Home / Artikel manajemen marah

manajemen marah

manajemen marah

Resensi Buku lain-lain

Minggu, 06 Agustus 2017

Siapa yang tak pernah   marah?


Duuh, pertanyaan yang   menggelitik, menampar dan bikin wajah memerah. Pasti semua orang pernah   merasakan marah. Baik pada anak sendiri, teman se-arisan atau mungkin pada   suami. Marah itu adalah luapan emosi kita akan sesautu. Bentuknya bisa bermacam-macam. Ada yang memukul atau mencubit anak saat marah dengan perilaku   anak, ada yang dengan berteriak saat marah pada seseorang,  ada yang butuh melampiaskan marahnya pada lemparan barang yang ada di dekatnya, ada juga yang saat marah ia langsung   keluar rumah, jalan-jalan tanpa menggubris perkataan orang yang ada didekatnya.   Kalau emak marah, seperti apa kira-kira ya?

 

Ada sebuah survey yang   dilakukan pada sekelompok orang tua yang tebiasa mendidik anaknya dengan marah serta memukul itu ternyata ada sekitar 80% lebih loh, mak. Nah, 80% orang tua ini ternyata mereka mengalami pemukulan dan kemarahan yang sama dari orang tuanya saat mereka kecil. Duh, mereka betul-betul ‘mentauladani’ orang tua   mereka, mak. Ngeri yaa. Kalau kata bu Irawati Istadi di bukunya ini, sebenarnya   apa yang terjadi pada diri kita saat dewasa sekarang itu merupakan hasil dari  apa yang kita alami, khususnya lima tahun pertama. Waw, saya jadi berfikir dan berusaha mengingat kembali apa perilaku khusus saat lima tahun pertama yang masih menempel pada diri saya.

 

Buku yang dari judulnya   sudah ‘provokativ’ ini memuat banyak contoh dan cara mengatasi marah pada diri   kita selaku orang tua. Mengapa marah itu bisa menjadi kebiasaan, cara mengelola   marah yang benar dan efektif, terutama saat kita marah pada anak. Semua dijelaskan   secara gamblang dan mudah  dicerna oleh kita. Oia, cara kita mengelola marah   dengan anak berbagai usia, juga disampaikan beliau di buku setebal 206 halaman ini loh. Ini betul-betul ilmu komunikasi marah yang saya butuhkan. Kadang,   setelah membacanya, saya manggut-manggut sambil banyak beristigfar sendiri. Bahwa   betapa efek dari marah itu bisa menghancurkan sel-sel otak anak dan akan terus melekat sepanjang hayat. Bukan hanya itu, bisa jadi mereka kelak akan menjadi   bagian yang 80% itu saat mereka menjadi orang tua. Tentu kita tidak mau bukan?

 

Tak hanya menjabarkan   manajemen marah sebagai orang tua, beliau juga memberikan gambaran cantik   mengenai  marah khas sekolah. Ini bisa   digunakan bagi emak yang juga berprofesi sebagai guru di luar rumah. Bagaimana   tidak, guru adalah peran kedua selanjutnya yang betul-betul berperan dan   mewarnai kehidupan anak di jam-jam produktif anak. Mereka akan meneladani guru   yang notabene menjadi orang tua kedua mereka di sekolah. Maka guru pun ikut   mengambil posisi penting dalam memberikan tauladan dan pembelajaran akhlaq pada   anak didiknya. Pernahkah emak bayangkan, saat di rumah, anak sudah mendapatkan 'ceramah' dari orang tuanya untuk segera bangun, segera mandi, segera menyiapkan baju dan peralatan sekolah, salah sedikit, lambat sedikit, banyak kalimat tak mengenakkan yang masuk ke telinga anak. Sampai sekolah,, kalau ada perilaku yang tidak pas menurut guru, anak akan mendengar kalimat tak mengenakkan lagi. Tak pernahkan kita membayangkan bila kita berada di posisi anak yang seharusnya mereka dikenalkan bagaimana caranya mengelola sesuatu bukan dengan separagraf kalimat tak mengenakkan?


Berusaha menghindari kata atau kalimat yang menyindir, menyalahkan orang lain atau sederhananya serta tidak mengatakan apa yang kita pun tidak suka menerima kata-kata itu butuh latihan dan azzam yagn tinggi. Ingat ya mak, kita marah karena perilakunya yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang sudah disepakati, bukan marah pada anaknya. Kita marah karena ingin merubah perilaku anak menjadi lebih baik. 

 

Pernahkah emak mendengar   bahwa Rosulullah pun mengingatkan dalam hadisnya terkait manajemen marah? Salah   satunya adalah dengan segera merubah posisi tubuh kita saat marah. “Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Apabila amarah  telah pergi darinya, maka itu baik baginya. Dan jika belum, hendaklah ia   berbaring.” Ada juga hadis lain yang mengkisahkan pada kita untuk segera   berwudlu bila marah datang. Lalu mohon ampun lah pada Allah. Ada juga hadist lain, yang Rosululah bersabda bahwa orang yang kuat itu bukanlah orang yang   pandai bergulat, namun, orang yang kuat tu adalah orang yang mampu mengendalikan amarahnya. Mengendalikan artinya mampu memanajemen dengan baik amarahnya.

 

Nah, untuk yang ingin tahu lebih banyak tentang manajemen marah, ada baiknya segera mempraktekkan apa   yang ada di buku ini. Ini buku terbitan lama, tapi ilmunya tak pernah lekang   oleh  waktu.

Komentar

  • rahmaniah azmi

    Minggu, 29 Oktober 2017

    Assalamualaikum, salam kenal mbak, aku azmi dari bunsay#3 joglo...hehe.... Mbak, biasanya mbak beli buku2 parenting diatas dimana mbak? Aku suka baca blognya mbak....

  • ika pratidina

    Rabu, 01 November 2017

    wa'alaikumussalam mba azmi, salam kenal lagi yaa... di toko buku yang ada di kota saya aja mba. hehe. kalau cetakan baru/terbitan baru, biasanya saya ikutan PO atau ikutan seminarnya dulu untuk tahu isi bukunya. sering-sering silaturahmi ke azkail ya...

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial