Home / Artikel Membimbing Remaja Dengan Cinta

Membimbing Remaja Dengan Cinta

Membimbing Remaja Dengan Cinta

Resensi Buku Parenting

Selasa, 18 September 2018

Karena remaja hari ini adalah pemimpin di masa depan

Setuju kah dengan ungkapan di atas?
Yup, bener banget, bahwa anak-anak kita adalah pemimpin di masa depan. Pernah tahu kah kisah seorang sahabat yang hebat berikut ini, mak?


Usamah bin Zaid adalah seorang remaja berusia sekitar 18 tahun yang telah dinobatkan menjadi panglima perang oleh Rosulullah. Padahal saat itu banyak sekali para sahabat senior namun ternyata Rosulullah menunjuk Usamah bin Zaid untuk menjadi pemimpin perang. Atau Muhammad al Fatih yang menjadi sultan di usianya yang menginjak 19 tahun. Beliau berhasil memimpin pasukannya menaklukan Konstatinopel di usia 21 tahun. Banyak buku yang menceritakan kehebatan para sahabat muda yang berhasil menjadi pemimpin. Kalau ditarik benang merahnya, ternyata mereka lahir dari orang tua hebat  yang betul-betul fokus pada kemampuan anak, mereka siap selalu menemani anak-anak tumbuh. Sahabat muda itu tak sedikitpun menyia-nyiakan waktu mudanya untuk bermain yang tak ada guna.


Berangkat dari kisah hebat para sahabat tadi, ada satu buku yang menggelitik saya. Judulnya ga terlalu provokatif sih, terkesan 'biasa'. Tapi begitu saya baca halaman demi halaman, rasanya kok inilah potret remaja yang bertemu orang tua dan pendidik macam kita di zaman sekarang ini. Perkembangan peradaban telah merubah banyak hal. Termasuk cara pandang dan pergaulan remaja. Mau tak mau, suka tidak suka, sebagai orang tua, sebagai guru, tentu harus mengikuti apa yang terjadi di lingkungan mereka. 

 

Ada yang sudah pernah baca buku ini? Gimana menurut emak? Mmmm...atau belum baca? Wuaah, baca deh, mak. Ini buku rekomendasi berikutnya yang saya sarankan pake banget untuk mamak-mamak yang lagi belajar mendampingi anaknya yang sudah pada baligh. Buku keren yang wajib dimiliki oleh para penggiat pendidikan atau para cik gu yang sedang menemani para remaja tumbuh. Buku ini muncul berdasarkan pengalaman sang penulis, Irawati Istadi. Ibu dari enam anak ini menggunakan bahasa yang mudah dicerna, bacaan yang ga terlalu berat. Bisa dibaca sambil nunggu anak pulang sekolah, sambil nunggu bis dateng, selesai. Tips dari banyak peristiwa harian yang sering kita alami dalam mendidik anak, banyak diberikan di buku ini. 


Anak-anak yang sudah baligh ini berada dalam zaman yang jauh berbeda saat saya dulu seusia mereka. Sebut saja gaya hidup cyber, memilih memanfaatkan atau akhirnya diperbudak gadget misalnya. Lalu bagaimana cara berdialog dengan anak-anak yang sudah baligh? Bagaimana mencari waktu dan cara yang tepat untuk berdialog dengan mereka. Bagaimana saat ngobrolin soal ikhtilat, masalah seksualitas (yang pacaran lah, menghadapi lawan jenis yang nembak lah) hingga penyesatan akidah melalui lagu, film dan idola saat ini banyak diceritakan dalam buku ini. Tips sederhana dari beliau bisa langsung dipraktekin, mak. Anak-anak pun faham WHY nya. 

Buku setebal 386 halaman ini terdiri dari 8 bab. Yang kesemuanya menyajikan tulisan-tulisan pendek lagi menarik untuk dipelajari dan dipraktekkan. Ada beberapa bab yang bikin alis saya berkerut kaget akan kondisi anak-anak yang sudah baligh saat ini. Irawati Istadi menegaskan bahwa potensi  yang dimiliki remaja begitu luar biasa, apalagi jika bisa disalurkan untuk menjadi master perubahan di masyarakat. Energinya yang luar biasa, insya Allah cukup untuk menahan beban dan tantangan perubahan yang begitu luar biasa Itulah mengapa kita harus mengajarkan mereka sesuatu sesuai dengan zamannya. Minimal, kita tahu harus kemana arahnya untuk menyalurkan energi mereka. 

Kita tidak bisa mengontrol kehidupan mereka 24 jam sehari 7 hari seminggu. Ada saat di mana mereka tidak ada bersama kita. Di buku ini, diberikan penjelasan dan tips caranya bagaimana membimbing anak- yang sudah baligh dengan cinta. Ah... baca deh, mak. Pengalaman-pengalaman beliau mengasuh dan mendidik anak-anaknya bisa kita ambil ribuan hikmah untuk menemani si remaja tumbuh.

Dah itu aja.

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial