terlalu panas. Sama seperti cuaca di Indonesia. Tak lama kami mendekat ke arah bukit Shafa dan Marwa. Dan di sini saya pun mulai membayangkan bagaimana kala itu, Siti Hajjar yang berlarian dari bukit Shofa hingga bukit Marwa dan diabadikan dalam urutan ibadah.


Kalau sekarang kondisinya sudah sangat baik. Tidak panas cenderung sejuk suasananya. Setiap 100 meter, tersedia air zam-zam yang bisa langsung dikonsumsi kapan pun oleh seluruh jama’ah. Jarak antara Shofa dan Marwah itu sekitar 500 meter. jadi bayangkan kala itu, Siti Hajjar berlari-lari kecil demi mencari air untuk nabi Ismail AS yang sedang menangis. Panas terik, bebatuan, padang tandus pun tergambar di kepala saya selama berada di antara dua bukit itu. Mata saya sepertinya makin sembab.


img-1613966823.jpg

Doc. Pribadi

Ini adalah buku Shofa. Di bagian belakang kami itu masih teronggok batu-batu besarnya. Sudah bukan tanah tandus lagi, tapi sudah ebrganti dengan marmer nan sejuk


Di ujung bukit, bebatuan khas padang pasirnya masih diabadikan, sebagai penanda bahwa itulah puncak bukitnya. Dan di dua bukit ini saatnya menengadahkan tangan setinggi-tingginya sambil menghadap ke ka’bah. Memohon ampun, berdzikir dan berdoa sebanyak yang kita mau. Beberapa kali rombongan saya sudah berada jauh di depan, saya masih berada di atas bukit tapi di earphone yang saya gunakan masih terdengar, berarti ga terlalu jauh dari lokasi saya berdiri. Oke, saya matikan dulu earphonenya, saya ingin khusyuk berdoa di bukit ini. Selesai bermunajat, earphone saya nyalakan kembali dan mulai mendekat ke rombongan. Begitu seterusnya selama melakuka Sa’i. Hingga tibalah persiapan menjelang shalat subuh. Kami diijinkan untuk berpencar.


img-1613967622.jpg
Doc. Pribadi
Kondisi menjelang dhuhur, alhamdulilah kebagian shaf depan untuk wanita

Saat seperti ini lah saya langsung meringsek masuk ke pelataran bagian terdekat dekat ka’bah. Shaf terdepan untuk wanita. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 4 lewat. Para jamaah dari berbagai negara sudah mulai memadati pelataran masjidil haram. Masya Allah.


Sedikit tips dari saya bila ingin mendapatkan shaf paling depan di barisan wanita, mendekat ke pelataran ka’bah:


1. Datang dua atau tiga jam sebelum waktu sholat

2 Pastikan sudah ke toilet dan sudah berwudlu

3. Cek peta dan ingat-ingat pintu masuk masjidil haram untuk menghindari makin menjauhnya dari hotel tempat anda tinggal. Kalau datang berdua teman, pastikan saling menjaga barang 

4. Segera digelar sajadahnya memanjang, bukan melebar ya bila menemukan tempat yang diinginkan 

5. Langsung duduk di atas sajadah. Kalau ga gini, bisa diisi oleh jama’ah lain

6. Cek toilet dan tempat wudlu terdekat dengan Anda shalat nanti. Ini penting bagi anda yang mudah buang air


Shaf bagian depan untuk wanita biasanya paling cepat dipenuhi oleh para jama’ah. Bahkan banyak yang rela berhimpitan, sikut sikit kanan kiri agar bisa shalat di baris terdepan. Mengapa? Barisan ini bisa menghadap ka’bah tanpa terhalang apapun, mak. Udah mah meleleh kalau mendengar bacaan imam masjid, trus bisa menghadap ka’bah langsung tanpa terhalang apapun itu kenikmatan luar biasa. Kangen suasana seperti ini? Bangeet...


#bersambung


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar