Pengalaman Menarik Selama di Kota Makkah
Senin, 22 Februari 2021
azkail
Bagikan

Pengalaman Menarik Selama di Kota Makkah

Apa yang paling membekas selama berada di kota Makkah?

Pengalaman apa yang sangat bermakna selama di masjidil haram?

Adakah cerita unik atau lucu selama berada di masjidil haram?

Pernah tersesat atau ketinggalan rombongan kah selama ada di sana?

-

Sebetulnya, semua proses perjalanan selama ada di kota Makkah itu punya makna tersendiri. Setiap sudutnya menyimpan banyak cerita. Rasanya tentu saja berbeda ketika kita memasuki masjidil haram dengan masjid lain di Indonesia. Selama di Makkah atau di Madinah nanti, hotel itu betul-betul hanya tempat kita bersih-bersih, sarapan, makan siang, tidur siang atau tidur malam saja. Selebihnya berada di masjid. Bahkan selama di Makkah dan Madinah, saya sering melewatkan makan malam di hotel. Jadi lebih sering makan malamnya beli di dekat masjid, makan di pelataran masjid. Nikmat banget. Lalu apa saja pengalaman menarik selama berada di masjidil haram?


Berikut ini beberapa yang masih melekat kuat dalam ingatan saya selama berada di masjidil haram. Semoga cerita ini bisa terus menjadi pengobar semangat beribadah dan dimudahkan untuk kita semua pergi ke tanah suci ya. Aamiin.


1. Sehat itu berasal dari hati

Kamar saya di Makkah kebetulan menghadap kubah besarnya masjdil haram. Tampak besar sekali terlihat. Apa lagi sambil rebahan miring ke kanan dan hanya masjidil haram beserta ka’bah yang menjadi pusat perhatian saya. Kalau dilihat dan diamati, jalan kaki ke masjidil haram tuh lumayan juga, untuk mencapai titik shaf terdepannya perempuan, mungkin ada 500 meter lebih kali ya. Pelataran masjidil haramnya aja udah luas banget, belum lagi bagian dalamnya. Itu mengapa kesehatan dan stamina saat sebelum berangkat dan selama di Makkah Madinah itu penting. Itu mengapa sebelum berangkat umroh atau haji, frekuensi olah raga sangat membantu saat berada di Makkah Madinah. Kadang saya berpikir, masya Allah, diberi kenikmatan sehat itu luar biasa rasanya.


Kebetulan saya menggunakan sandal gunung yang ternyata kalau digunakan jalan itu kok jadi berat. Jadi ga nyaman dipakai karena lantai pelataran masjidil haram itu licin banget. Saya harus berjalan sambil menahan agar tidak terpeleset.  Ini yang membuat beban kerja dan titik tumpu kaki saya mulai minta perhatian. Baru kerasa pegelnya saat sudah rebahan di hotel. Jadi, akhirnya saya memilih mengganti dengan sandal jepit swallow, mak. Lentur, enteng dan mudah disimpan dalam tas ransel.


2. Menempati banyak sudut masjid

Selama di Makkah, saya memanfaatkan sholat-sholat tertentu di tempat-tempat yang berbeda. Dimulai dari shaf paling depannya perempuan, di lantai satu, lantai paling atas hingga di dalam ruangan atau area berkarpet.


Di lantai satu ini tidak terlalu padat seperti halnya di lantai dasar. Suasananya saat itu juga dalam tahap pembangunan, jadi kurang nyaman berada di lantai satu.


Di hari keempat, saya memilih shalat magrib dan isya di lantai paaling atas. Saya tidak mencoba untuk naik lift atau escalator yang disediakan. Tapi memilih berjalan kaki hingga lantai tas. Turunnya baru menggunakan escalator. Didekat pintu 91 terdapat jalan menanjak agak landai untuk langsung menuju lantai teratas, ga perlu memutari tiap lantainya.  Karena menanjak, lumayan juga bikin sport jantung. Begitu sampai lantai paling atas, masya allah, pemandangannya sungguh jauh berbeda. Saat menengadahkan kepala ke atas, langit tampak cerah, bintang bertaburan. Melihat sekeliling banyak sekali anak-anak batita berlarian, para ibu yang mendorong stoler dan tak sedikit juga para lansia yang sedang duduk khusyuk membaca al quran. Lingkaran besar di lantai atas ini diberi pagar pengaman setinggi kira-kita satu meteran. Memandang ke bawah, masya allah, jutaan ummat muslim sedang thowaf tak henti-hentinya. Dan dari sini saya melihat betapa mungilnya bangunan kubus itu bila dilihat dari lantai atas. 


img-1614003851.jpg

Doc pribadi.

Suasana di lantai paling atas menjelang adzan Isya


img-1614032177.jpg

Doc pribadi

Karena hari itu adalah hari Jum'at, jamaahnya lebih banyak dibanding hari biasa

Lain lagi saat sholat di area berkarpet, bersama para lansia dan mamak-mamak biasanya. Tempat kursi besi yang menggantung di sudut area, sering kali kosong. Ya, di area ini banyak menyediakan kursi lipat yang diperuntukkan bagi para lansia yang sulit untuk sholat dalam keadaan sempurna. Oia, karpet tebalnya nyaris menggoda saya untuk tidur sejenak, ga cuma empuk, tapi juga wangi. Di area ini nyaris di setiap sudut tersedia rak-rak berisi al quran yang bisa dimanfaatkan jama’ah.


Mana yang paling nikmat untuk sholat? Jelas yang paling dekat dengan ka’bah, di lantai dasar barisan paling depannya shaf perempuan. Tak boleh menyia-nyiakan waktu yang ada. Saya sampai hapal di titik mana yang ga bisa disela oleh orang lain saat kita lengah sedikit. Hehehe. Kalau pas ada asykar yang lihat, yang nyelak-nyelak barisan dan bikin barisan sendiri, langsung dimarahin sama asykarnya. 


3. Berkenalan dengan perempuan lain dari seluruh dunia

Ini yang juga berkesan. Itung-itung melatih keberanian, dan melancarkan bahasa Arab Inggris plus bahasa isyarat , hahaha. Saya tuh paling ga bisa diem kalau udah duduk trus ga nyapa orang yang di kanan atau kiri saya. Dan dari yang sering saya sapa itu, kebanyakan dari Mesir dan Pakistan. Beberapa dari Sudan, Palestina.  Nah, menariknya, kalau lagi ngobrol sama orang Mesir, kita suka bertukar makanan atau cendera mata gitu. Di backpack saya memang sengaja membawa beberapa pernak pernik selain permen yang juga bisa dibagikan saat menunggu waktu adzan berikutnya. Kalau mereka membawa anak kecil, saya kasih permen, coklat atau biskuit yang saya bawa, mereka juga langsung mengeluarkan makanan yang mereka bawa. Biskuit mesir gitu, enak-enak tapi hambar rasanya kalau menurut saya. Hahaha.

Tahukah mak, dari banyaknya obrolan itu, setelah mereka tahu kalau saya dari Indonesia, pasti langsung bilang, bahwa Indonesia adalah jamaah yang paling banyak dan sering mereka temui selama umroh atau haji. Hehehe. Die belon tahu harus nunggu berapa ratus purnama agar bisa berhaji dari Indonesia.


4. Mencoba keluar masuk beberapa pintu 

Masjidil haram memiliki 129 pintu yang dibuka selama 24 jam. Dari pintu-pintu tersebut ada empat pintu besar yang sangat terkenal. Nah, saat itu, saya baru menjelajahi pintu kanan kiri yang sejajar dengan baabus salam saja, atau pintu King Abdul Aziz. Tentu saja bermodalkan sebuah peta besar yang ada di dekat baabussalam, saya berusaha merekam titik-titik tertentu. Kalau masuk dari pintu ini bisa langsung ke ka’bah yang sudut mana ya? Karena waktu yang sangat terbatas selama berada di Makkah, saya belum menjelajahi tiga pintu utama lainnya. Penasaran juga seperti apa dan bagaimana suasananya ya. Semoga Allah izinkan saya dan Anda, mak, untuk datang ke sana. Aamiin.

Saat itu, ada banyak pintu yang ditutup dikarenakan sedang dalam renovasi. Jadi untuk memutari keliling masjidil haram, terbatas banget, memutarnya harus naik ke lantai atasnya lagi. Ah, tidak, cukup bagi saya untuk bisa mengetahui pintu-pintu terdekat dari baabussalaam.


img-1614032625.jpg

Doc pribadi

diambil menghadap Royal Clock Tower hingga ke arah kanan saya duduk

img-1614032708.jpg

Doc pribadi

diambil menghadap Royal Clock Tower hingga ke arah kiri saya duduk


img-1614162889.jpg
Dok Pribadi

Sebetulnya setiap saya duduk menghadap ka'bah di posisi pada foto itu, agak sedikit terganggu dengan pemandangan bahwa ada gedung lain yang jauh lebih tinggi dari ka'bah itu sendiri. Atau jauh lebih tinggi dari menara masjidil haram. Posisi duduk shaf terdepan di area ini, agak sepi bagi perempuan. Selain itu juga tidak langsung menghadap matahari, jadi ga panas untuk sholat dzuhur dan ashar.


5. Melihat kain penutup Ka’bah dibersihkan

Ini momen langka menurut saya. Bagaimana itu kain hitam penutup ka’bah bisa sewangi itu kalau kita lewat di depannya. Saat berada di lantai dasar shaf paling depan, saya berkesempatan melihat langsung bagaimana kain hitam penutup ka’bah itu dibersihkan dan disemprot pewangi. Tongkat panjang ditarik makin memanjang lalu dari tangan petugasnya mulai ditempakkan itu parfum. Percikan air terlihat di udara. Saat petugas itu menyemprotkan parfum, petugas lainnya membuat barikade pengaman menggunakan tali berwarna merah yang melingkari petugas penyemprot tadi. Jadi aman dari lautan manusia yang sedang thowaf. Dan itu seinget saya, dilakukan pas hari Jum’at. Dari wangi itu, langsung semerbak sampai ke shaf saya. Masya Allah. 


Kebetulan proses perjalanan umroh saya yang pertama itu mengunjungi kota Makkah terlebih dahulu, jadi langsung umroh. Akan terasa berbeda mungki kalau buat saya, saat perjalanannya ke Madinah dulu baru kemudian ke Makkah. Wallahua’lam.


Ini baru pengalaman selama di kota Makkah. Bagaimana kelanjutannya? Silahkan cek di sini ya


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar