Efek kartu elektronik


Sstt...pernah ga ngintip dompet emak? atau dompet Anda sendiri deh...coba dihitung, ada berapa kartu ATM, kartu belanja atau kartu member cobaaa...


Banyakan mana sama lembaran uang cash yang ada di dompet Anda?.


Yup...tanpa disadari, kita sudah bergeser pada kepraktisan bertransaksi loh. Mengapa demikian? Coba tengok lingkungan sekitar anda, mulai dari mini market hingga urusan sekolah, semua memberikan fasilitas transaksi non tunai juga. Jaadi, kalau bisa memanfaatkan kepraktisan, kenapa tidak mau memanfaatkan. Banyak sekali penawaran-penawaran aneka kartu plastik (mengutip kata emak) kepada calon nasabahnya. Mulai dari perang diskon dalam kebermanfaatannya, kemudahan pelayanan hingga model kartu ciamik karena bisa rikues foto kita terpampang cantik di kartu layaknya kartu pengenal. 


Belum lagi saat ini, pemerintah nyaris memuluskan untuk mengelektronikkan semua jenis transaksi. Yang paling hangat adalah di hampir setiap pintu tol sudah tidak menerima uang cash. Demi nama kemudahan dan kecepatan, nanti, tak ada lagi sapaan dan senyuman mbak-mbak cantik mas-mas ganteng yang ngasih kembalian uang tol. Mungkin suatu saat, tukang sayur yang suka lewat depan rumah, juga menyediakan alat gesek kartu elektronik kali ya. Sebenarnya, apapun jenis kartu elektronik yang Anda miliki, kunci penggunaannya hanya satu sih, mak. Hati-hati aja dalam memilih antara keinginan atau kebutuhan saat 'swipe' kartu pintar itu. Beda tipis loh antara keinginan dan kebutuhan.


Ada satu cerita bagaimana kartu pintar itu akhirnya memaksa ibu saya untuk merubah kebiasaan yang sudah melekat sepanjang zaman. 


Ibu saya yang termasuk 'orang dulu', seumur hidupnya baru 'percaya' dengan transaksi non tunai itu sekitar tiga tahun belakangan ini. Setiap mau melakukan transaksi non tunai, selalu ditolaknya dengan alasan khawatir uangnya tidak sampai ke si penerima. Kalau mau transfer uang, beliau selalu mengajak salah seorang dari kami, anak-anaknya, ke bank rekening penerima, membawa uang cash untuk setor tunai. Berkali-kali mba CS bank nya menjelaskan bahwa ibu tidak perlu datang ke bank, cukup transfer via ATM saja. Namun, berkali-kali juga ibu menolak dengan halus, keukeuh membawa uang cash ke bank rekening si penerima. 


Suatu hari, saat ibu jatuh sakit, beliau tidak bisa datang ke bank seperti biasanya, sehingga menyuruh adik laki-laki saya untuk pergi ke bank seperti yang dilakukannya setiap awal bulan. Uang ditransfer via mobile banking didepan mata ibu, diperlihatkan keterangan dana sudah terkirim dan langsung menghubungi si penerima. Begitu si penerima bilang dana sudah masuk, ibu juga belum percaya. Dikirimkannyalah foto bukti terima dana transferan ibu ke rekeningnya, baru ibu percaya. Semenjak kejadian itu, hingga saat ini, ibu sudah bisa bertransaksi perbankan, dan konsisten hanya mencoba transfer sejumlah dana, melalui ATM saja, belum mau melakukan kemudahan lainnya. Hehehe... Namun, suatu ketika, saya melihat dompet beliau, sudah ada beberapa kartu plastik menghiasi dompet pemberian saya. "Aaaah, ini cuma kartu belanja kok, bukan kartu ATM". 


Yaaa... ibu pun kena imbasnya kemajuan dan kemudahan dalam bertransaksi non tunai.

Bagaimana dengan Anda, mak?

  • Sabtu, 14 Oktober 2017

Artikel Terkait

Oleh-oleh kekinian kota Malang
Oleh-oleh kekinian kota Malang
Dan Aku pun Hidup
Dan Aku pun Hidup
Detik-Detik Rosulullah Wafat
Detik-Detik Rosulullah Wafat
Dasar pencuri !
Dasar pencuri !
Cara terbaik agar bisnis menjadi berkah
Cara terbaik agar bisnis menjadi berkah
Ternyata mati suri itu seperti ini rasanya
Ternyata mati suri itu seperti ini rasanya
Mari berpuisi prosais
Mari berpuisi prosais
Mari berkomunitas
Mari berkomunitas

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar