Hadiah Inilah Yang Dibutuhkan di Kelas Bunda Cekatan


Tahap belajar kali ini di kelas bunda cekatan IIP menarik, seru. Pertengahan semester sudah dilalui. Saatnya meluruskan badan, bercengkrama dan berbagi kebahagiaan dengan orang yang kita inginkan. Setelah melakukan perjalanan selama tiga bulan, minggu lalu kami diminta untuk rehat dan merefleksikan sejenak atas apa yang telah direncanakan dan dilakukan. Setiap perjalanan itu perlu adanya pit stop untuk bernapas, tempat beristirahat sejenak, mengumpulkan kekuatan, merefleksikan apa yang telah dilakukan.


Dan keseruan pun berlanjut. Kali ini adalah setiap mahasiswa di kelas bunda cekatan, diminta mencari buddy, teman bercerita dan berbagi selama sepekan. Teman bercerita tentang proses belajar dan pencarian peta belajarnya selama ini. Berbagi kebahagiaan, keseruan selama mengikuti kelas buncek. Di mana letak serunya?


Dengan jumlah mahasiswa sebanyak 1700-an, kita harus mencari satu orang, kita lamar ia untuk menjadi buddy selama sepekan. Bayangkan bila satu orang dilamar beberapa orang atau mungkin ada yang belum dapat buddy sama sekali. Kemampuan mengkomunikasikan diasah kembali.  Mencari teman ngobrol pun diuji. Apakah kita hanya akan berteman dengan orang yang dikenal saja atau mau mencoba berteman dengan yang sama sekali belum dikenal? Mau sekedar bercerita demi menggugurkan tugas isi jurnal atau memang mau menjadi teman berbagi dari hati ke hati. Ini serunya.


Yang bikin tambah seru adalah saat semua orang mencari satu orang buddy, hanya saya yang belum bisa langsung dilamar menjadi buddy. #uhuyy Saya perlu membantu mahasiswa yang masih mau berjuang hingga tahap akhir, untuk mendapatkan buddynya selama seminggu kemarin. Kalau di hari terakhir (hari ini) ada yang belum dapat juga, maka saya lah buddy nya. Seru yekaan. Tetiba saya menjadi mak comblang dan membuka biro buddy. Bahagia loh bisa mempertemukan dua orang untuk saling berbagi kebahagiaan. Karena bahagianya itu menular ke saya, mak. Sederhana ya. Saya juga siap menjadi buddy mahasiwa lain yang sampai hari terakhir belum juga mendapatkan teman bercerita. 


Lalu bagaimana dengan saya? Hehehe. Saya memanfaatkan privilege sebagai co-fasil. Bila semua sudah mendapatkan buddynya, bu Septi Peni bersedia menjadi my buddy, uhuy yekaan. Maka yang saya lakukan adalah, membantu dan memastikan semua yang masih mau berjuang, untuk mendapatkan buddy, biar saya bisa melamar ibu. Hahaha. Kesempatan langka langsung dimentori ibu. 


Dan alhamdulilah, kesempatan itu datang. Yeaay. Jejingkrakan laah yaa

Kepiawaian ibu saat menggali dan berkomunikasi ga perlu diragukan lagi. Jam terbang ga bisa bohong. Bersyukur mendapat kesempatan dimentori langsung sama ibu. Belum apa-apa sudah muncul pertanyaan menggali yang bikin saya mikir muter sana sini. Hahaha. Tapi saya suka jadi bikin saya gerak untuk mencari solusi sendiri. Kemudian obrolan berbobot setengah harian di sela sibuknya ibu, ditutup dengan ‘patuhi apa yang direncanakan’. Gitu dah sederhananya. Pendek tapi dalem, nampol bolak balik. Mind map yang sudah saya buat makin clear dengan dorongan dan masukan dari ibu. Semoga Allah ridho dengan jalan ini. Semoga Allah mudahkan dan lancarkan. 


Daan ternyata jelang malam ada inboks dan WA masuk. Kak El dari Sumatra Utara belum mendapatkan buddy. Akhirnya, saya bersiap menjadi buddynya. Kak El bercerita bahwa ia telah berusaha melamar ke 13 orang, namun qodarullah, mereka yang dilamar sudah mendapatkan buddynya. Masya Allah yekaan semangatnya kak El tuuh. Kami saling bertukar cerita. Ternyata kami pernah bertemu sekejap waktu ada kegiatan Pandu 45 di Bogor yang  beliau hadir di situ. Di saat yang bersamaan, sulungnya sedang ikut acara yang bungsu saya menjadi fasilitator di kelompoknya. Sopo nyono. Obrolan jadi menarik, karena jadi lebih akrab. Minimal kalau saya mulak ke Medan, ada saudara lagi yang bisa dikunjungi. Stt.. kak El ini tinggal di kota Medan loh. Dan percayalah, tak ada yang serba kebetulan. Oia, inilah peta belajarnya kak El. Keren kan?


img-1583854984.jpg


Karena ada manajemen waktu di peta belajarnya kak El, maka  saya menyiapkan sedikit oleh-oleh semangat 45 yang pernah saya lakukan. Ini dia :


img-1583854893.jpg

Oia, ini link manajemen waktu yang pernah saya lakukan ; latihan konsisten 


Dan siang tadi, saya dapat kejutan lagi. Kak El mengirimkan sesuatu yang sangat saya suka. Mochi. Pantees kemaren minta alamat rumah, tak kira lagi ada di Bogor. Cerita sedikit ya. Waktu nak gadis saya menjadi fasilitator backpackerannya anak kak El ke Sukabumi, saya titip ke nak gadis untuk dibelikan mochi terkenal di sana. Lah, nak gadis  mager (MAles GERak) katanya. Mamaknya cuma dapet foto doang. Pupuslah sudah harapan saat itu sama si Mochi. Lah kok sekarang si mochi itu datang. Aiih, sejiwah kah kita wahaiy mochiiii, eh kaka. 


img-1583935849.jpg

Bayangkan, kalau secara virtual saja, bisa dapat banyak cerita yang tak bisa diwakilkan

dengan kata-kata, bagaimana bila Allah perkenankan kita untuk bersua?


Jurnal 8 tahap ulat-ulat

  • Selasa, 10 Maret 2020

Artikel Terkait

Belajar Bersama Kelas Bunda Sayang
Belajar Bersama Kelas Bunda Sayang
Belajar Manajemen Komunitas
Belajar Manajemen Komunitas
Gunakan Cara Ini Saat Malas Membaca Muncul
Gunakan Cara Ini Saat Malas Membaca Muncul
7 Stiker seru yang ngangenin saat jadi fasilitator
7 Stiker seru yang ngangenin saat jadi fasilitator
Serunya Konferensi Ibu Profesional
Serunya Konferensi Ibu Profesional
Keseruan Menarik di Kelas Bunda Sayang
Keseruan Menarik di Kelas Bunda Sayang
Kebahagiaan Lain Saat Menjadi Fasilitator Online
Kebahagiaan Lain Saat Menjadi Fasilitator Online
Apa Gaya Belajarku
Apa Gaya Belajarku

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar