Home / Artikel Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kau Wulan dan Aku Bintang

Kisah Sambung

Sabtu, 27 Mei 2017

"Hei, jangan lari kau!"


Aku berlari melesat di kegelapan ramadhan, menerobos hiruk pikuk manusia yang sedang bercengkrama dengan keluarga di taman kota selepas tarawih. Aku menjauh, berusaha lepas dari kejaran kaki tangannya koh Wang.


"Kariim, tangkap dia, kau dari arah kios itu, cepaaat!"


Suara berat koh Wang masih terdengar di telinga ku. Aku makin mempercepat langkah kakiku, menjauh melesat melewati gang-gang sempit ini menuju rumah hijau. Ya, aku harus sampai di rumah hijau malam ini. Aku sudah janji dengan kak Bintang untuk bertemu di sana.


Aku hafal sekali daerah gang sempit ini, aku besar berdua dengan kak Bintang di sini. Setiap gang ada teman mainku hingga saat ini, jadi aku sangat mengenalnya. Di antara gang sempit, biasanya ada sela antar rumah sekitar setengah meter, Itu yang kujadikan tempat menghindar melesat berlari menjauh kejaran kaki tangan koh Wang.


Beberapa tikungan dan jalan tikus sudah terlewati. Mereka sudah kehilanganku, sesekali ku menoleh ke belakang, mereka lenyap hilang tak bersuara lagi. Aku berhasil mengecohnya. Yes!.


Ah...rumah hijau ini masih sama seperti bulan lalu saat aku dan kak Bintang ngobrol di sini tentang ibu dan keinginan kami untuk kembali ke kampung halaman ayah di Medan. Sudah 9 tahun kami berada diperantauan, demi menemukan ibu. Aku pun terduduk, lelah sangat setelah kabur dan lari dari rumah koh Wang. Sambil meluruskan kaki dan mengatur napas, aku terdiam sesaat. Betapa cepatnya Allah membolak-balikkan hati seseorang. Baru saja aku dikagetkan dengan perbuatan baik koh Wang padaku, namun hanya dalam semalam, bisa berubah 180 derajat.


Tanpa sengaja aku mendengar percakapan kaki tangannya koh Wang saat sahur kemarin. Mereka bercerita bahwa setelah matahari pagi ini, akan memindahkanku dengan paksa ke rumah kotak di kota sebelah, demi mendapatkan isi tas hitam itu. Kau tahu, rumah kotak yang mereka biarakan adalah gudang penyimpanan barang-barang koh Wang yang tidak memiliki jendela sama sekali, letaknya pun di tengah kebun bambu milik koh Wang. Firasatku mulai tak enak. Maka aku memutuskan kabur malam ini dari rumah koh wang.


Aku meraih ponsel kecil dari saku celana. Ponsel yang selama ini kumatikan agar hemat baterai pun ku hidupkan kembali. Semoga aku menemukan sms dari kak Bintang di inboks ini. Ah, tidak ada sms ataupun misscall. Bagaimana keadaan kak Bintang sekarang. Akhirnya kubuka galery ponsel. Melihat kembali kumpulan foto-fotoku dengan ibu, ayah dan kak Bintang saat masih berada di Medan.


Foto saat liburan ke Danau Toba merajai jumlah foto lain yang ada di galeri ponselku. Pikiranku melayang, terbawa suasana saat itu.


Perlu waktu sekitar 5 jam an untuk menuju Danau Toba dari tempat kelahiranku. Perjalanan sudah disetting ayah untuk melewati daerah-daerah wisata yang terkenal di Sumatera Utara. Jalan berkelok di tengah hutan tropis, sesekali kera liar lalu lalang atau sekedar bergelayutan di pohon pinggir jalan, masih kami temui.


Tak lama setelah melewati kelok hutan, di sepanjang jalan, mulai banyak kami temui tulisan B2 besar-besar, anjing berkeliaran bebas, inang-inang mengunyah sesuatu yang membuat bibir mereka terlihat merah. Tak hanya itu, mereka banyak yang mengggunakan tutup kepala dari kain ulos atau sarung yang dililit-tumpukkan di atas kepala mereka.


Melewati kampung Batak kemudian kami menemui kampung Jawa, yang mulai terlihat banyak beberapa masjid di pinggir jalan, anak-anak berpakaian koko dan sekolah islam terlihat jelas. Mereka hidup berdampingan, membaur menyatu. Luar biasa. Kampung bersambung dengan hutan, ketemu kampung lagi, begitu seterusnya. Sampai akhirnya kami berada di depan gardu pandang air terjun Sipiso-Piso. Air terjun yang di kelilingi hutan pinus ini begitu memanjakan mata. Betapa tidak, dari gardu pandang ini aku bisa melihat jelas keindahan lukisan alam. Jalan setapak menuju air terjun nampak kecil terlihat dari atas. Tak hanya itu, Pulau Samosir di ujung mata pun bisa kunikmati dari kejauhan.


Hari sudah siang, saatnya perut minta diisi. Ayah mengajak kami makan gurame segar yang baru dipancing, tepat dipinggir Danau Toba. Ada banyak pilihan restoran apung dan rumah makan yang berada di pinggir Danau Toba. Kami memilih yang bisa memancing sendiri lalu minta dibuatkan menu pilihan dari ikan yang kami tangkap. Sambil menikmati gurame segar yang dibakar, pemandangan kami tertuju pada indahnya Danau Toba dengan latar gunung-gunung yang menjulang.


Setelah makan siang, kami meluncur ke hotel persis pinggir Danau Toba. Jangan ditanya soal keindahan pemandangan menuju pinggir danau toba. Dijamin nagih dan selalu ingin kembali. Karena Danau Toba merupakan salah satu kekayaan Indonesia yang sudah diakui dunia akan kecantikannya. Objek wisata yang paling indah yang pernah kukunjungi bersama keluarga.


Tanpa terasa, air mata ini sudah tak terbendung lagi. Rasa rindu yang membuncah sudah tak kuasa tertahan. Membayangkan wajah kak Bintang, ibu dan ayah saat ini membuatku sesak di dada. Tangisku pun pecah.


-bersambung-

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial