Mudik Saat Wabah Yes Or No

Apa yang terbesit pertama kali saat mendengar atau membaca kata MUDIK?

Silaturahmi dari satu keluarga ke keluarga lain di kampung?

Dongeng dan cerita khas zaman dulu oleh eyang?

Tradisi sungkeman?

Bertukar oleh-oleh dengan keluarga?

Jalanan macet?

Ngobrol di warung tegal dengan sesama pemudik?

Nyasar di tengah hutan saat akan ke kota tujuan?

Kulineran di kota-kota tertentu?

Tradisi mendatangi rumah leluhur dan handai taulan?

---

Kalau ada yang jawabannya iya, berarti sama dengan saya. Setiap mendengar kata mudik ada banyak perjalanan yang bikin kangen. Biasanya mudik dilakukan saat bulan Ramadan akhir. Selain bersamaan dengan liburnya sekolah, cuti dari tempat kerja pun dimanfaatkan masyarakat untuk kembali ke kampung halaman.  Yang jarak dekat bisa ditempuh dengan kendaraan prbadi, seperti yang nyaris setiap tahun saya lakukan bersama keluarga besar. Yang jauh pun bisa memilih pesawat atau kapal laut sebagai alternatif transportasi.


Tadi pagi sambil bebersih dapur, telinga dan mata saya ikut lirak lirik ke televisi. Di acara itu disebutkan bahwa penderita covid 19 sudah mencapai 16.000 orang. Subhanallah, angka yang luar biasa dalam waktu dua bulan ini. Bayangkan, sebegitu masivnya itu virus hingga mampu mencapai angka setinggi itu. Pikiran saya lalu melayang kepada pasien itu sendiri yang harus dirawat inap di rumah sakit khusus. Tidak boleh dijenguk sama sekali oleh keluarga. Pun tinggal dan menemani pasien di kamar perawatan. Setiap baju atau sesuatu yang diantar keluarga, cukup disimpan di lobby, lalu dilakukan sederet SOP pengamanan anti virus, baru kemudian bisa sampai ke tangan pasien. Sedih luar biasa bukan? Aktivitas makin terbatas ditambah lagi kondisi fisik yang terpapar covid 19. Semoga Allah sehatkan kita semua ya.


Virus yang lebih mudah menyerang para orang tua usia lanjut dan orang  yang memiliki imunitas tubuh lemah. Makin ke sini, virus makin bermutasi dengan gejala yang bervariasi, bahka banyak ditemukan pasien tanpa gejala sedikitpun. 


Bayangkan, bila kita merasa sehat-sehat saja tetapi setelah diperiksa, kemudian ternyata virus itu telah berdiam diri dalam tubuh kita. Kena di mana, kita juga tidak tahu. Apakah di perjalanan yang pernah dilakuakn sebelumnya? dengan teman kantor? Perlu dilacak. Virus ini akan menyerang imunitas tubuh kita. Bisa dibayangkan, bila kita yang tanpa gejala, mendatangi orang tua atau sesepuh di kampung halaman, apa yang kira-kira akan terjadi?


Maka bersabar dan menahan diri untuk tidak melakukan perjalanan mudik menjadi pilihan yang tepat. Dengan cara seperti ini lah kita bisa menunjukkan bukti sayangnya kita pada orang tua di kampung halaman. 


img-1589462412.jpg

Kategori
Cerita Emak

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar