Ketika Azka Ikut Kampus Merdeka Program Bangkit 2021

"Sekolah memang tempat untuk belajar, tapi belajar tidak harus di sekolah. Dunia dan seluruh isinya menyimpan banyak ilmu yang masih tersembunyi."


Cerita ini saya tuliskan untuk berbagi pengalaman saat mas Azka diterima di kampus merdeka program BANGKIT angkatan kedua (versi Google) di awal tahun ini. Semoga bisa menjadi bekal proses untuk semua teman-teman yang mungkin anak, ponakan, atau tetangganya juga mau ikutan kampus merdeka ya. Seru loh, kita juga ikutan belajar. Isi dalam tulisan ini sudah seijin mas Azka ya. Silahkan kalau mau dishare.

Siapkan kuaci dulu sak toples. karena tulisannya panjang kali lebar kali tinggi kali lima. hahaha

Merdeka Belajar

Kalau dulu kita hanya mengenal bahwa yang namanya belajar itu musti bawa buku, alat tulis, duduk manis di kursi dalam ruang kelas bangunan besar. Di depan berdiri seorang guru berkaca mata tebal sambil sesekali mengetuk-ketukkan penggarisnya ke meja guru.  Tangan kanannya memegang sebuah buku paket belajar, matanya terus mengawasi anak murid laksana elang yang ingin menerkam kapanpun terdengar suara berisik dari barisan bangku belakang. 


Ya Allaah, itu zaman saya dulu, maak. Hahaha. 


Tahun kapan dah itu yak. Yang jelas seperti itulah kondisi kelas saya dulu. Sst… belum lagi saat ada guru killer mau masuk kelas. Dari kejauhan, langkah kakinya aja sudah kedengeran. Entah kenapa ini telinga kok sensi banget kalau denger sepatu pantofelnya pak guru itu. Jarak 10 meter aja wangi parfumnya atau wangi minyak rambut merk tancho pun sudah kecium. (cuma orang-orang keren aja yang tau kek gimana itu wangi khasnya tancho. hahaha). Seketika kelas mulai hening. Mantab banget kan itu pak guru bisa bikin kelas pasar menjadi kelas kuburan. Hahaha. Tegang di sana-sini.


Tapi lihatlah sekarang. Anak dan mamak bisa belajar mandiri. Belajar dengan siapa saja, di mana saja dan kapan pun mereka butuh. Semua sudah tersedia di alam dan lingkungan sekitar. Mau belajar apa sih? Sok lah cari di internet. Semua tema dan materi tersaji luas terbuka. Mau yang offline dengan mencari informasinya via online pun bisa bangeet. Mau datang langsung bertatap muka dengan sang guru atau via dunia maya, semua bisa menjadi pilihan. 


Pernah denger tentang Merdeka Belajar kan mak? 


Itu loh proses belajar yang digaungkan sama mas menteri pendidikan, Nadiem Makarim. Slogan tersebut dipinjam dari sekolah cikal sebagai program kementerian pendidikan yang baru. Diawali dari proses guru saat memberikan kesempatan dan ruang belajar seluas-luasnya bagi siswa untuk lebih ‘merdeka’ dalam belajar. Tak melulu dalam ruang kelas, tak hanya pembelajaran yang bersifat transfer knowledge semata, namun juga aplikatif dan mampu menunjukkan karakter siswa. Mampu melatih siswa untuk berpikir lebih terbuka serta kritis terhadap sesuatu. Saat anak diberikan ruang belajar seluas-luasnya, diharapkan mampu memancing rasa ingin tahu yang besar yang kemudian bisa didiskusikan bersama guru di sekolah.


Termasuk saat itu ramai akan ditiadakannya Ujian Negara bagi siswa level SD, SMP dan SMA. Diganti dengan penilaian komprehensif dan penanaman karakter pada siswa. Ailsa bungsu saya, jadi angkatan pertama nih saat SMA yang tidak ada ujian negara. Dia sih seneng-seneng aja ga stress mikirin beberapa mapel murni.

Ada Apa Dengan Merdeka Belajar Sih?


Awalnya saya hanya tahu tentang kampus merdeka, bukan merdeka belajar. Hahaha. Saya tahu sekitar tiga tahun yang lalu saat sulung masuk ITS (Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya). Kami berdiskusi dan membayangkan kira-kira apa yang akan dilakukan pemerintah tentang kampus merdeka itu ya.


Apakah betul bahwa jurusan A bisa ikut kuliah jurusan B di kampus lain atau kampus yang sama dengan yang sekarang diambil?

Apakah ada batasan jurusan yang boleh ikut andil dalam kampus merdeka?

Berapa SKS yang akan dikonversi nanti ya?

Sudah siapkah perangkat dan pendidiknya terkait perubahan dalam kampus merdeka nanti?


Kalau denger dari ceritanya mas Azka, dia nunggu-nunggu banget adanya kampus merdeka ini. Karena menurutnya, selain bisa menambah pengalaman baru, mahasiswa yang akan mengikuti kampus merdeka nanti tentu akan mendapatkan gambaran, support lingkungan dan area belajar yang jangkauannya lebih luas dari jurusan yang diambil saat ini. Misalnya saja jurusan matematika diperkenankan ikut kampus merdeka dan mengambil jurusan ilmu komputer atau sistem informatika. Jurusan Tata Boga bisa ikut kuliah di jurusan Manajemen. Yekalii kan mau buka restoran dia, jadi ga cuma harus bisa masak tapi juga kudu ngarti manajemennya. Biar ga kena tiu-tipu yang punya modal.


Menarik. Tapi saat itu belum ada informasi apapun dari kampus atau laman di pendidikan tinggi. Tapi sudah bagus banget sebagai langkah awal pemerintah siap terbuka dalam sistem pendidikan. Program ini ditunggu-tunggu banget sama mas Azka. Karena tentu saja akan meluaskan banyak hal. Bayangkan saja kalau kita suka dengan jurusan tertentu dan ternyata terbuka kesempatan untuk mempelajari jurusan yang beririsan dengan jurusan yang kita sukai. Apa ga makin dalam tuh kesempatan belajar dan pengalamannya.

Apa itu kampus merdeka


img-1625474595.jpg


Kampus merdeka merupakan program pemerintah yang digulirkan untuk memberikan ruang belajar terbuka bagi para mahasiswa. Salah satu program di Kampus Merdekanya bernama program BANGKIT (Bangun Kualitas Manusia Indonesia). Program bangkit ini sebetulnya dirancang pertama kali oleh perusahaan Google tahun 2020 lalu untuk mengenalkan kepada para mahasiswa tentang pembelajaran dan karir di dunia teknologi kekinian yang aplikatif. Google membuka kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti semacam short course selama enam bulan di Google tentang beberapa jurusan teknologi, yang tentunya nanti mahasiswa terbaiknya memiliki kesempatan untuk bisa bergabung dan magang langsung di perusahaan raksasa itu. 


Kemudian, sejalan dengan program pemerintah tentang Kampus Merdeka, mas Mentri menantang Google untuk membuka cakupannya lebih luas lagi di tahun 2021 ini. Bila tahun pertama di 2020, program Bangkit hanya menerima 300 mahasiswa akhirnya tahun 2021 Google menerima tantangan dengan memberikan kesempatan kepada 3000 mahasiswa yang tersebar di 500 universitas di Indonesia untuk bergabung. Pendaftaran program yang dibuka bulan 8 Januari 2021 lalu ini ternyata sangat diminati mahasiswa. Terbukti dengan membludaknya pendaftar sebanyak 28.000-an mahasiswa. Yang diterima hanya 3000 saja. Uwow yekaan mak.  Fokus penawaran jurusannya tak jauh dari teknologi. Pengembangan android dan komputasi cloud system. Dan tahun ini pun dibuka tiga learning Path yang bisa dipilih. Yaitu Machine Learning, Mobile Development dan Cloud Computing. Masing-masing jurusan hanya terdiri dari 1000 mahasiswa saja.


Bila tahun lalu terdiri dari 70 mentor dan fasilitator, tahun ini terdiri dari 300 mentor dan fasilitator. Ya iyalaaah, lah wong nerima mahasiswanya aja 100% nya tahun lalu. 


Program Google ini bersinergi dengan Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, GoJek, Tokopedia, Traveloka dan Standford University melalui program University Innovation Fellow, di mana peserta terbaiknya akan mendapatkan kesempatan untuk magang dan belajar di sana. Tahun ini ada 15 universitas dan institut yang bekerja sama mensukseskan program kampus merdeka. ITS salah satunya. 


Apa sih manfaatnya ikut program bangkit?

Kalau diceritain sama mas Azka tentang manfaatnya, binar matanya itu tuh, nulari ke saya. Ikut seneng karena tak mengira akan mendapatkan pengalaman dan pembelajaran luar biasa untuk kebutuhannya. Sedikit cerita, sekalipun mas Azka mengambil jurusan yang disukainya, yaitu jurusan statistik di ITS, ia juga seneng banget ngulik teknologi. Dan saya ga bisa ngimbangi kalau mas Azka sudah ngajak ngobrol tentang ini. Saya musti menambah bacaan dan membuka ruang diskusi dengan adik dan teman-teman yang mengerti tentang teknologi kekinian. Alhamdulilah, Allah kasih banyak kesempatan saat orang tua ga ngarti, tapi anaknya bisa menemukan lingkungan yang dibutuhkan. orang tua banyak-banyak doa dan full supporting ke anak. Ye gaaa?. Alhamdulilah kemudian ketambahan berhasil masuk dalam program BANGKIT ini. Memang betul dah,


kalau murid siap tuh, guru pasti dateng


Jadi, apa sih manfaatnya ikut Program BANGKIT atau Kampus Merdeka ini :


1. Meluaskan cakrawala ilmu, pengalaman, daya pikir, leadership, enterpreunership

2. Praktek dan diskusi langsung dengan para pakar dan praktisinya langsung

3. Dibimbing langsung oleh mentor dalam grup kecil saat membuat projek

4. Konversi pembelajaran hingga 20 SKS (tergantung masing-masing kampus)

5. Dapat sertifikasi Google standar global. Yaitu Associate Cloud Engineer-Associate Android Developer dan Tensortflow Certification

6. Berpeluang raih karir di bidang teknologi saat Career Fair setelah lulus program BANGKIT

7. Berkesempatan ikut Fellowship ke Standford University


Gimana...gimana...gimana... apa ga kemudian beneran menular itu binar matanya mas Azka ke mamaknya.


Bagaimana mas Azka bisa ikut di Program Bangkit, Kampus Merdeka

Jaadi ceritanya, awal Januari 2021 lalu, muncullah informasi di kampusnya tentang program BANGKIT. Lalu mas Azka langsung info bahwa dia lagi mempersiapkan berkas portfolionya untuk ikutan daftar Program BANGKIT ini. Lalu mas Azka cerita plus minusnya secara SKS dan pembagian waktu kuliahnya kalau ambil dan ikut BANGKIT. Saat itu, semua kampus belum memutuskan berapa SKS yang bisa dikonversi kalau mahasiswanya ikut BANGKIT. 

Kami hanya mendorong apa yang memang dibutuhkan dan diinginkan mas Azka saat itu. Dan ia pun memang memutuskan untuk ikut.

Daftarlah ya ke Bangkit Ini

Kalau mau tahu banyak apa dan bagaimana Kampus Merdeka itu, intip aja informasinya di kampusmerdeka.kemdikbud.go.id


Karena ITS menjadi salah satu kampus rekanan program BANGKIT, maka ada satu dosen pembimbing yang diamanahi untuk mengurus, mendampingi seluruh mahasiswa dari berbagai jurusan di ITS, yang ikut mendaftar. Mereka dimasukkan ke dalam satu WAG untuk koordinasi teknis dan sebagainya. Mas Azka selalu up date ke kami progresnya seperti apa. Bahkan kita nyimak dan nonton bareng saat ada sosialisasi dari ITS tentang program BANGKIT ini. Beres itu biasanya langsung ngobrol ono ini gitu.


Yang saya amati, di ITS sendiri sudah mulai tertata terkait konversi, alur informasi dan ondol-ondol pengadministrasiannya. Mungkin karena rekanan program BANGKIT dan ada dosen pendampingnya juga ya. Hanya mungkin di awal, terkait berapa SKS nya yang bisa dikonversi dan mata kuliah apa yang mengkonversinya itu yang proses diskusinya perlu beberapa kali gitu. Karena kalau denger cerita mas Azka, ada teman-temannya yang belum terfasilitasi kampusnya, jadi betul-betul ngurus semuanya secara mandiri. Bahkan ada dosennya yang tidak tahu alur informasinya seperti apa. Padahal mahasiswanya sudah datang membawa berkas plus informasi lengkap. Sedih aja gitu, mahasiswanya udah semangat, tapi kampusnya belum siap.

Apa Aja tesnya?

Tesnya 'cuma' tiga siih, tapi bikin saya laper. Hahaha.

1. Matematika dan pemrograman

2. Kepribadian dan pola pikir

3. Persetujuan Universitas

Semua dilakukan online dan berbahasa Inggris. Saya mules ndadak dangdut kayaknya pas mau masuk tes pertama. Hahaha.


Ada Cerita Unik Selama Ikut Program Bangkit, Ga ?

Banyak banget cerita serunya. Apalagi kalau yang versi mamaknya. Apa aja emaaang? 

1. Bisa ikut belajar bareng

Whaat? Belajar bareng gimana maksudnya? Iyesss, belajar bareng. Karena tahun ini koronce alias covid meratu meraja lela di mana-mana. Maka perkuliahan BANGKIT semua dilakukan online. Bekerja sama dengan coursera. org, sebagian besar materi ada di situ. Setiap mahasiswa diberikan aksesnya free (biasanya kalau ikut materi itu bayar jut-jut untuk dapetin sertifikat profesionalnya, ini gretong).

Semua berupa video dan langsung praktek mandiri. Jadi bisa dipelajari kapan dan dimana saja. Tetap ada target selesainya berapa hari gitu untuk satu materi. Gimana kalau kagak ngarti? Tenaang, setiap mahasiswa ada pendampingannya oleh satu mentor kok.

Ada juga yang memang jadual kuliah online rutin, tatap muka online dengan mentor dan praktisi. Kalau beruntung, bisa dimentori sama pentolan unicorn, decacorn atau management googlenya langsung. Mas Azka pernah dapet yang langsung dari Googlenya yang pegang Machine Learningnya. Jangan tanya namanya ya mak. Hahaha. Nah, saat kuliah online inilah, yang kadang, saya bisa ikutin denger para praktisi hebat berbagi pengalaman. 

Tapi, lama kelamaan, saya nyerah, mak. Beneran deh. Karena semua penjelasan, diskusi bahkan sampe obrolan recehannya pake bahasa Inggris. Hahaha. Ganti kopling bahasa saya agak lambreta kalau diajak lari. Masih mesin tua belum di upgrade. Padahal itu semua mahasiswanya orang Indonesia dan separuh fasilitatornya pun orang Indonesia. Duuh, dasar mamak-mamak yekaan, ngartinye pake bahasa kalbu aje.

img-1625476024.jpg

2. Jam biologis saya berubah

Kalau sebelumnya saya sudah mulai mengurangi jadi BurHan alias Burung Hantu atau ngerjain tulisan sampe nyaris tengah malam. Saat mas Azka ikut BANGKIT, saya jadi ikut 'bangkit' nemenin nge BurHan. Saya nge-blog, mas Azka kuliah mandiri. Tapi kami punya kesepakatan, jamm 23.00 WIB sudah harus tutup layar dan mulai rebahan.

img-1625476073.jpg

3. Sulitnya cari slot jalan-jalan

Yess, Ailsa kuliah online dengan seabrek tugas hariannya. Mas Azka kuliah BANGKIT, yang walaupun bisa diatur waktunya, tapi mas Azka sudah punya plot waktu sendiri, kapan harus nyimak materi, kapan harus ngerjain tugasnya. Satu meteri bisa 4 video yang harus disimak, dan itu pake bahasa Inggris. Yang kalo mamaknye jadi mas Azka, dah rebahan aja kali yak. hahaha. Azka itu fokus dan maximizernya tinggi. Tak kan goyah kalau diajak makan ini itu atau jalan-jalan kalau target hariannya belum tercapai atau sulit diprediksi.  

Kalau adiknya butuh cari udara segar keluar rumah, sekedar muterin kota Bogor aja, pasti kita berempat langusng cek google calender deh. Tak liatin google calendernya mas Azka aja ya jangan yang punya kami berempat. Sedep bener dah mata yang lihat. Hahaha

img-1625472817.jpg        img-1625472859.jpg

Jadi yaa, kalau dari kami ada yang ngajak keluar, kudu cek kalender masing-masing. Lalu input warna di sela-sela aktivitas mereka. #lap kringet dah liat kalendernya. Macem mau ketemu pak lurah aja. Tapi jadi bisa sering ngayab bareng lagi, karena mereka kan kuliahnya online, fisik dan psikis butuh dicasss... Nah, chargernya semua sama, jalan-jalan walau satu-dua jam saja cukup.

Oia, kalau mau tau lebih lanjut kenapa warna backgroundnya kalender mas Azka hitam kek gitu, saya pernah cerita di sini ya

Beberapa minggu yang lalu setelah Tugas Akhir bikin projek di BANGKIT kelar, mas Azka kirim ini di WAG. 

img-1625473704.jpg

Selesai sudah program BANGKIT semester ini. Prosesnya luar biasa warna warni.

Tapi yang paling berkesan adalah bahwa memang betul kalau kita tidak mau belajar mengikuti perkembangan zaman, kita akan tergerus zaman. Kampus Merdeka memang bisa memerdekakan anak untuk belajar dimana saja, dengan siapa saja dan kapan saja ia butuhkan. Tinggal kita menggingatkan mereka bahwa ilmu juga adalah titipan. Karena titipan yang kapanpun bisa diambil pemiliknya, maka sering-sering berbagilah kepada orang lain walau sedikit ilmu dari apa yang telah kita dapatkan. Karena matematika Allah diatas segala-galanya. Semakin banyak berbagi kebaikan semakin banyak pula kita akan mendapatkan kebaikan, insya alla, dari cara yang tak disangka-sangka.

Dreams come true. Allah itu sesuai prasangka hambaNya. Berhusnudzonlah padaNya.

Sst... sekarang banyak program BANGKIT kampus merdeka yang serupa loh. Unicorn  dan perusahaan besar lain juga mengadakan hal yang sama seperti Google. Dan bisa dikonversi juga.

Yuk, persiapkan mulai sekarang, mungkin ada anak yang cara belajarnya mirip-mirip seperti mas Azka.

Selamat berburu harta karun bersama anak yaa


sumber : Dikti Kemdikbud 

              sevima.com

Kategori
Azka

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar