Film Pendidikan Yang Seru untuk Ditonton

Hidup itu bagaikan burung elang. Sejauh apapun ia terbang, pasti akan kembali ke tempat asalnya. -Henri Chen (Donnie Yen)


Aiih bener banget itu filosofi yang disampaikan Henri Chen di film Big Brother. Sejauh apapun kita pergi merantau, kembalilah ke tempat di mana kita berasal. Buat yang sudah pernah nonton Big Brother tentu tahu apa maksud kalimat di atas, dalem banget maknanya untuk alur film ini. Film yang sebetulnya sudah lama rilis di Indonesia, tepatnya di tanggal 31 Agustus tahun 2018. Saya suka alur cerita dan keseruannya, jadi sampai nonton beberapa kali. Mungkin sudah tiga atau empat kali saya nonton sejak rilis. Hahaha, terhitung sedikit ya? Kenapa bisa nonton sampe beberapa kali sih? Yaaa, lebih karena menarik aja gituu cara Henri Chen (Donnie Yen) menyampaikan pesan (delivery methode), mengenalkan pengalaman pada murid-muridnya selama ia menjadi guru. Ga cuma karena itu juga sih, kalau Donnie Yen sudah main, pasti keren dan ada adegan berkelahinya. Hahaha. Saya sukkaa. 


Film yang dibintangi oleh Donnie Yen, Kang Yu, Joe Chen, Tom Caserto ini berdurasi 111 menit dan masuk ke dalam genre action dan drama. Setelah nonton beberapa kali, menurut saya sih minimal anak SMP lah (15+) yang boleh nonton. Karena tak hanya banyak adegan berantem dan berdarah-darah ampe bonyok gitu, tapi juga ada adegan anak yang merokok, mencuri dan berencana bunuh diri. Sebelum saya bocorin halus tentang film ini, saya kenalin dulu ya pemeran utamanya, kali aja ada yang sama kayak saya, kenal wajah tapi ga tau namanya. Hahaha


img-1620384631.jpg

Donnie Yen

Gimana? Dah kenal saama pemeran utamanya? Iyesss, penggemar film kolosal dan film laga dan action tentu familiar dengan wajah Donnie Yen. Film IP Man 4 yang rilis tahun 2019 lalu menjadi film kung fu Donnie Yen terakhir yang akan ia mainkan karena faktor kesehatan dan ingin pensiun.


Okeh, kembali ke Big Brother


Film ini relate banget dengan kehidupan hingga saat ini. Masih ada sekolah-sekolah yang menggunakan cara lama dalam mendidik anak generasi Z yang kritis. Sistem pendidikan di kepemerintahan pun masuk dalam alur cerita. Mulai dari dipisahkannya anak-anak cerdas pintar akademis dengan anak-anak yang dicap nakal; sering nyletuk kalau guru sedang menjelaskan, sering bertanya saat pembelajaran berlangsung, anak yang ga bisa duduk manis diam berjam-jam, anak yang hidup di keluarga miskin hingga lahir dari keluarga broken home


Alur cerita dibuka dengan adegan delivery methode sang guru baru, Henri Chen (Donnie Yen) saat mengajar di hari pertama. Menggigit banget. DIbuka dengan cara unik yang bisa dilakukan guru saat mengajar anak 'pinter'. Kemudian berlanjut dengan alur mundur yaitu saat Henri Chen melamar ke sekolahnya dulu. Akhirnya berdasarkan bantuan dari kepala sekolah sebelumnya, ia diterima menjadi wali kelas. Kelas yang ia ampu terkenal dengan anak-anak bermasalah dengan latar belakang beragam dan enggan untuk belajar sebagai mana mestinya. Di sini petualangan sebagai guru pun dimulai.


img-1620435112.jpg

Sumber foto : netflix

Film ini banyak sekali menyentuh sisi personal setiap anak murid yang diajar. Dilatar belakangi sebuah sekolah SMA di kota Hongkong yang nyaris diminta tutup oleh pemerintah karena dari tahun ke tahun tidak berhasil memasukkan anak didiknya ke universitas. -Lagi-lagi akademis ya mak-. Banyak insight how to teach anak remaja baik dari sisi guru -sekolah, atau pun dari sisi orang tua.


Insight yang saya dapatkan selalu bertambah walau sudah beberapa kali nonton. Ada saja hal baru yang kadang terlewat di tontonan saya yang pertama atau kedua. Ini dia yang bisa saya ambil manfaatnya selama dan setelah menyaksikan film Big Brother.


1. Guru dituntut kreatif dalam mendidik anak

Di film ini digambarkan bagaimana cara guru saat itu mengajar di sebuah kelas, bagaimana cara mereka menyelesaikan setiap perasalahan remaja yang datang. Penggambaran dari dua sisi. Sisi kelas yang diisi anak-anak berprestasi, pintar dan akademis beres. Sisi lain digambarkan kelas anak-anak yang dicap nakal, bermasalah, sering tawuran dan masalah di luar sekolah dan sebagian besar berasal dari keluarga bermasalah. 


img-1620434584.jpg

Sumber foto : netflix

Melihat 20 menit pertama di film ini tuh berasa sedang berada di sekolah era saya dulu. Di mana ada kelas yang dibagi berdasarkan rangking raport. Kelas dengan abjad paling akhir biasanya berisi anak yang secara akademis ada di bawah. Diisi anak-anak gaul, kelas yang selalu heboh, berisik dan seru kalau menurut saya. Tapi itu duluuu ya mak, sekarang mah udah ga ada kayaknya.


Maka kemudian menjadi tantangan tersendiri ketika guru Chen diamanahi mengelola kelas yang 'tak dipandang' itu. Banyak cerita seru yang digambarkan tentang bagaimana mengajar anak di kelas. Ia mengetahui  kalau di kelasnya ada anak yang suka merokok sembunyi-sembunyi di sekolah. Saat masuk jam belajar di kelas, guru Chen dengan cara kreatifnya mengenalkan bahaya rokok bagi tubuh. Tonton deh saat guru Chen mengajarkan nalar berpikir pada anak muridnya dengan cara yang unik. (huhuuu... ga boleh spoiler yaaa)


img-1620434661.jpg


2. Kenali anak didikmu secara personal

Setiap kita memiliki latar belakang yang berbeda. yang dari latar belakang itu bisa mewarnai kehidupan kita dan lingkungan. Termasuk mempengaruhi anak saat mereka butuh seseorang yang dipercaya. Maka cara kreatif yang digunakan guru Chen untuk mengenal anak didiknya satu persatu, saya bilang keren. Butuh effort luar biasa untuk bisa mendekati remaja. Tergambar banget secara visual di sepanjang adegannya. Apa yang dilakukan? Cek latar belakang siswa didik, cek apa kelebihan dan mimpinya, bagaimana kondisi keluarganya. Lalu hadirlah sekalipun itu diluar jam belajar sekolah. Hadir sebagai teman yang asyik. Selanjutnya? Banyak adegan seru yang menghibur dan bikin saya mikir, iya juga ya, emang harusnya seperti itu caranya. 


img-1620435447.jpg

Sumber foto : cinema.com 

Latar belakang yang ada di film ini, saya rasa cukup mewakili beberapa kondisi yang ada saat ini, dan masih relate juga dengan kondisi sekarang. Ada anak yang ingin menjadi penyanyi tapi dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ia sukai demi mensukseskan cita-cita orang tuanya yang ga kesampean. Ada anak yang ingin menjadi pembalap yang terganjal karena selalu direndahkan oleh ayahnya, sering dibandingkan dengan kecerdasan sang adik. Ada anak cerdas yang berasal dari keluarga broken home. Kemudian berakibat pada rasa percaya diri yang luntur.


3. Peran dan kerja sama dengan orang tua dan pemerintah dalam mendidik anak

Ini bener banget, tergambar jelas bagaimana perlunya kerja sama sekolah dan orang tua dalam mendidik anak. Bila menemukan hambatan, komunikasikanlah. Ini yang jelas sekali tergambarkan selama film berlangsung. Sebagai orang tua, jangan 100 % melepaskan pendidikannya pada sekolah. Begitu juga sebaliknya, sekolah tetap harus bergandeng tangan demi mendidik anak.


Semuanya tak akan berjalan dengan sempurna bila pemerintah tak turun tangan dalam minimal membuat sistem yang berpihak pada anak didik. mau mendengarkan keluhan masyarakat, mau terlibat dalam kegiatan kelembagaan dan jangan hanya terpaku ada pola pendidikan lama. Bersedia diajak maju bersama meyesuaikan dan kekinian. Jangan abai, berdalih dan jangan 'tinggalkan' anak-anak bermasalah. "Kalau sebagai pedidik dan pemerintah saja sudah pasrah dan atau abai dengan anak-anak itu, bagaimana dengan anak-anak itu sendiri?"


4. Buka ruang bicara dengan anak

Yes, anak remaja itu ingin sekali diperhatikan. Bentuk perhatiannya bisa melalui obrolan, permainan, hadiah, kejutan atau sekedar hadir di saat terbaik mereka. Film ini banyak memberikan contoh kehidupan nyata remaja kita. bagaimana kekuatan ruang bicara itu mampu merubah banyak hal dalam kehidupan anak-anak. 


Tonton bareng guru-guru dan orang tua deh, saya kasih bintang 9 dari 10 untuk film ini. Layak banget disimak.

Kategori
Review Film Pendidikan

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar