Home / Artikel Peran Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari

Tips Ketjeh Ala Emak

Kamis, 20 Juli 2017

5. Belajar membaca kebutuhan

 

        "Bun...aku udah bosen nih di sini, masih ada empat hari lagi menuju pulang ke Bogor."

WA si bungsu pagi tadi yang saat ini sedang berada di Malang. Sudah satu minggu ia berada di sana menemani eyang uti karena menghadiri acara lamaran tantenya. 

        "Kenapa bisa bosen, De? Rencana kegiatan di Malang, bukan sudah didiskusikan dengan tante?"

        "Iya, itu sih, sudah. Tapi kuota adek tinggal tiga giga lagi, Bund. Kan ga cukup kalau sampai empat hari ke depan."

Oalaaah, saya lupa kalau anak kami adalah generasi platinum. Generasi yang sangat ekspresif, eksploratif sesuai dengan perkembangan zaman. Mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam mengakses dan mengakomodir akses informasi untuk mengembangkan secara terbuka apa yang mereka miliki. Generasi yang memiliki banyak kemampuan dan siap untuk menjadi warga dunia dengan talent yang mereka miliki. Maka benar seperti nasehat Umar bin Khattab, bahwa kita harus mendidik anak kita sesuai dengan zamannya. Kita tidak bisa menjauhkan sama sekali sesuatu yang memang mudah dijangkau anak. Yang bisa kita berikan adalah bagaimana mengelolanya agar menjadi sehat dan bermanfaat bagi umat.

           "Emangnya, dipake untuk apa aja sisa tiga giga itu dalam empat hari ke depan? Menurut bunda, cukup kok, De. Bisa jadi kuota itu akan berlebih."

            "Aku kan pake untuk browsing dan instagram, Bund. Hehehe.”

            “Ya iya lah, De...itu makan kuota banyak, kan yang dibuka, foto-foto. Jadi, menurut ade, gimana nyeleseinnya?”

            “Kayaknya, aku nginep di rumah tante aja deh, Bund. Di rumah tante kan ada wifinya. Hehe, aku irit kuota deh. Jadi itu kuota, aman sampai Bogor nanti. Lagi pula kalo nginep di rumah eyang, ga ada tante. Adanya para eyang-eyang itu.”

            “Ok, urusan kuota, beres ya, De? Ternyata ga perlu beli kuota dan merasa bosan kan? Oh iya, jadi nginepnya di rumah tante, ya? Sudah ngabarin eyang dan tante belum kalau mau nginepnya di rumah tante?”

            “oh iya, belum.”

            “De, tau ga, kalau yang ade putuskan barusan itu, berhubungan dengan matematika loh, De. Adik  hebat. Bunda bangga sama adik.” Kata ku kemudian.

            “Yang mana, Bund. Aku kan ga ngomongin rumus dan teman-temannya.”

            “Matematika itu hanya sederetan angka dan sebaris rumus, De. Kemampuan seperti ade barusan yang menemukan solusi masalah kuota, itu adalah matematika logika. Ade sudah menemukan penyelesaian sendiri dan runut apa yang mau dilakukan terkait liburan di Malang sama eyang uti.”

===

            Ya, nikmatilah setiap detik diskusi yang mengalir dengan anak-anak anda. Karena suat saat, kita akan memetik hasil dari pembiasaan yang sering kita lakukan. Membuka ruang diskusi dengan anak itu sederhana dan mudah. Awali dengan menjadi pendengar yang baik. Pendengar yang baik? iya, betul, jadilah penedngar yang baik. Berikan kemampuan kita dalam mendegar aktif. Mainkan peran kita sebagai pendengar yang baik.

 

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial