Begini Jadinya kalau anak perempuan live in


"Hidup itu seperti naik sepeda ontel, kita harus terus mengayuhnya maju agar terus seimbang dan berjalan."

Sepulangnya dari live in,

Nenek itu ya bun, bangunnya pagi banget. Ternyata nenek tuh sholat tahajud loh. Padahal kan kamar mandinya di luar rumah. Gelap. Dan itu dilakukan hampir setiap hari. Udah gitu, nenek tinggal sendirian, anak-anaknya ga ada yang nemenin di situ coba, bun. Kasian banget. Itu kalau neneknya kenapa-napa, gimana. Oia, yang paling seru itu, aku nyuci di kali dan bisa masak sayur. Hahaha”


Lain waktu,

Bapak dan ibu itu ya, beliau balik lagi membangun kampungnya loh, Bun. Bersama anak-anaknya, menjadikan rumah beliau sebagai tempat belajarnya warga. Trus ya, kasian deh bun, dulu di kampung itu tuh, banyak orang tua atau dewasa yang jadi TKW-TKI. Anak-anaknya banyak ditinggal orang tua mereka yang bekerja. Tapi sekarang, kampung itu malah jadi keren, bisa menjadi tempat belajar banyak orang. Ga perlu lagi masyarakat mudanya kerja di luar desa. Pengelolaan dan pengembangan warga dan potensi lokal gitu mereka kelola dengan baik, top banget. Banyak mengangkat budaya lokalnya. Contoh nih, berawal dari bapak ibu itu yang lulusan IPB, ngerti ilmunya, mereka berbagi ilmu dan pengalaman ke masyarakat. Mereka mulai bercocok tanam dengan menanam tembakau dan menghasilkan. Mereka juga menjadikan banyak ragam permainan anak untuk menarik minat warga lain datang ke desa mereka. Padahal ya, kampungnya tuh jauh banget dari kota, loh. Satu lagi, aku jadi ngerasain main enggrang, polo lumpur, loncat ke sungai dari air terjun sampe nyobain tiwul. Mantab. Kita bisa melakukan apa ya, Bun?”


Kapan itu,

Beliau tuh ya, humble banget. Orang pinter tuh harusnya gitu ya bun. Semua kalimat yang keluar dari mulutnya tuh macem kata mutiara dan peribahasa. Berisi banget. Awalnya aku catet banyak kalimat-kalimat penggugahnya, lama kelamaan, aku ga sanggup nulis, karena semua kalimat yang beliau keluarkan tuh dalem banget. Keren pokoknya. Beliau juga balik lagi ke kampung halamannya, Indonesia, setelah belajar dan mengambil pengalaman di Jepang. Cuma buat membangun negaranya maju. Padahal di Jepang sana udah enak hidupnya. Membangun dan menggerakkan masyarakatnya tuh keren banget. Melibatkan banyak anak muda. Beliau juga ga pelit ilmu. Efek dari berbaginya tuh, sudah dirasakan banyak orang dan warga. Pas aku live in kemaren, banyak anak mahasiswa juga yang belajar ke sana. Dan ternyata ya bun, baru kita anak level SMA yang diterima untuk belajar sama beliau. Ih, bersyukur banget dapet pengalaman kayak gini tuh.”


img-1573614650.jpg   





Bersama bang Ricky Elson dengan latar penari langit karya beliau






 img-1573614957.jpg




Panen daun kelor bersama mahasiswa dan penduduk sekitar  

untuk kemudian dibuat teh  




Nak gadis baru saja kembali tiga minggu yang lalu dari live in serunya di Ciheras, Tasikmalaya. Ini adalah live in nya yang kesekian kali. Dan kesekian kalinya juga ia kami 'buang' dan titipkan untuk belajar langsung tentang sesuatu pada orang lain. Saat kami tak bisa mengenalkan nilai-nilai tertentu karena keterbatasan ilmu dan pengalaman, maka, menitipkan anak-anak untuk belajar dari ahlinya adalah pilihan yang bisa diambil kemudian. Itulah mengapa live in menjadi salah satu wadah belajar. Banyak keseruan dalam proses mendampingi anak live in. Mmm...sebelum ke sana, emangnya, live in itu apa sih?


Sebetulnya, arti sederhana dari live in adalah tinggal bersama seseorang untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan atau pengalaman dari lingkungan di mana ia tinggal. Pengalaman seperti apa yang ingin didapatkan oleh anak kita, tentu dimulai dari observasi yang kita lakukan serta komunikasi dengan anak dan kebutuhannya akan sesuatu. Atau mungkin bisa berangkat dari value keluarga yang ingin dipertajam dengan mencari lingkungan yang dibutuhkan.


Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan sebelum menetapkan lokasi live in


1. Komunikasikan tujuan bersama anak yang akan live in

Ini penting pake banget. Karena yang akan live in kan anak itu sendiri.  Agar pulang live in ga sekedar baru pulang 'jalan-jalan' semata namun anak mendapatkan meaning dari prosesnya. Maka mendiskusikan dan menajamkan strong why nya itu sangat diperlukan.


2. Buat rencana aktifitas selama live in

Kalau sudah menemukan strong whynya, akan jauh lebih mudah kemudian menurunkan dalam aktifitas harian anak selama di sana. Dan nanti, rencana dan tujuan inilah yang dibawa oleh kita, orang tuanya, kepada sang guru. Jadi yang menerima anak kita tuh ga bingung juga, ni anak mau ngapain dan diapain.


3. Tentukan lokasi, guru dan waktunya

Saat menentukan guru atau lokasinya, cari dari lingkaran terdekat kita dulu. Teman ayah, tetangga, keluarga dekat ayah atau bunda, teman kuliah ayah atau temannya teman bunda. Karena kan kita mau nitipin anak dan bisa jadi tidak semua orang mau direpotin anak-anak yekaaan. Lalu cek dan sinkronkan antara kebutuhan kita menitipkan anak dengan kesiapan sang guru. Waktu kakaknya, kami pernah menitipkan satu bulan dengan guru ideologisnya. Dan beliau bersedia. Alhamdulilah.


4. Kunci dengan agama

Saat live in berakhir, biasakan untuk menggali apa yang dirasakan, dilihat dan didapatkan anak selama di sana. Obsevasi dan diskusikan dengan anak. Terakhir, kunci insight yang anak dapatkan dengan agama. 


Setiap anak-anak pulang dari live in, hal yang paling terasa adalah, mereka banyak sekali mendapatkan pelajaran kehidupan yang tak didapat di bangku sekolah atau bahkan dari kedua orang tuanya sekalipun. Mulai dari cara mereka memandang sebuah tantangan dalam setiap langkah yang dihadapi, cara mereka bersikap dan bertutur kata. Kadang ya, apa yang kita dan orang lain sampaikan ke anak itu akan diterima secara berbeda oleh anak. Padahal kita dan orang lain itu menyampaikan hal yang sama.


Percayalah, semakin banyak pengalaman yang bisa kita berikan, tak hanya anak yang belajar, tapi kita sebagai orang tuanya pun ikut belajar. Jadi belajar sama sama dan sama sama belajar.

  • Senin, 11 November 2019

Artikel Terkait

Persiapan Backpacker Menuju Jepang-Membuat E-Passport
Persiapan Backpacker Menuju Jepang-Membuat E-Passport
Kebiasaan ini bisa menular
Kebiasaan ini bisa menular
Kecerdasan Interpesonal
Kecerdasan Interpesonal
7 Cara Belajar Jelajah Kota Bersama Anak
7 Cara Belajar Jelajah Kota Bersama Anak
Cara Mengamati Minat Bakat Anak
Cara Mengamati Minat Bakat Anak
Mengkokohkan Pola Kebiasaan Membaca Pada Anak Remaja
Mengkokohkan Pola Kebiasaan Membaca Pada Anak Remaja

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar