Misteri Bahtera Nabi Nuh
Jum'at, 29 Mei 2020
azkail
Bagikan

Misteri Bahtera Nabi Nuh

Membaca itu ibarat menabung. Semakin dalam, semakin banyak hal berharga yang didapatkan

Waktu ke bazar buku di Big Bad World sekitar dua bulan lalu, judul buku ini menarik.  Saya baca sinopsisnya boleh juga nih. Mengungkap secara fakta yang tersisa hingga sekarang tentang misteri bahtera nabi Nuh dan banjir yang menyertainya. Lalu saya browsing di internet tentang review buku dan siapa sih penulisnya. Wuah, ternyata yang nge review malah banyakan orang bule. Penasaran isinya dari kaca mata penulis yang menemukan secara empiris bukti-buktinya, buku itu pun tak bawa pulang. 


Sebelum membaca isinya, kita kenalan dulu dengan sang penulis yuk. Wuah, ternyata penulisnya adalah seorang arkeolog dan assyriologis (sejarawan, arkeolog linguistik yang fokus pada bahasa dan kepenulisan cuneiform). Cuneiform adalah salah satu kepenulisan aksara paku, tulisan yang bentuknya runcing seperti paku dan ini adalah kepenulisan paling tua yang ditemukan hingga abad ini. Sang penulis merupakan orang yang ahli dalam kepenulisan cuneiform itu. Buat mamak yang suka nulis huruf-huruf sandi jaman dahulu kala gitu, pasti suka dengan bahasan kepenulisan aksara paku di buku ini deh. Unik. Oia, beliau juga seorang kurator naskah, bahasa dan budaya Mesopotamia Kuno di sebuah museum terkenal di London loh. 


Kalau mau kenal apa dan seperti apa sang penulis dan aksara paku yang dikuasainya, bisa cek video ini ya.


Sebetulnya buku ini tuh buku yang sudah lama banget. Tahun 2014 terbit dengan judul asli : The Ark Before Noah-Decoding the Story oh the Flood. Diterjemahkan dan dicetak untuk pertama kalinya oleh PT Pustaka Alvabet, saya baru beli Maret 2018 lalu dan baru saya baca awal Mei 2020 kemarin. Hahaha. Kemane aje yee. Tapi tak ada kata terlambat untuk membaca. Kata orang, kalau kita ingin tahu tentang dunia maka membacalah, tapi kalau kita ingin diketahui dunia, ya menulislah. #eeaaa. Menurut saya, saat membaca buku ini tuh macem naik roller coaster.


Pada bab pertama, perjalanan landai kemudian mulai mendaki dan penuh ketegangan. Finkel membukanya dengan mengapa ia mau menulis dan menceritakan tentang penemuannya itu kepada kita, pembacanya. Alur mundur pun digunakan untuk membawa pembaca pada awal ketertarikannya pada tulisan kuno. Sampai akhirnya ia bertemu dosen yang betul-betul menginspirasi banyak hal terutama soal arkeologi dan aksara kunonya. Dari puluhan mahasiswa yang akan dibimbing langsung oleh dosen yang sangat mumpuni di kampusnya, akhirnya hanya tinggal tiga orang yang lolos lanjut kuliah dengan ahli aksara, dan Beliau lah salah satu dari tiga orang itu. Sampai cerita bagaimana serunya perjalanan Beliau menemukan tablet kuno yang berisi kisah bahtera Noah itu dari seseorang. Saat Finkel mendiksikan temuannya dengan kata tablet, yang tergambar di kepala saya itu macem gulungan kertas usang macem tablet obat yang panjang atau berbentuk bambu gitu. Setelah ada foto di halaman berikutnya, ealaaah, ternyata tablet itu adalah potongan tulisan aksara paku tadi dalam lempengan tanah liat keras gitu. Dan ternyata, tablet yang terbuat dari tanah liat itu jauh lebih awet dan tahan lama dibandingkan dengan literatur kuno dar kulit pohon. Begitulah ya kalau kita membaca dengan imajinasi sendiri tanpa bantuan gambar dari penulis.


cuneiform

Cuneiform


Nah, di bab kedua ini makin seru, karena Finkel menceritakan sejarah aksara kuno yang ada di dunia dan yang kemudian berhubungan dengan temuan tabletnya itu. Menariknya adalah kemampuan Finkel dan para ahli sebelumnya dalam menerjemahkan sebuah aksara yang sudah punah yang hanya segelintir orang di dunia yang mengerti apa makna dan cerita pada tablet itu. Buat yang suka sekali dengan kata-kata sandi dan aksara kuno, bab ini paling menarik, karena mengupas bahkan mungkin menebak-nebak hingga kemudian menemukan arti per simbol aksara dalam satu baris tablet. Saya jadi membayangkan, ternyata, ada ya orang yang suka ngulik dan punya rasa penasaran tingkat dewa tentang sesuatu yang jauh ada sebelum kita. Yang sejarahnya tuh sudah nyaris punah, orang-orang yang mengerti pun bahkan mungkin sudah tidak ada. Jadi pencariannya dari berkas ke berkas yang ada di banyak museum di seluruh dunia.


Di bab ketiga menyambung cerita di bab kedua, Finkel mulai menghubungkan dot to dot dari banyak temuan yang ia dapatkan. Termasuk dari cerita yang dituliskan pada naskah kuno, cerita leluhur, atau tulisan lain yangia temukan. Cara kerja cuneiform, peribahasa dan literatur yang muncul dalam bahasa Sumeria ataupun Akkadia kemudian dikumpulkan. Penulisan dalam tablet yang ia temukan sedikit berbeda dari tulisan paku yang ia kenal selama ini. Maka kemudian memunculkan banyak pertanyaan terkait simbol yang ia temukan. Di buku itu digambarkan model dan macam aksara paku yang ia temukan. Dan saya takjub aja lihatnya. Betapa orang jaman dulu tuh ya, bisa membuat satu kata dengan satu simbol, lalu di jaman kita ada orang yang bisa menemukan maknanya. Keren aja gitu. 


Masuk di bab keempat  mulai menceritakan tentang tablet air bah yang ia temukan. Di sini Finkel mengupas dari banyak litelatur. Mulai dari kisah yang ada di dalam Al Quran, injil, Bibel dan tablet-tablet narasi kuno. Penjelasannya cukup detil, termasuk gambar dan foto kuno yang ia dapatkan tentang arsitektur perahu dan kapal nelayan  yang berasal dari masa sebelum air bah. Perahu yang terbuat dari alang-alang berbentuk runcing dan bulat seperti ban. Hingga akhirnya sampai pada titik peringatan akan datangnya air bah yang ia temukan dalam beberapa literatur itu.


Di bab kelima sampai bab ke sembilan Finkel mengupas tentang bentuk serta bagaimana pembuatan bahteranya. Ini menarik, karena dari literatur yang ditemukan, kemudian divisualisasikan. Mulai dari penjelasan dan gambaran yang terdapat di tablet Smith dari Assyria, Atrahasis Babilonia Kuno sampai pada tablet yang ditemukan berupa gambar perahu berbentuk seperti mangkok atau ban besar yang berisi empat orang sedang beraksi di sungai besar. Dan ini ada fotonya di buku itu. Finkel juga mengungkapkan perhitungan berapa luas bahtera dari masing-masing literatur yang ia dapatkan. Berapa ukuran lebar, tinggi bahkan perkiraan ruang per ruang saat ada hewan-hewan yang diselamatkan juga saat itu. Di lantai berapa kira-kira pasangan binatang buas, ternak dan sebagainya. Di literatur yang tampak pada buku itu, terdapat aksara-aksara  yang menceritakan nama-nama binatang yang ada di dalam kapal. Ini penelitian yang luar biasa niat banget.


misteri penemuan bahtera nabi nuh


Di bab berikutnya tak kalah seru. Finkel banyak mengupas kisah saat kejadian banjir besarnya, apa yang ia temukan dalam tablet itu serta bagaimana cara membaca aksara paku baris per baris. Termasuk banyaknya lampiran dan catatan-catatan atau bukti yang ia temukan di lapangan untuk memperkuat tulisannya. Super duper lengkap lampiran tulisan, foto dan ilustrasinya. Finkel ga main-main dalam mengolah tulisannya dalam sebuah buku.


Di bagian akhir ini saya mulai bosan, perlu diselingin masak dan njemur baju dulu untuk memikirkan data yang ditemukan. Banyak sekali penjelasan detil tentang makna tiap aksara, makna dari setiap foto atau tablet yang didapat. Buat saya sih ini ga perlu-perlu amat saya tahu arti kata di dalam tabletnya, saya cukup mengetahui inti gambaran dari satu tablet itu. Buat mamak yang suka dengan aksara kuno, mungkin akan tertarik. Akhirnya saya membayangkan dari kacamata Al Quran bagaimana kondisi mengerikan dan luar biasanya saat itu. Bahwa apapun temuan yang dibuktikan dari penjelasan Finkel itu, satu yang ingin diperlihatkan Allah pada kita, bahwa selalu ada hikmah, bukti kekuasaan Allah dalam setiap kejadian umat terdahulu. Sebagai pelajaran bagi kita. Seperti yang Allah firmankan dalam QS Ar Ruum


قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

Artinya: “Katakanlah: Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana (akibat) orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” 


Ini menjadi catatan untuk saya pribadi bahwa dengan membaca sejarah seperti ini, semoga bisa makin membuka hati. Kalau menurut Iman Ats Tsa'labi ayat-ayat dalam al Quran itu dua kali lipatnya adalah mengupas tentang sejarah dari pada mengupas tentang halal dan haram (https://muslim.okezone.com/). Bila 6000 tahun kemudian kita menemukan bukti fisik adanya bahtera dan banjir besar seperti yang disampaikan Finkel, ini merupakan bukti bahwa sejarah itu nyata dan menjadi bagian motivasi kita mengokohkan pondasi ketauhidan pada Allah SWT.


Karena membaca itu mudah, tetapi membaca sambil berpikir itu tak mudah, mak.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar