Home / Artikel Kecerdasan Interpesonal

Kecerdasan Interpesonal

Kecerdasan Interpesonal

Parenting

Sabtu, 19 Agustus 2017

"Bund, hari ini aku mau ke rumah A ya, setelah dari sekolah. "
"Ada apa kok mendadak, de?"
"Ada yang mau dia ceritain ke aku, Bund. Kasian. Tapi ini rahasia. Jadi aku ga bisa ceritain ke bunda."
"Oh, oke. Jangan sore-sore ya pulangnya."

***

Pagi tadi aku mengizinkan cah ayu untuk pulang sore.  Semalam, aku tahu bahwa temannya itu telepon sambil menangis. Agak lama dan akhirnya cah ayu izin ke kamar untuk ngobrol di kamar via telepon saat kami sedang berkumpul di ruang tengah. Kejadian seperti ini sudah sering kami rasakan dan lihat sendiri pada cah ayu. Tak hanya sebagai pendengar dan problem solver bagi temannya, ia juga mampu mendamaikan teman-temannya yang sedang bersitegang. Sering kali mereka habiskan waktu bersama dengan bermalam di rumah kami. Saat SMP, nyaris setiap bulan ada saja yang menginap di rumah.  Sebagai oang tua tentu saja senang melihat anak gadisnya mampu bersosialisasi dengan rekan sebaya dan bisa menjadi teman untuk semua.  Pernah satu hari ia tidak masuk sekolah karena kurang sehat, dan di sore harinya, banyak teman sekolah yang menelpon atau sekedar bertanya kabar. Saat pertemuan orang tua dan guru pun, wali kelasnya juga menceritakan hal yang sama. Kemampuan cah ayu dalam berinteraksi dengan teman-temannya, membuat ia selalu ditunggu-tunggu kehadirannya.  Sehingga wajar buat kami, saat ia ditanya apa mimpinya 10 tahun ke depan, maka akan dengan mudah ia menjawab, aku mau jadi psikolog muslimah. Amiin. 


Kami banyak belajar dari cah ayu, bagaimana cara ia menyelesaikan masalah teman-temannya. Satu yang kami lihat, ia adalah seorang pendengar yang baik, ringan tangan (sesuai dengan namanya) dan mampu memelihara serta membangun komunikasi dengan teman-temannya. Bagi sebagian orang, menjadi pendengar yang baik tentu sulit sekali. Karena bisa jadi membutuhkan sikap 'monoton' saat berinteraksi dengan orang lain.  Namun ternyata kemampuan mendengar ini juga diimbangi dengan cara ia mengelola pertemanan yang di dalamnya ada emosi dan sebagainya. Sehingga ia tahu kapan saatnya mendengarkan kapan saatnya mengakhiri pembicaraan.  

Sebenarnya, kemampuan interpersonal ini sudah bisa dilihat dan dirasakan sejak kecil loh. Hal yang paling mudah adalah, dengan mengajak anak-anak ke keramaian seperti tempat bermain anak. Lihat bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain. Bila ia suka bertemu dengan orang baru, tidak canggung bila berkenalan, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, bisa jadi ia memiliki dan didukung dengan kemampuan interpersonal yang baik. Kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Atau keterampilan untuk merespon secara layak pada orang lain mengenai perasaan, sikap dan perilaku. Bahkan tidak menutup kemungkinan, ia pun memiliki kemampuan membangun dan mempertahankan interaksi itu dengan baik.


Bila ditilik ke belakang, ternyata, saat anak-anak kecil, kami sering melibatkan mereka untuk berinteraksi dengan orang banyak di keramaian dan mengenalkan ke banyak orang baru. Mungkin anak-anak juga merekam aktifitas kami, orang tuanya, yang banyak berhubungan dengan orang lbanyak. Rumah tak pernah sepi dari lalu lalang. Demikian juga rumah eyangnya. Maka bisa jadi, ini adalah 'penyebab utama' bila salah satu dari anak kami memiliki kemampuan interpersonal yang baik.


Saat ini kami sedang mendiskusikan projek SMA pertamanya, dan cah ayu mulai menuliskan pilihan-pilihan projeknya dalam sebuah projek plan. Yang bila kami lihat, ternyata tak jauh dari kecintaannya, yaitu antara buku dan interaksi dengan orang lain. Adalah menjadi tugas kita untuk menghantarkan mereka menemukan 'yes, this is my life'.

Karena, semua anak adalah bintang.

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial