Home / Artikel Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kisah Sambung

Sabtu, 27 Mei 2017

Suasana rumah bilik ini menjadi gelap. Sangat gelap. Mataku yang terbuka lebar pun tak mampu melihat benda terdekat, apalagi melihat sekeliling ruangan ini. Aku terduduk di lantai tanah ruang tengah dan bersebalahan dengan mamak yang terus memegang telapak tangan kiriku. Dari cengkraman tangannya yang keras, aku tahu kalau saat ini mamak sangat bersiaga, khawatir dan takut, berkecamuk menjadi satu.


Langkah kaki itu kian mendekat ke rumah ini. Jelas sekali terdengar. Jantungku berdegup lebih cepat dibandingkan saat lari tadi. Tak sadar, tangan kananku pun akhirnya mencengkram erat ke tangan mamak. Berdoa tak henti-hentinya. Memohon perlindungan tiada habisnya.

Tiba-tiba terdengar seperti suara burung melengking dekat pintu. Derap langkah kaki itu pun hilang tak terdengar.


"Aah...kau Muslih, rupanya."


Tiba-tiba bapak tua itu bersuara pelan. Tak lama, terdengar mulai berjalan dalam gelap ke arah pintu depan.


"Nyalakan saja lampu itu, Lifen." Perintah bapak tua itu, entah pada siapa, tapi aku melihat mamak mulai menyalakan lampu teploknya.


Lifen, jadi nama mamak ini adalah Lifen. Nama yang terdengar aneh di telingaku. Seperti nama kebanyakan orang China yang tinggal di daerah tempat tinggalku dulu.


"Assalamualaikum, Abah." Laki-laki yang baru masuk tadi langsung meraih tangan bapak tua yang dipanggil abah itu dan menciumnya dengan hormat.


"Sudah buka puasa kah kau, Nak?" Tanya abah.


"Sudah, Abah, tadi di mushola depan bersama yang lain.


Mata bang Muslih langsung tertuju padaku. Raut wajah kaget dan heran, sangat terlihat.


"Iya, dia Bintang bukan Wulan. Dia akan tinggal bersama kami dulu di sini sampai situasinya membaik, bukan begitu nak Bintang?" Wajah teduh abah yang samar-samar kulihat dari sisi lampu templok membuatku kaget.


"Kau akan ditemani Lifen sementara waktu kau belum bertemu dengan Wulan. Kami sedang mencari tahu d imana Wulan saat ini berada." Jelas abah.


"Dari mana abah tahu kalau saya adalah Bintang?" Tanyaku.


Setiap orang yang melihat kami, baik sendiri ataupun sedang berdua dengan Wulan, nyaris tidak dapat membedakan mana Wulan mana Bintang. Ya, kami lahir sebagai kembar identik.


"Abah kenal dengan mu sejak kau baru lahir, Nak."


"Trus, kok Abah tahu juga dengan Wulan yang sempat terpisah denganku" tanyaku dalam hati.


Beribu pertanyaan masih menghantui pikiranku. Kepala ku pusing. Ingin rasanya memeluk dan mengadu pada ibu di saat-saat seperti ini. Bu, mereka orang baik. Aku dapat merasakannya. Selama di rumah mamak, aku sangat dilayani, sekalipun saat ini sedang bulan Ramadhan, mamak dan Bagas selalu siap melayaniku dengan sangat baik. Sarapan ku selalu tersedia walau dengan kondisi makanan yang terbatas dan ala kadarnya. Aku pun dilarang berpuasa oleh mamak melihat kondisi parahnya luka di kepalaku.


Bila ingat bulan Ramadhan, aku selalu teringat ibu. Aku ingin menangis, mengadu. Ya Allah, tiba-tiba saja pikiran ini dipenuhi oleh Wulan, wajah Wulan yang selalu ceria mulai menari di pikiranku. Wajah teduh ibu pun mulai berseliweran dalam kepalaku. Aku pusing.


"Mak, aku mau sholat, bisa tolong temani aku berwudlu kah, Mak?" Spontan aku meminta bantuan mamak menemaniku mengambil air wudlu.


Kata mamak, air pancuran dari mata air rumah ini ada di bagian sisi luar yang melewati lorong kecil. Lorong yang menghubungkan dua bangunan tua. Kanan kiri terlihat pintu kecil berderet layaknya kamar hunian. Ada sekitar empat deret pintu yang harus kulewati hingga sampai diujung lorong. Mata air itu mulai terdengar dari jarak 10 meter. Mata air yang hanya ditampung bak seukuran kira-kira satu kali dua meter saja, sudah tak mampu menampung derasnya kucuran mata air itu.


Kamar mandi ini hanya ditutupi oleh bilik bambu tanpa atap. Sambil menutup pintu bilik, aku menengadah ke atas, aneh rasanya bila kamar mandi tak beratap.


"Oh lihat, Mak, langitnya sangat bersih, bintang bermunculan, tak ada angin dingin yang berhembus. Aku tidak merasakan ketakutan lagi." Aku berbisik pada mamak yang menungguku di luar bilik ini.


***


Walau kepala ini sakit yang luar biasa, namun aku merasakan kedamaian, ketenangan berada di rumah ini. Sajadah pemberian mamak mulai ku bentangkan. Tangis dalam rindu yang membuncah mulai ku adukan pada Sang Pemilik jiwa dan ruh ku, Allah Sang Maha Baik.

Rangkaian doa dalam sujud kusampaikan. Betapa rindunya aku pada ibu, pada Wulan di saat-saat seperti ini. Sendiri dalam ramadhan.

Menangis, berderai hingga rokaat terakhir. Mataku lebam, bengkak. Suara ku mulai parau akibat sesaknya manahan tangis dalam sujudku. 


***


Matahari mulai mengintip dari sela-sela bilik ruang kamar ku. Sinar putihnya tidak menyilaukan mata. Sejuk. Tak berangin. Jendela kayu kubuka perlahan. Ya Allah, indah sekali pemandangannya. beberapa tanaman bunga ada di pelataran kamar ini. Persis menghadap jendela kayu berukuran rendah. Aku jadi teringat cerita ibu tentang indahnya pagi saat setelah lailatul qadr. Aku masih ingat isi hadis itu yang menggambarkan suasana pagi setelah lailatul qadr. Oh ya Robb, yang Maha Memiliki, semoga Engkau betul-betul telah mempertemukanku dengan malam seribu kebaikan.


"Bintang, bagaimana luka di kepalamu, Nak? Sudah membaikkah?" Suara mamak mengagetkanku.


"Nak, boleh Abah masuk ke dalam?" Itu suara Abah di luar kamarku.


"Oh, sudah jauh lebih baik, Mak. Iya Abah, silahkan, Abah." Jawabku.


"Nak, kau kenal dengan tas ini?" Abah langsung bertanya sambil memberikan tas hitam kepadaku.


Aku mengenali tas ini! Tas yang ku dapat dari Wulan saat berlari menghindar kejaran laki-laki bertato itu. Oh, tidak! Aku mulai mengeluarkan satu demi satu isi tasnya. Di mana benda itu? Dimana benda bulat dan kotak yang bergemerincing itu?. Aku mulai panik. Wulan memintaku untuk menjaga dua benda itu dan memberikannya di rumah hijau. Tapi benda itu sekarang tidak ada.


"Ada yang hilangkah, Nak?" tanya Abah.


Aku terdiam. Berusaha mengingat kejadian tempo hari. Ah...kepalaku pusing. Mataku mulai berkunang-kunang. Badanku pun lemas, tak bertenaga menopang tubuhku sendiri.


"Bintang...banguun, bangun, Nak, ada apa dengan kamu, Nak...Bintaaang..."


Suara mamak makin jauh terdengar, lalu tiba-tiba hening.


-bersambung-

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial