Lakukan Hal Ini Selama Wabah Covid-19

“Bun, Mas A ga balik ke Bogor ya, masih ada temen yang juga ga balik kok.”

WA masuk ke gawai mamak pagi itu. Ya, di saat sebagian besar teman-temannya sudah pulang ke rumah masing-masing, nak lanang dan beberapa sahabatnya memilih tetap tinggal di kost-an. Dari 14 anak di tempat kost, tinggal 5 orang yang masih bertahan. Padahal saat itu, sudah banyak teman-teman seangkatannya yang pulang ke rumah masing-masing saat issue covid-19 makin meluas. Kampus tempat nak lanang sudah mengalihkan seluruh perkuliahan melalui daring. Keputusannya untuk tidak pulang saat itu kami hargai.


Walau sebetulnya ya mak, pengen juga loh kami semua ngumpul jadi satu gitu saat ada ‘kesempatan’. Pikiran pendek mamaknya kan sederhana, kalau kuliah daring bisa dilakukan di kost an, berarti bisa dilakukan di rumah juga. Tapi ternyata tidak seperti itu, saat kuliah daring selesai, tugas pun berdatangan. Tak hanya harus mencari bahan dari internet, tapi juga dari buku-buku kuliah yang ada. “Oh, kalau nak lanang pulang, mungkin jadi harus bawa buku-buku kuliah yang setebal kursi bantal itu.” Itu yang ada di kepala saya. Baiklah. Doakan dari rumah saja seperti biasa.


Sudah empat bulan kita mendengar banyak orang menyebutkan tentang virus covid-19. Sudah dari banyak sumber kita kemudian mengenal apa dan bagaimana virus itu bisa menyebar dan menyerang tubuh manusia. Rasa khawatir yang muncul saat mengetahui sudah empat digit jumlah orang yang positif terkena virus itu, membuat hati dan pikiran kadang menjad tak tenang.  Namun saat sudah seperti ini, kita tak boleh menyerah dan mengeluh. Melakukan upaya pencegahan bersama-sama tentu akan membawa dampak baik bagi kita dan lingkungan terdekat. Termasuk memikirkan dan terus mengingatkan nak lanang untuk preventif terhadap penyebaran virus ini.


Memiliki anak remaja tentu berbeda cara menyikapi wabah penyakit yang sedang melanda. Meminta melakukan ini dan itu tanpa penjelasan yang masuk akal, akan jauh lebih sulit dari pada membukanya dengan obrolan ringan. Mereka adalah anak-anak milenial yang hidup di bawah kemajuan teknologi. Segala informasi terbuka di jari mereka. Bisa jadi, informasi tentang apa dan bagaimana penanganan tentang wabah ini, jauh lebih lengkap mereka dibandingkan informasi yang kita miliki. Maka diperlukan cara tarik ulur yang smooth agar apa yang ingin kita sampaikan tidak patah dan mental begitu saja. Dan tantangan kami saat ini adalah jarak yang memisahkan. Tentu berbeda saat kita ngobrol bertemu secara fisik dengan tatap muka melalui daring. Ini pun perlu cara lagi untuk mendapatkan tak hanya feel nya saja tapi isinya pun bisa dipahami mereka.


Walau jarak memisahkan, inilah yang bisa kami lakukan dari rumah kepada mas A;


1. Mencoba menggunakan teknologi lain saat ngobrol

Ini yang paling seru saat ngobrol bareng anak gede. Saat pertama kali mengetahui virus ini masuk ke Indonesia, saya dan ayahnya kemudian membuka ruang diskusi dengan anak-anak melalui video call. Setiap kali diskusi biasanya mengalir aja, nyambung tentang apa yang sedang ingin diketahui bersama. Karena kebetulan, modelnya nak lanang lebih mudah diajak diskusi dengan data dan seneng diajak mikir, maka saya menyiapkan data dan fakta tentang apa dan bagaimana virus itu bisa menyebar. Sudah sekian orang yang kena kata media ini atau ternyata ini alasannya pemerintah mengkarantina wilayah tuh ya, karena bla bla bla. Kalau sudah diskusi tentang ini, banyakan ayahnya yang masuk. Hahaha. Mamaknya bawa pompom sama camilan aja.


Saat ngobrol dengan mereka, saya mencoba beberapa fitur video call. Platform whatsapp sudah biasa menurut kami. Akhirnya zoom meeting menjadi pilihan pertama. Selain ngulik settingan bareng di aplikasi itu, obrolan ringan bisa mengalir. Tak hanya satu meeting room yang kami coba, tapi ada beberapa yang lain. Ini yang bikin makin asyik ngobrolnya.


2. Menjadi pengingat satu sama lain

Sejak awal kuliah, nak lanang selalu kami bekali dengan suplemen. Waktu semester awal pernah beberapa kali sakit karena kecapean. Pulang kuliah sore lanjut kegiatan kampus untuk mahasiswa baru lanjut tugas kuliah. Begitu terus. Jam tidurnya berubah dan ngacak tak menentu. Kadang eh sering tidur menjelang saya mau tahajud. WA minta dibangunin subuh. Badannya tak sesemangat isi kepala. Akhirnya sakit. Tahu betapa pentingnya memberikan jatah istirahat tubuhnya, ia mulai mengatur ritme kebutuhannya dan dibantu dengan minum suplemen. Dan saya bertugas sebagai alarmnya. Bahagia itu sederhana yak. Kalau salah satu di antara kami masih online di jam tidur, akan muncul emot tidur sebagai reminder. Atau karena kami tahu ritme dan jadwal harian karena satu kalender google, maka saling colek nih biasanya kalau alrm kalender berbunyi lalu lupa. Seru sih. Banyak memanfaatkan gadget untuk kebutuhan keluarga.


3. Kirim masker


Yap, beberapa minggu yang lalu, saya pesan masker kain agak banyak. Sekalian untuk dibagikan dan dikirim ke nak lanang. Ini bagian dari usaha kita semua untuk saling menjaga. Saya sampai kirim 7 agar bisa diganti secara berkala. Ada yang menarik nih, selama ini, cah lanang bukan tipe yang minta dikirim ini itu, tapi kok kali ini sampai telpon minta dikirimi masker. Ternyata ia sudah mencari-cari masker di sekitaran kost nya tapi pada kosong, jadi stok yang dimiliki di kost an sudah menipis.


img-1587695256.jpg


Ada yang menarik selama kami ngobrol melalui beberapa kali gonta ganti teknologi video conference. Setiap bercerita, selalu aja ada informasi baru dan tahu itu berita dari mana. Kadang tau-tau WA atau video call hanya untuk bertanya kebenaran berita A atau mengkonfirmasi sesuatu yang ia dapat dari temannya. Dan biasanya tentang tema seputar politik. Kalau sudah ditanya tentang ini, saya mundur giliran ayahnya yang maju menjadi teman ngobrol.


Karena wilayah kampus makin sepi dan semua toko makanan tutup, ia pun memutuskan untuk pulang. Ini kemudian yang membuat saya deg-deg an. Dua hari sebelum kepulangannya, kami ngobrol seputar PROTAP alias prosedur tetap saat bepergian saat wabah hampir memasuki wilayahnya. Apa yang harus dilakukan. Mulai dari sebelum berangkat, apa yang harus disimpan di luar tas, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di perjalanan hingga PROTAP sebelum masuk ke rumah.


Berikut ini persiapan yang ia lakukan sebelum berangkat :

1. Badan dipastikan fit. Tidak demam, batuk dan sebagainya.

2. Siapkan handsanitizer dan masker cadangan di bagian luar tas yang mudah dijangkau

3. Siapkan camilan dan air putih sejak dari rumah. Dan pastikan perut sudah kenyang, sudah buang air juga sebelum berangkat

4. Gunakan celana panjang, baju lengan panjang, berkaos kasi dan bersepatu

5. Gunakan masker bila perlu sarung tangan


Selama perjalanan, kami selalu ingatkan untuk memperhatikan ini: 1. Jaga jarak satu sama lain

2. Jangan makan, minum atau jajan selama perjalanan

3. Usahakan tidak menyentuh apapun dengan tangan langsung

4. Jangan menyentuh area wajah, hidung, mulut dan mata dengan tangan

5. Biasakan cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir


Saat sampai di rumah, ini yang kami lakukan saat mas A datang:

1. Semprot dengan disinfektan.

2. Cuci tangan dan langsung mandi

3. Cuci segera seluruh pakaian dan bawaan saat itu

4. Selalu gunakan masker di dalam rumah

5. Menggunakan kamar tidur dan alat makan terpisah

6. Lakukan karantina mandiri selama 14 hari


Mas A protes dengan segitu panjangnya daftar PROTAP? Alhamdulilah tidak. Bahkan beberapa list di atas, ia tambahkan sendiri untuk kebaikan kami semua. Obrolan pun masih terus berlangsung, tapi kali ini langsung melihat dengan jarak tertentu.


Hanya bisa berdoa pada Allah, semoga badai segera berlalu.

Kategori
Tips Ketjeh

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar