Efek Baik Pandemi Covid

Sudah berapa bulan ya kita nyaris #dirumahaja? 10 bulan ada kali ya?
Ada kebiasaan baru apa yang terbentuk selama 10 bulan terakhir?
Ada yang ekstrim kah perubahannya? Atau biasa-biasa aja?
Ada pengalaman menarik apa selama #dirumahaja?


Nyaris setahun sudah kita bergelut dengan wabah corona. Virus yang membuat dunia aware bahwa corona itu memang ada. Setiap negara berlomba-lomba menciptakan vaksin sebagai bagian dari ikhtiar penekanan jumlah penderita. Kita mengenal virus flu ini sebagai virus yang mengerikan, mampu membawa pada kematian bagi banyak orang. Di awal masuknya corona ke Indonesia, kita hanya melihat si A, si B meninggal, entah siapa mereka. Makin ke sini virus itu seolah-olah berada di teras rumah kita. Satu persatu orang-orang yang kita kenal, ikut terpapar virus mematikan ini. Bahkan mungkin saudara atau keluarga inti kita pun sempat terpapar corona. Semoga Allah kuatkan, sehatkan kepada kita semua untuk melewati ujian ini, ya.


Dulu kita mengenal wabah SARS atau sindrom pernapasan akut di tahun 2003. Lalu di tahun 2005 masuk ke Indonesia  wabah virus flu burung. Saat wabah flu burung, masyarakat banyak yang beralih ke panganan lain selain unggas, termasuk saya yang memutuskan stop mengkonsumsi unggas. Saking khawatirnya dengan flu burung. Dan kini, sejak 2019 virus corona masuk ke Indonesia. Wabah yang betul-betul membuat aktivitas kita dibatasi dan terbatas demi memutus mata rantai penyebaran virus. Pemberitaan yang nyaris setiap hari membuat kita makin kalut hingga khawatir berlebihan. Waktu awal virus ini masuk ke Indonesia, betapa mahalnya harga satu kotak masker kesehatan. Sebelum wabah corona datang, harganya ga sampai 50.000. Lah kok pas awal-awal wabah ga hanya menjadi 300ribuan, barangnya langka. Saya sempat kesulitan untuk kirim masker ke mas Azka di Surabaya. Di mana-mana kosong stok maskernya. Akhirnya masker kain berlapis pun dikirim sebagai bagian dari ikhtiar untuk menjaga satu sama lain.


Makin ke sini kita makin ‘mahir’ mengelola dan mengontrol diri saat wabah datang. Banyak sekali perubahan yang terjadi selama pandemi. Berusaha melihat dari sisi baiknya, saya menyimpan dalam bentuk tulisan kali ini. Sebagai pengingat diri bahwa selalu ada pesan yang tersirat yang diselipkan selama wabah ini berlangsung. 


Pandemi membawa kita pada perubahan yang signifikan. Saya merasakan dan melihat sendiri orang-orang di sekeliling kita berubah. Berikut ini yang bisa saya catat perubahan apa yang ada di sekitar kita selama pandemi ini. 


1. Munculnya pilihan kelas online yang beragam

Ya, hesteg dirumahaja membuat banyak lembaga dan personal mau tak mau merubah cara berbagi dan melayani customernya. Dibatasinya ruang gerak hingga larangan kerumunan oleh pemerintah, membuat kebutuhan akan platform-platform online meningkat tajam. Bila sebelumnya kelas online hanya pilihan bagi yang terkendala jarak sangat jauh dari lokasi pembicara. Namun sekarang, mau rapat RT pun dilakukan secara online.


Tak ayal bagi lembaga pendidikan yang harus menggeser metode penyampaian ilmu kepada anak didik. Kelas online menjadi pilihan wajib. Pun bagi para penyelenggara atau Event Organizer menggelar hajat besarnya melalui online seperti live di media sosial . Pilihan-pilihan kelas online bertebaran di mana-mana. Mulai dari kelas memasak, parenting, olah raga, kesehatan semua tersedia di dunia maya. Tsunami informasi banyak masuk di whatsapp group hingga media sosial. Maka jurus menarik tapi tidak tertarik perlu dikedepankan agar kita tak tenggelam dalam lautan ilmu. Pilih yang sesuai dengan kebutuhan kita saat ini. Jangan dilapah semua yang datang. Kudu kuat iman, karena biasanya mereka akan menyajikan tema-tema menarik untuk mengajak peserta sebanyak-banyaknya.


2. Menu di meja makan bervariasi

Saking seringnya di rumah nih, semua file dan gambar yang pernah disimpan di media social, akhirnya bisa satu persatu dieksekusi. Waktu ‘luang’ selama ada dirumah, jauh lebih banyak dari pada biasanya. Seluruh anggota keluarga 24 jam nyaris ada di rumah, bolak balik buka kulkas, berkativitas, lalu laper lagi. Maka biasanya perubahan ini juga berpengaruh pada mamaknya. Jadi sering masak dan coba-caoba resep baru. Ups, sebetulnya bukan resep baru sih, resep lama yang belum pernah dieksekusi. 


3. Pola kesehatan dalam keseharian

Semenjak 3M digaungkan pemerintah, kemana-mana di tas kita selalu tersedia tisu basah, tisu kering, masker dan hand sanitizer. Dari mana-mana sudah mulai terbiasa dengan cuci tangan dengan sabun di air mengalir. Setelah pegang handle pintu d tempat umum, otomatis nyemprotin tangan dengan spray hand sanitizer. Tingkat kewaspadaan kita akan kebersihan meningkat tajam ‘berkat’ virus corona. Sudah tak segan lagi untuk saling mengingatkan agar selalu menggunakan masker dengan benar selama berada di ruang publik. Di mana-mana sudah bukan hal neh lagi kita melihat orang menggunakan masker kesehatan atau masker kain nan lucu. Tak hanya itu, tempat-tempat umum seperti restoran, bank dan sejenisnya, selalu melakukan disinfektan ruangan untuk memastikan kebersihan tetap terjaga. Semoga ini terus dilakukan ya.


4. Bermunculan ide bisnis kreatif

Walaupun ruang gerak kita terbatas dan dibatasi selama pandemi, namun bukan berarti tak ada inovasi kreatif dalam beraktivitas bukan? Selama pandemi ide-ide keren bermunculan di area bisnis. Sebut saja tutor olahraga dilakukan secara daring dari rumah masing-masing. Padahal sebelumnya menuntut kehadiran di gym. Banyak yang beralih menjadi youtuber. Memberikan tutorial ini itu tentang keseharian. Yang paling banyak terasa adalah munculnya ragam pilihan aplikasi bisnis penunjang rumah tangga. Kalau dulu hanya berbelanja online di e-commerce, namun saat ini, tukang sayur langgananpun sudah bergabung dalam sebuah jaringan aplikasi online. Tinggal pilih barang yang dibutuhkan dalam aplikasi tersebut, barang langsung diantar di hari yang sama. Pembayaran? Transfer atau bisa dibayar saat barang sampai di rumah. Ada juga jasa pijat keluarga yang bisa dipanggil ke rumah, jasa cuci mobil, jasa kebersihan rumah yang dihitung per jam plus bonus semprot cairan disinfektan. Semua on call. Kita hubungi, mereka datang sesuai yang kita butuhkan. Mudah bukan? 


Sebuah restoran di Malaysia selama pandemi mengalami penurunan omzet hingga 80%. Belum lagi adanya perpanjangan masa pengurangan pergerakan masyarakat. Sang pemilik harus memutar otak bagaimana caranya agar seluruh pegawai tidak ada yang dirumahkan. Maka ia  merubah cara pemesanan dan penyajian makanan. Pelanggan cukup memesan dari dalam mobil, petugas mencatat pesanan dari luar mobil dengan tetap melakukan protokol kesehatan. Makanan akan diantar ke mobil masing-masing. Uniknya, setiap pelanggan mendapatkan meja kecil layaknya di kursi pesawat. Dan betul saja bahwa ide ini muncul saat makan di dalam pesawat. 


Kondisi pandemi seperti ini banyak orang yang tak mengira. Banyak pegawai yang kemudian dirumahkan, restoran, toko banyak yang gulung tikar tak mampu membayar gaji pegawai. Namun live must go on, Allah mboten sare. Peluang kebaikan, solusi kreatif dan jalan keluar terbaik selalu mengiringi langkah kita selama kita bergerak dan percaya pada rezeki yang Allah siapkan. Semoga pandemi ini segera usai dan kita bisa kembali bergerak melaju.


Kategori
Cerita Emak

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar