Home / Artikel Peran Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari

Tips Ketjeh Ala Emak

Kamis, 20 Juli 2017

7.  Berbagi tugas

    Seyogyanya hari ini kami dan si sulung pergi ke beberapa kampus yang kemarin sudah kami diskusikan untuk dikunjungi. Namun, ternyata pagi tadi, si sulung membatalkan setelah sama-sama berdiskusi. 

        "Biar kita keluar ke kampusnya sekalian ke beberapa tempat yang lokasinya berdekatan, hari ini kita bagi tugas ya, Bund. Aku nyari universitas swasta tentang jurusan itu, bunda cari informasi jurusan yang sama di universitas negerinya. Baru kita putuskan mau mengunjungi kampus yang mana. Karena semalem aku lihat, ada kampus yang tidak mencantumkan mata kuliah apa aja yang dipelajari, jadi sepertinya kampus yang seperti itu yang perlu kita kunjungi lebih dulu." Panjang lebar si sulung memberikan gambaran tentang apa yang akan dilakukan hari ini. Kami menyepakati usulan yang ia berikan. Buat kami, ini menjadi bagian proses yang harus ia tempuh  dan putuskan. Kami mengikuti sarannya untuk pembagian tugas pagi tadi. 

       Cara berfikirnya yang tahu mana prioritas mana yang tidak serta kemampuan menganalisa keefektifan suatu proses, patut kami dukung. Ini bagian dari kemampuan matematika logikanya yang berjalan. Ia mampu mengevaluasi rencana sebelumnya untuk berkunjung ke kampus-kampus hari ini yang kemudian diundur karena data yang belum lengkap menurutnya.

                Jadilah setengah hari ini kami duduk manis dan berdiskusi tentang jurusan yang ingin ia ketahui dari alamat web yang ada. Kami mencocokkan dengan hasil minat bakatnya pada pilihan jurusan yang saat ini ia mau ketahui. Membersamai anak remaja melalui proses pengambilan keputusan itu kadang membuat kami harus mundur sejenak untuk melihat apa yang sedang ia usahakan. Memberikan ruang diskusi dan kesempatan memutuskan tanpa mendengar, akan berakibat melemahkan daya juang dan rasa percaya dirinya. Minimal, jadilah pendengar aktif yang baik dan berilah ia ruang untuk melakukannya. 

            Diskusi seperti ini sudah ke sekian puluh telah kami lakukan. Sama halnya ketika si sulung akan masuk SMA. Cara yang sama juga kami gunakan. Dua tahun sebelum masuk SMA bahkan sudah kami buka ruang diskusi pemilihan SMA yang seperti apa yang ia inginkan.  Dan tak terasa, tahun depan, si sulung sudah mau menginjakkan kaki ke dunia perkuliahan. Seolah-olah, bekal yang kami berikan belum cukup untuk membersamai menuju pengalaman baru. Namun kami percaya, saat kita telah menanam dan mengkokohkan pondasi agama dalam diri seorang anak, serahkan sisanya pada Sang Pencipta.
            Entahlah, Allah telah menyapkan rencana apa lagi untuk kami belajar dari si sulung yang hebat ini. 

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial