Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir

Membaca judul bukunya saja sudah membuat saya tertarik untuk skimming isinya saat di toko buku. Lalu bergerak ke daftar isi, apa saja yang dibicarakan dalam blink yang best seller itu. Wah, menarik nih fakta yang disampaikan Malcolm Gladwell di buku ini. Banyak hal yang ia paparkan terkait apa dan mengapa blink bisa membuat kita berpikir tanpa berpikir.


Buku yang Gramedia terbitkan, sebetulnya buku terjemahan dari buku aslinya yang berjudul Blink, the power of thinking without thinking. Diterbitkan pertama kali oleh Gramedia tahun 2005 lalu dicetak ulang dengan tampilan cover buku yang lebih minimalis. Dan saya baru bisa memboyongnya ke perpustakaan azkail saat keluar di cetakan ke 22, Februari 2020 lalu. Sudah cetakan ke 22 cuy untuk di Indonesia aja. Mantab kali. Kemana aja ya ada buku bagus kok saya baru punya. Hahaha. Saya pinang buku ini tuh karena sering diskusi dengan nak sulung yang kadang butuh mikir dan kebetulan juga sedang butuh jawaban dari pertanyaan dalam sebuah diskusi di komunitas tentang berpikir. Saya baru ngeh kalau ternyata di perpustakaan azkail belum banyak yang mengupas tentang berpikir dan ondol-ondolnya ini. 


Blink pun menemani saya selama perjalanan kereta dari Jakarta menuju Yogyakarta. Namun sayang, baru sampai stasiun Cirebon, buku ini selesai saya coret-coret alias saya baca. Isi bahasannya menarik sehingga membuat saya terus ingin melanjutkan halaman demi halaman. Fakta yang dijabarkan detil mengapa kita ternyata memiliki kemampuan berpikir tanpa berpikir. Dan mengungkapkan bagaimana cara kerjanya. Namun karena ini buku terjemahan, ada beberapa bagian yang kadang perlu saya baca ulang, baca mundur atau skip dulu. Terjemahannya bikin jidat saya sedikit berkerut. Kalau mundur dikit, baru deh ketemu 'oh, itu toh maksudnya'. Beberapa fakta juga ada yang diceritakan ulang. Lebih karena untuk penguatan kembali apa yang dimaksud sang penulis sih. Dan bisa membantu mengingatkan kita tentang apa yang telah dibahas di bab sebelumnya.


Blink adalah buku mengenai dua detik pertama yang sangat menentukan ketika kita mengamati sesuatu. Dua detik yang memberikan pemahaman dalam sekejap mata, yang terbentuk berkat pilihan-pilihan yang muncul dari ‘komputer internal’ kita. Alias kemampuan bawah sadar. Kemampuan berpikir tanpa berpikir.


Gladwell mengungkapkan keajaiban snap judgment dan thin slicing yang menarik. Betapa seorang pakar seni terkenal bisa mengenali barang antik palsu dalam sekali melihat. Atau ahli cicip makanan yang mampu membedakan buatan pabrik mana dalam sekali gigit itu makanannya. Atau gelas mana yang berisi Pepsi dan coca cola dalam sekali sesap. Keren ya?


Di sisi lain, buku ini juga menceritakan bahayanya membuat kesimpulan cepat. Polisi bisa saja menembak mati seseorang yang tak bersalah, atau beberapa tahun yang lalu dalam sebuah pemilu, bisa saja salah dalam memilih calon presiden yang tampan tapi ternyata tak mampu bekerja. Fakta-fakta yang dihadirkan menarik. Membuka mata saya bahwa sebetulnya setiap kita memang memiliki kemampuan berpikir tanpa berpikir. Hanya saja seringnya kita tidak menyadari kemampuan itu. Bagi beberapa orang, justru kemampuan ini lah yang akhirnya diasah agar menjadi tajam dan bisa dibayar mahal karena kelebihannya itu.


Blink mengungkapkan bahwa orang yang pandai mengambil keputusan yang tepat bukanlah orang yang memproses paling banyak informasi atau sengaja menghabiskan waktu paling lama, bukan. Tapi orang yang telah melatih diri untuk menyempurnakan seni membuat thin slicing atau cuplikan tipis, yaitu menyaring sesedikit mungkin faktor terpenting dari sejumlah kemungkinan yang menggunung.


Nah, bagaimana cara melatihnya, saran saya, baca buku ini. Seru! Hanya 321 halaman kok.

Kategori
Review Buku lain-lain

Artikel Terkait

Komentar

  • ChikaDzikra Kamis, 05 Maret 2020

    Mak.. Ini mah bukan sinopsis buku!! 😭😭😭 Ini mah namanya ngabibita..

    • avatar
      Admin Jum'at, 06 Maret 2020

      hihihihi... ini artinya, kita perlu nge bakso bareng biar ga ngabibita

Tambahkan Komentar