Mari berpuisi prosais


Sudut hati

Di bawah langit yang sama kita pernah bergelut. Membawa setumpuk asa dan cinta yang tak kenal maut. Berharap asa kian mengerucut cinta kian hanyut. Membawa selangit hasrat yang kian akut.

Kau tahu, asa dan cintaku mulai beringsut. Berlari meninggalkan hasrat menuju buih di laut. Bersama lara dan duka yang telah kau balut hingga keriput. Sesak, lelah dan penat pun makin menggelayut

Kau tahu. Pagiku berkawan pedang bermata dua dengan kalut. Sering dihujam cerca berbalut kata lembut dalam selimut. Ditambah ragam semburan geram yang bikin kejang perut. Belum lagi kala bergulat diksi hingga malam makin larut. Ahh...aku kian tersudut lagi-lagi menuju akut.

Duhai sang pemilik debut. Aku hanyut dalam kalut yang kian tersulut. Berusaha berdiri dalam karang di tengah buih laut tak berdenyut. Dengarkan, lakukan hasrat ku tanpa beringsut. Cukup sudah keriput luka ku kau sulut. Jangan lagi melempar hasrat pada hati yang tlah hanyut. Cukup sudah membuai mimpi yang tak berujung lembut.

Duhai sang pemilik debut. Wahai sang pemimpin yang berhati lembut. Kami menunggu kau lepas balut tanpa hasut. Kami menunggu kau hilangkan kabut yang menggelayut. Kami menunggu kau urai segala kusut yang makin tersudut.

Kau tau? Kalau aku tak butuh kepala yang manggut-manggut. Aku muak kau tampakkan wajah cemberut tak beringsut. Seolah enggan merekam kalut. Aku bosan dan makin lelah dengan segala tingkahmu yang menciut. Aku tunggu aksi nadimu untuk berdenyut. Tanpa lagi carut marut.

Bogor, 13 Agustus 2018
Menulislah bila itu membuatmu lebih baik

  • Kamis, 16 Agustus 2018

Artikel Terkait

Bekal
Bekal
Bilakah
Bilakah
Kebaikan itu menular
Kebaikan itu menular
Gelagar
Gelagar
Contoh Puisi Gaya Lama
Contoh Puisi Gaya Lama

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar