Home / Artikel Kampung Batik Pekalongan

Kampung Batik Pekalongan

Kampung Batik Pekalongan

Wisata Edukasi

Jum'at, 19 Januari 2018

Mendengar kata batik, apa yang ada di pikiran Anda, Mak?
Canting? malam? Coklat? Rumit? Cantik? Jati diri bangsa?



Batik merupakan warisan budaya Indonesia. Sejak 2 Oktober 2009 batik telah dicatatkan di UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-bendawi (Masterpieces of The Oral and Intangible Heritage of Humanity). Batik di Indonesia ini sangat menarik, memiliki khas corak dan warna yang berbeda di setiap kota. Ini karena dipengaruhi dari budaya dan lingkungan pada masing-masing lokasi batik. Contoh untuk batik pesisir (Semarang, Demak, Pekalongan, Cirebon atau Lasem), biasanya banyak mengambil tema flora dan fauna. Burung, kupu-kupu dan aneka bunga banyak digunakan pada batik pesisir. Warna-warna batik pesisir pun diperkuat dari pengaruh luar. Pengaruh para penjajah dan pedagang yang masuk melalui jalur laut. Seperti warna-warna cerah yang bisa mendominasi batik pesisir. Tak hanya itu, keterampilan membatik biasanya diturunkan dari nenek moyang di keluarganya yang pembatik. Jadi sangat banyak ditemukan kampung batik di daerah tertentu. Sebetulnya batik di Indonesia sendiri memiliki sejarah yang amat sangat panjang. Baca saja link ini ya mak : https://id.wikipedia.org/wiki/Batik 


Zaman dahulu pekerjaan batik bagi kaum perempuan-perempuan jawa adalah sesuatu yang amat sangat ekslusif sebagai mata pencaharian. Sampai kemudian ditemukannya 'batik cap' yang akhirnya kaum laki-laki pun masuk di bidang ini. Nah, di kabupaten Pekalongan kecamatan Wiradesa, terdapat satu kampung batik Pekalongan yang sudah terkenal loh. Salah satu penggagasnya adalah bapak Ahmad Failasuf, seseorang yang memiliki mimpi yang kuat, ingin batik pekalongannya dipakai oleh presiden RI. Karena kalau sudah presiden yang menggunakannya, otomatis tak hanya mengangkat batik pekalongan sendiri, ekonomi kampung batik di daerahnya pun ikut meningkat.


"Sukses itu harus mau berproses. Dalam berproses itu harus kuat menggenggam mimpi. Tuliskan lalu tempel di tempat yang mudah terlihat.(A Failasuf)
Kalimat itu selalu menjadi bahan bakar saya saat ingin menggapai sesuatu. Kadang kita melupakan proses karena ingin mendapatkan sesuatu secara instan, cepat dan mudah. Namun dalam proses-lah sebetulnya kita mendapat banyak sekali pelajaran berharga yang seringnya tidak didapati di bangku sekolah. Mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dengan beliau itu kesempatan yang sangat langka. 30 menit tak akan terasa. Kalimat-kalimat sederhana namun dalam dan mengena itu nampol saya bolak balik, mak. Dan kalimat di atas-lah yang selalu terngiang di telinga.

Mendirikan padepokan pesisir seperti yang saya kunjungi awal Januari lalu memberikan gambaran, bahwa betapa proses itu tidak pernah bohong. Pak Failasuf mendirikan galery batik Pekalongan dan padepokan tempat belajar membatik di seberang rumahnya. Sepanjang jalan menuju padepokan terpampang tulisan sejarah batik di Indonesia hingga penjelasan apa itu batik pesisir Pekalongan. 

Kira-kira 20 meter dari jalan utama desa, di kanan jalan terdapat gapura khasnya jawa. Kami disambut oleh guide yang siap menjelaskan apa dan bagaimana proses batik itu terjadi. Mumpung yang lain baru sampai ujung jalan, saya menyempatkan diri berpose sejenak. Hihihi

.


Lokasi padepokannya terbagi menjadi dua bagian besar. Saat kita masuk halaman padepokan maka kita akan menemukan pendopo besar, biasa digunakan untuk duduk lesehan berdiskusi dengan pak Failasuf atau tempat beliau menerima tamu. Lahan sebelah kirinya terdapat dua  bangunan memanjang, kanan dan kiri. Kami diajak memasuki bangunan di kanan Pranggok pesisir terlebih dahulu. Dan wow, ternyata kami diperkenalkan dengan tahapan membatik. Karena sebagian besar bahan batik pak Failasuf adalah sutera, maka hari itu kami melihat langsung bagaimana proses batik tulis berbahan sutera.

img-1516374288.jpg
Serasa pulang ke rumah eyang. Dokumentasi pribadi

img-1516374393.jpg
Ruang diskusi terbuka, disuguhi pisang goreng hangat, obrolan makin asyik

img-1516349316.jpg
Di tengah bangunan memanjang itu terdapat tali yang dibentagkan guna menjemur kain batik.

Disini kami melihat seluruh rangkaian proses membuat batik mulai dari mencetak gambar atau pola batik, membatik menggunakan canting dan malam, melakukan pewarnaan, koreksian pola hingga pengerjaan batik cap. Wajar saja harga batik tulis itu sangat malah. Selain pengerjaan setiap lembarnya membutuhkan sekitar tiga bulan, detil pola dan pewarnaan yang menggunakan bahan alami sangat diperhatikan. Beda dengan batik cap, sekalipun dicap, tetap saja sulit mak. Karena pembatik harus betul-betul mencap persis dan mampu mengikuti pola yang sudah ada dengan betul dan persisi. salah satu kali cap, hilanglah satu lembar kain.  Dari semua pembatik hari itu, tak hanya ibu-ibu yang sudah berusia lanjut, namun generasi muda seusia saya pun larut dalam membatik.

img-1516350114.jpg
Proses mencetak pola di atas kain sutera


img-1516374661.jpg
Membatik sesuai pola

Kelihatannya mudah ya mak, 'hanya' menebalkan pada pola yang sudah ada. Tapi tahukah mak, bahwa kalau membuat agar malam atau cairan tidak mbleber tumpah itu butuh kecepatan dan ketepatan waktu? belum lagi kalau tidak terbiasa menirukan pola, yang ada malah menjadi rusak dan jelek dilihat. Angkat jempol untuk yang punya keterampilan membatik. 


img-1516375121.jpg
Quality Control

Saat terdapat kesalahan pola membatik, bapak ini bertugas memberikan tanda merah pada pola yang tidak tepat. Untuk kemudia diberikan kepada tim yang akan memperbaiki pola yang salah tadi. Keren loh bapak ini. Sudah hafal banyak motif. Jadi cukup sekali pandang saja beliau sudah faham mana yang tidak presisi mana yang tidak sesuai pola. Kalau mata saya yang lihat siiih, dah bagus kok, ga salah-salah banget. hehehe. Makanya saya ga bisa jadi QC nya para pembatik. 

img-1516375428.jpg
Kain yang telah melewati QC, diperbaiki, dikoreksi dengan cairan.

img-1516375548.jpg
Proses beberapa pewarnaan sedang dilakukan. 

Proses perwarnaan ini rumit lagi, mak. Bila ingin mencelupkan dengan warna kedua, maka warna pada pola pertama harus ditutup dengan malam. Agar warna kedua bisa mendapatkan warna yang diinginkan. Lalu dijemur atau diangin-anginkan, kemudian malam yang menutup warna pertama 'dibuka'. Pantas saja harga batik tulis itu mehong ya, mak. Ga cuma prosesnya yang lama, tapi bikinnya juga pakai hati.

Bersyukur sekali bisa melihat dan mendapatkan ide segar langsung dari maestronya. Tak hanya belajar dari bagaimana proses yang beliau lalui hingga saat ini, namun bagaimana membangun dan melibatkan masyarakat sekitar untuk kembali mencintai dan menghargai karya nenek moyang sampai menjadikan wilayah ini menjadi kampung batik, itulah yang tidak terbayar akan jauhnya perjalanan awal Januari lalu.

Lalu, apa yang sudah kita lakukan untuk perbaikan lingkungan terdekat kita ya?

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial