Home / Artikel Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kisah Sambung

Sabtu, 27 Mei 2017

“Ciciii...lambat kali, kau! Cepat sikiiit, ini kak Wulan perlu diobati. Kau lihat sini, lekas!”


Koh Wang terlihat panik dan bingung melihat darah yang mengalir dari lutut kananku.


“Iya, ini lagi ambil perban dulu di toko.”


Koh Wang pergi ke ruang belakang bersama Ah Cik. Entah apa yang mereka bicarakan, sesekali terdengar bahasa China bercampur bahasa Indonesia berlogat Sumatra. Sepertinya sesuatu yang serius. Mata mereka sesekali melihat ke arahku. Apa mereka sedang membicarakan aku ya?


“Kak Wulan, celananya bisa kakak gulung dulu kah? Jia mau bersihkan lukanya. Nanti kak Wulan pake celana Jia yang ini aja ya, punya kak Wulan ini udah kotor.”


Lembut sekali cara bicaranya. Kepanikanku mulai luntur saat Jia mengajakku berbicara.


“Darahnya banyak kali, kak. Pasti sakit ya...” kata Jia, anak sulung koh Wang sambil mulai membersihkan luka di lututku.


Wang Jia, putri sulung koh Wang, seorang perawat di rumah sakit pusat kota. Bila sedang tidak tugas, Jia pasti ada di toko menggantikan adik laik-lakinya, Wang Jung. Saat duduk berdekatan dan berbicara dengan Jia, rasanya seperti sedang berada di pinggir sungai yang jernih airnya. Tenang dan terasa nyaman. Jia sangat santun dan sabar dalam bertutur. Intonasi suaranya lembut sekali. Berbeda saat tadi aku duduk bersebelahan dengan koh Wang. Bila koh Wang berbicara, sangat berapi-api dengan intonasi tinggi. Dan aura itu menyebar cepat di sekitarnya. Aku ikut deg-degan, Ah Cik pun jadi tergesa-gesa mencarikan kursi untukku.


“Maafkan papah ya, kak. Papah memang kalau bicara menggunakan nada tinggi, hehehe. Terdengar seperti orang yang marah-marah. Biasanya intonasi itu muncul saat melihat orang yang disakitin dan terluka. Makanya, saya diminta papah jadi perawat, biar bisa bantu orang banyak katanya. Papa itu orangnya ga tegaan. Mudah banget bantu orang. Trus ya..., paling sebentar lagi, papa akan berdoa di sudut ruang itu untuk kesembuhan kakak. Coba aja nanti lihat ya.”


Panjang lebar Jia menceritakan tentang papanya padaku. Ya, semua yang diceritakannya memang betul demikian. Setelah berbicara dengan Ah cik, koh Wang terlihat khusyu’, ada seperti lidi kecil yang diapitkan di antara kedua telapak tangannya. Badannya pun menghadap semacam dupa kecil di sudut ruangan. Mulutnya komat-kamit seperti sedang meminta sesuatu sambil memejamkan mata, sesekali kepalanya diangguk-anggukkan berirama ke arah dupa.


“Wulan, kau jangan pulang dulu ya. Di sini saja kau. Khawatir orang-orang tadi akan kembali mengejarmu. Lagian sudah mulai gelap. Saya akan suruh orang untuk mengantarmu pulang nanti. Oia, mamaknya Jia juga sudah menyiapkan makan malam untukmu. Makan dulu ya. Jia, temani kakakmu makan ya.” Tiba-tiba koh Wang sudah ada di sampingku.


“Aduuh, kain kepalamu kotor kali, lah. Jia, kau punya kain panjang penutup kepala kan? Kasih lah itu untuk kak Wulan ya, ga baik pula nanti kalau dipakai sembahyang oleh kak Wulan, ini sudah masuk sembahyang ya, Wulan?.” Lanjutnya sambil melihat luka lututku yang sedang dibalut perban oleh Jia.


“Iya, koh. Sudah masuk waktu magrib. Kerudung ini masih bisa Wulan pake kok. Terima kasih, koh Wang sudah banyak membantu Wulan. Maaf jadi merepotkan.”


Ah, selama ini aku salah menilai koh Wang dan Jia. Aku sudah termakan omongan orang. Keluarga ini baik kok. Terlihat benar-benar tulus membantu. Memang kadang apa yang dibicarakan orang itu, tidak bisa dipercaya seluruhnya. Aku merasa bersalah, sudah mengira yang bukan-bukan tentang keluarga koh Wang Lei. Harusnya, aku mencari tahu dulu kebenaran informasi yang kuterima, jangan langsung ikut menyebarkan informasi yang belum tentu jelas sumber dan isinya. Aku jadi teringat ucapan mama saat ada kawanku menghina orang lain yang berbeda pendapat dengannya. Kita boleh saja berbeda, namun saling menghargai dan menghormati perbedaan, akan membawa kita pada jati diri kebaikan sejati yang sesungguhnya. Jangan menyakiti bila tak ingin disakiti. Karena berbeda itu pilihan. Keragaman itu berwarna. Hanya sikapmu yang bisa menyatukan.


“Koh Wang...kooooh, ada dimana? Jiaaa...papahmu manaaa?. Koh, kami hanya menemukan ini.” Teriak orang berperawakan kurus itu sambil mengangkat satu sepatu hitam.


Dua orang laki-laki datang secara tiba-tiba ke dalam ruang tamu koh Wang. Mereka masuk begitu saja ke ruangan itu sambil berusaha mengatur napas. Terlihat seperti baru berlari jauh.


Dan...oh lihat! Itu sepatunya kak Bintang ada di tangan orang itu. Sepatu pemberianku saat kami ulang tahun beberapa hari yang lalu. Sepatu hitam dengan inisial nama kami masing-masing tertulis di bagian belakang sepatu. Iya, betul!! Itu sepatu kak Bintang....


-bersambung-

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial