Mengenalkan toilet training pada anak
Rabu, 20 Mei 2020
azkail
Bagikan

Mengenalkan toilet training pada anak

Mak, punya anak berusia 1-3 tahun kah?

Trus kadang masih sulit membedakan mau pipis atau BAB?

Atau masih suka pipis di celana?

Sudah dikenalkan toilet training namun belum berhasil juga hingga sekarang?

---

Mengenalkan toilet training pada bayi dan balita tentu banyak sekali tantangannya. Tak hanya dari anaknya sendiri tapi juga dari diri kita saat mulai melakukan latihan dan proses toilet training. Saya menganggap ini adalah latihan yang paling seru dan menggemaskan diantara sekian juta proses mendidik anak. Mengapa? Karena kita tak hanya melibatkan anak itu sendiri untuk mampu mengenali alarm tubuhnya, tetapi juga melibatkan lingkungan terdekat si anak, keluarga inti, pengasuh hingga kakek nenek dan om tantenya. Artinya apa? Banyak yang akan dilibatkan demi suksesi toilet training. #uhuk


WHY

Saya tergelitik untuk menulis ini saat teringat waktu sharing dengan orang tua, saya pernah ditanya,

“Mengapa perlu dikenalkan dan diajarkan toilet training pada anak sih?"

"Apa sisi positifnya untuk kita, orang tua, dalam mengenalkan toilet training pada anak?"

"Kan nanti dia juga bisa sendiri mengenal ritme tubuhnya. Kalau anak sampai pipis di celana kan dia juga yang akan merasakan ga nyamannya. Nanti juga bisa sendiri."


Iya sih, semua itu tergantung bagaimana cara lingkungan terdekat kita mendidik kita hingga saat ini. Biasanya akan berpengaruh terhadap cara kita melihat sesuatu. 

Heloow, mak. Apakah mamak ga kepengen punya anak yang mandiri? 

Minimal mereka bisa menyelesaikan kebutuhan pribadinya sendiri tanpa banyak dibantu oleh kita yang dewasa? 

Masih mau kah mak, saat kita sedang riweuh di dapur tetiba si kecil BAB di celana?  Trus kita harus segera membereskan kotorannya saat masakan sedang ada di tungku?

Ga kepengen kah, mak, anak kita bangga akan dirinya karena sudah ga ngompol lagi di kasur atau kelepasan basah di celana saat bertemu dengan teman sebayanya? 

Tahukah mak, kalau persoalan toilet training itu ternyata juga bisa jadi bahan olok-olok teman sebayanya? 

Ga sedih, mak anak kita dijadikan bahan olok-olok gitu?

Kalau ada satu saja dari pertanyaan itu yang bisa dijawab, artinya, sudah menjadi kebutuhan anak kita untuk dikenalkan dan diajarkan bagaimana caranya toilet training itu.


WHAT

Jadi, toilet training itu apa sih?
Pada umumnya, toilet training diartikan sebagai upaya untuk melatih anak mengontrol kebutuhannya untuk buang air kecil dan buang air besar. Namun apa iya hanya sebatas itu? Tentu saja tidak (pakai nada kayak di iklan produk apa ituuh). Saat kita mengenalkan anak untuk melakukan toilet training artinya kita sedang mengenalkan banyak hal loh, mak. Sesuatu yang kadang tidak kita sadari, kita pun mengenalkan itu saat melakukan toilet training. Sependek yang saya rasakan, ada beberapa hal sekaligus yang sedang kita latih ke anak saat toilet training, yaitu :


1. Mengenalkan cara mengelola waktu

Yup. Kita mengenalkan kepada anak, kapan waktunya buang air. Seperti yang kita ketahui,  ritme tubuh itu ada waktu-waktunya. Nah saat itulah kita bisa mengenalkan anak tentang waktu. Bicara waktu tentu bisa bicara soal angka, soal perbedaan malam dan siang, waktu sebelum tidur dan setelah makan. Dan seterusnya. “Dek, jarum panjang di angka ini, kita ke kamar mandi untuk pipis ya.” Kakak, kalau angkanya sudah 15, saatnya ke kamar mandi ya.”


2. Belajar disiplin 

Mengenalkan sesuatu yang baru, apa lagi ingin merubah pola kebiasaan, tentu disiplin menjadi prioritas. Konsisten dalam melaksanakan pengenalan latihan ke kamar mandi, mengenalkan ‘rasa’ ingin buang air pun sangat diperlukan konsistensi tinggi. Disiplin tak hanya untuk anak, tapi kita, orang tuanya.


3. Belajar bekerja sama

Dengan siapa? Anak dengan kita, orang tuanya. Kita dengan pengasuh, dengan kakek nenek atau orang terdekatnya. Ada saat-saat tertentu anak tidak mau untuk ke kamar mandi, atau mengatakan ia tidak ingin buang air, tapi bahasa tubuhnya tidak mengatakan hal yang sama. Maka dibutuhkan kerja sama yang kuat antar orang terdekat anak untuk membantu mengenalkan proses toilet trainingnya dengan baik.


4. Belajar mengkomunikasikan

Tidak semua anak berani mengatakan ingin buang air di saat-saat tertentu. Maka proses toilet training mencakup mengenalkan bagaimana sebaiknya mengkomunikasi ke orang terdekat kalau anak ingin buang air.


WHEN

Ini adalah pertanyaan yang paling banyak dilontarkan orang tua. Kapan sebaiknya mengenalkan dan mengajarkan anak untuk toilet training. Banyak teori menyebutkan bahwa usia yang tepat mengajarkan anak toilet training adalah usia 15 bulan. Usia dimana rata-rata anak sudah bisa duduk, jongkok dan berdiri seimbang dengan sangat baik tanpa bantuan. Usia 1-3 tahun, anak akan melewati masa egosentris dan masa anal. Di masa itu anak sedang memperdalam dan berkenalan langsung dengan dirinya, dengan tubuhnya. Maka usia yang tepat secara teori adalah rentang antara 1-3 tahun. Lihat perkembangan dan kesiapan anak untuk toilet training. Azkail sendiri sudah saya kenalkan sejak usia 6 bulan. Dimulai sebelum dan setelah bangun tidur, lima menit setelahnya, saja gendong dan ajak ke kamar mandi untuk pipis.



HOW

Lalu bagaimana sebaiknya kita mengenalkan proses toilet training pada anak? 

Nah ini menariknya. Akan ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan frekuensi latihannya. Pengaruh dari didikan orang tua kita serta pengetahuan dan pengalaman pun akan mempengaruhi. Dan karena setiap anak itu memiliki ritme unik yang berbeda, maka sebagai orang tua tentu mempunyai cara yang berbeda dalam mengenalkan proses ini. Namun secara garis besar, biasanya ada kesamaan pola. Dan ini yang pernah saya lakukan pada kedua anak saya. Dan mungkin kita punya cara yang sama dalam mengajarkan toilet training  pada anak. Semoga bermanfaat ya. 


1. Siapkan mental untuk kita dan anak

Mengapa demikian? Karena proses ini betul-betul akan menguras emosi jiwa, mak. Di sini kesabaran, telaten dan rasa gemes akan diuji. Dalam prosesnya nanti, kita tentu akan melibatkan anak untuk bisa melakukan prosesnya secara mandiri. Kita ‘hanya’ mengingatkan. Demikian juga kesiapan anak perlu dicermati. Bagaimana tanda-tandanya bila anak telah siap kita ajak berpetualang dalam toilet training? Ini dia salah satu tanda-tandanya :


a. Secara fisik, amati, apakah ia sudah bisa duduk dengan tanpa bantuan? Apakah ia sudah tahu ‘rasanya’ akan buang air. Terlebih lagi bila ia sudah mulai mampu membedakan akan buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Tapi biasanya untuk anak usia 15 bulan, perlu bantuan kita menerjemahkan dengan kata-kata terkait ‘rasa’ keinginan itu.


b. Sudah bisa memberikan kode tubuh atau kosa kata tertentu bila ingin buang air


c. Kadang anak yang sudah bisa jongkok, walau sedang menggunakan popok atau tidak, saat akan buang air, ia sudah langsung jongkok


2. Amati jadwal buang airnya selama satu minggu

Ada yang menarik dari sebuah penelitian. Dilansir dari parenting science, sebuah penelitian di Amerika Serikat hingga tahun 1984, sebagian besar batita di Amerika dan Eropa sudah berhasil meninggalkan popok pada usia 18 bulan loh. Namun hingga saat ini, banyak anak usia 3-4 tahun yang belum lulus toilet training. https://www.klikdokter.com/info-sehat. Pertanyaannya kemudian, Mengapa bisa seperti itu? Jawabannya kembali pada diri kita masing-masing.


3. Rutinitas baru

Jadikan rutinitas baru untuk ke kamar mandi sebelum dan setelah tidur. Bisa dimulai dari dua hal itu. Lakukan selama satu minggu. Bila sudah mulai terbiasa, tambah dengan aktivitas latihan lain misalnya di jam 10 pagi harus ke kamar mandi, sebelum pergi keluar rumah harus ke kamar mandi dan seterusnya.


4. Berikan apresiasi 

Ini yang paling penting. Progres sekecil apapun, keberhasilan setitik apapun, jangan pernah lupa untuk mengapresiasinya. Bentuknya bisa dengan kata-kata, “Kakak hebat hari ini ga ngompol di celana. Bunda seneng deh.” Bisa berupa pelukan, tambahan waktu bermain atau sedikit benda yang diinginkan.


Kunci terbesar keberhasilan toilet training itu ada di kita, orang tuanya. Kitalah yang pertama kali mengenalkan cara dan bagaimananya kepada anak. 


Ini baru bicara apa, bagaimana dan kapan ya mak. Belum keseruan saat ada tantangan dan drama toilet trianingnya. Saya akan ceritakan keseruannya lain waktu ya. 


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar