Mengenal Perbedaan Coaching dan Counseling Saat di Keluarga Buncek


"Belajar dari siapa saja dan dari mana saja"

Menemukan keluarga baru di kelas bunda cekatan itu asyik. Saya dapat berjuta pengalaman di dalamnya. Apa lagi saat kami diharuskan mencari teman yang memiliki kebutuhan yang sama, tentu ini semakin menguatkan bonding satu sama lain. Saling bertukar ilmu dan pengalaman dengan teman satu tujuan akan membuka ruang belajar baru dengan belajar caranya belajar. 


Keluarga ini kami beri nama dengan keluarga Cocoa. Singkatan dari Counseling dan Coaching. Ya, kami berada dalam satu keluarga atau satu grup yang membutuhkan dua hal itu selama kurang lebih 5 bulan ke depan (saya aja kali ya...).  Ragam latar belakang para anggota keluarga cocoa membuat makin beragam pengalaman yang minggu lalu dibagi. Ada lulusan Psikologi yang sekarang lanjut mengambil S2 di jurusan yang sama. Ada seorang mantan akuntan yang juga suka mengelola SDM dan sering berkecimpung di dunia couching. Ada juga yang sudah malang melintang di dunia hypno parenting. Ini menarik. Karena ternyata latar belakang kami berbeda tapi memiliki keteritarikan dalam dunia mengolah manusia. Sebagian besar dua ilmu tadi akan digunakan untuk mendampingi anak-anaknya di rumah, termasuk saya.


Minggu lalu banyak sekali berseliweran link penjelasan yang membedakan apa itu coaching dan apa itu counseeling. Saya belum sanggup membacanya satu persatu link yang didrop di grup. Saya memilih untuk menyimpannya dalam G-Drive dan saya baca minggu ini di jam on line. Setelah melihat beberapa penjelasan yang didiskusikan teman-teman di keluarga cocoa, saya akhirnya menarik kesimpulan bahwa Coaching dan Counseling mempunyai tujuan yang sama, yaitu ingin merubah seseorang menjadi lebih baik. Hanya saja metode penggunaan yang membedakan keduanya.


Kalau  Coaching, coach nya memberikan bantuan atau petunjuk bagi coachee (orang yang di coaching) nya untuk menemukan jalan keluar sendiri. Coaching juga dikenal dengan sebuah metode bertanya dan menggali untuk mengidentifikasi kekuatan, titik permasalahan seseorang atau sebuah sistem yang di jalankan. Jalan keluarnya ditemukan oleh coachee nya sendiri dengan bantuan penggalian informasi dari coach nya. Sedangkan counseling itu jalan keluar justru kadang dari konselornya namun sebagai konseler, ia akan membantu konselee nya untuk menemukan potensi yang ada dalam diri konselee


Butuh ilmu tentu saja untuk menjadi coach ataupun konselor. Namun ada yang menarik buat saya. Dua hal ini berhubungan dengan dinamika proses manusia itu tumbuh dan berkembang. Saat ada tantangan dalam hidup, tak jarang mungkin kita menggunakan jasa dua orang itu untuk membantu kita dalam menemukan titik terbaik yang kita miliki. Mereka punya caranya tanpa menggurui. Biasanya, dua ilmu tadi harganya selangit karena berkaitan dengan hubungan dan harga diri orang lain yang ingin dibantu. 


Saat membaca literasi yang disampaikan teman-teman di keluarga cocoa, saya kemudian berpikir, kita sebagai orangtua sebetulnya sering berada di posisi sebagai coach atau konselor kepada anak kita bukan. Entah saat mereka butuh dukungan kita di sekolah dengan teman-temannya, butuh support bahwa mereka hebat saat melakukan sesuatu yang kadang mereka belum sadari. Nah, keterampilan meng coach dan mengkonseling ini juga sebaiknya dimiliki oleh para orangtua. Menarik loh, mak.  Salah satu link yang diberikan menjelaskan langkah demi langkah bagaimana sebaiknya yang harus dilakukan sebelum bertemu dengan klien. Kemudian saya membayangkan melakukan ini sebelum bertemu anak yang sedang tantrum. Hahahaha. 


Menurut penjelasan dari rangkuman apa itu konselor, sebelum bertemu dengan konselee,

1.    Penuhi ruang pikiran kita dengan kata-kata positif, 

2. Tanamkan dalam diri bahwa manusia itu lahir dengan dan untuk kebaikan. Manusia bisa mengembangkan diri secara positif dan bisa berkembang dengan baik bila kita bantu dengan perasaan menerima apapun yang akan disampaikan,

3. Menghargai keputusannya serta ia merasa berada di lingkungan yang hangat karena penerimaan kita terhadapnya. 

Bayangkan itu semua saat sebelum bertemu anak untuk membantu mencari jalan keluar dari permasalahannya.  Dan yang paling sulit adalah saat prakteknya ya. Karena hal terberat adalah bagaimana kita bisa mengelola emosi kita sendiri dengan baik sebelum menghadapi anak.


Karena saya merasa belum dalam untuk mendapatkan tema ini, maka saya memutuskan untuk tetap tinggal bersama keluarga coaching and counseling selama satu minggu ke depan. Dan berikut ini gambaran ilmu yang saya dapatkan di keluarga itu.


img-1581231591.jpg


Jadi, latihan dan belajar tiada henti bagi orangtua dalam menghadapi anak adalah menjadi fardu'ain. Maka rasa syukur itu tak berhenti saat menemukan keluarga cocoa yang bisa membantu memberikan ruang belajar buat saya yang sedang dahaga.

Tulisan ini dibuat saat mengikuti kelas bunda cekatan tahap ulat-ulat jurnal 4


  • Senin, 10 Februari 2020

Artikel Terkait

Ini Serunya Belajar di Kelas Remedial
Ini Serunya Belajar di Kelas Remedial
Cara Belajar Asyik untuk Emak-Emak
Cara Belajar Asyik untuk Emak-Emak
Begini Cara Melacak Kekuatanmu
Begini Cara Melacak Kekuatanmu
Keseruan Lain Fasilitator Online di Bulan Ramadhan
Keseruan Lain Fasilitator Online di Bulan Ramadhan
7 Stiker seru yang ngangenin saat jadi fasilitator
7 Stiker seru yang ngangenin saat jadi fasilitator
Gunakan Cara Ini Saat Malas Membaca Muncul
Gunakan Cara Ini Saat Malas Membaca Muncul
Begini Cara Menghormati Tamu ala Ibu Profesional Jakarta
Begini Cara Menghormati Tamu ala Ibu Profesional Jakarta
Belajar Bersama Kelas Bunda Sayang
Belajar Bersama Kelas Bunda Sayang

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar