8. Scale Up Your Impact

8. Scale Up Your Impact

Masya Allah, perjalanan belajar berproses di program Bunda Salihah akan segera berakhir. Bunda Salihah adalah tahapan belajar perkuliahan di Institut Ibu Profesional. Saya teringat lima tahun lalu saat mulai masuk perkuliahan tahap awal. Banyak sekali pembelajaran menguatkan pondasi diri dan keluarga yng didapat. Tak hanya itu, saya menemukan keluarga baru yang tak menggunakan indicator keberhasilan yang sama antar kita. Karena kita memiliki tujuan dan misi berbeda dalam setiap keluarga.


Sejak awal, saya selalu menggandeng dan melibatkan keluarga inti dalam bermain dan seseruan di perkuliahan. Mulai dari tahapan program Matrikulasi, Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif hingga Bunda Salihah sekarang ini. Bila ada permainan dan tantangan yang harus dilakukan bersama, maka merekalah orang-orang pertama yang akan saya ajak main. Bila tidak ada tantangan yang diminta dalam setiap tahapannya, maka saya menceritakan proses apa yang sedang saya alami di perkuliahan itu. Ada kalanya memang tak melulu melakukan tantangan dan main bareng di antara perkuliahannya. 


TANTANGAN BILA KELUARGA ADALAH TIM INTI 

Memiliki tim inti dari keluarga tentu memiliki tantangan tersendiri. Menggemaskan kalau menurut saya tuuh. Banyak hal yang kadang menjadi area yang harus diperhatikan dan diwaspadai karena tim inti adalah keluarga sendiri. Berikut ini tantangan yang perlu diwaspadai saat kami adalah tim inti dalam setiap projek yang dilakukan bersama keluarga :


1. Rasa empati yang tidak pada tempatnya

Gimana dah maksudnya tidak pada tempatnya? Jadi gini, ketika keluarga inti menjadi rekan satu tim dalam bekerja sama melakukan banyak projek professional, maka ada satu titik kita akan berada pada rasa empati yang tidak pada tempatnya. Entah karena kasihan karena melihat tim kecapean karena tugas kuliah atau muncul menghalalkan kelonggaran-kelonggaran dalam tanggung jawab. 


Saya merasakan hal tersebut di atas terutama bila tenggat waktu kesepakatan untuk penyelesaian projek bersama, sudah dekat. Rasa empati dan kasihan itu beda tipis, Mak. Mungkin karena itulah bisa dijadikan alasan yang dimanfaatkan dalam pelaksanaan projek bersama. 


2. Fleksibilitas waktu yang bisa menjadi dua mata pisau

Saat duduk bersama dalam satu meja untuk mendiskusikan banyak hal, kesepakatan dalam mengelola waktu pengerjaan itu bisa menjadi penyemangat. Karena merasa kami ‘selalu’ mudah dalam berkoordinasi karena satu rumah. Namun perasaan memudahkan, menggampangkan dan sejenisnya terkait waktu itu bisa menjadi mata pisau yang menyakitkan manakala perasaan itu hadir. Bikin deg-deg an terus.


Maka menjadikan value keluarga untuk terus tumbuh dalam diri keluarga masing-masing, menjadi tantangan dan jawaban menegangkan. 


Dua hal ini lah yang paling menantang dalam diri saya selama mengelola projek keluarga. Kadang tuh yaa, suka merasa kasihan dan kemudian membolehkan mundur dari jadwal, gpp deh dikerjain segini aja atau bahkan ada tanggung jawab yang dikerjakan oleh anggota lain kaena perasaan kasihan yang muncul. Ini kan ga mendidik banget. Hahaha. Saya masih terus belajar menguatkan konsisten dan komitmen yang akan dibangun dalam projek keluarga hingga saat ini. 


Namun dibalik itu semua, saya merasa terbantu sekali ketika keluarga inti menjadi tim projek. Inilah yang paling menonjol manfaatnya selama keluarga menjadi tim inti projek.


1. Tahu kekuatan masing-masing

Ini adalah hal pertama yang saya rasakan. Ya karena keluarga sendiri, tentu saya tahu kekuatan dan kelemahan anggota keluarga. Sehingga saat projek akan dilakukan, kami sudah tahu akan mengambil peran di bagian apa dan sebagai apa. Maha Besar Allah yang mengumpulkan kami dalam sebuah keluarga. Kalau ditulis dan diperhatikan secara seksama, kami, satu sama lain saling melengkapi kekuatan yang ada.  Tak hanya membuktikan bahwa kita adalah mahluk yang tidak bisa berdiri sendiri, kita butuh dukungan orang lain. Kekuatan tim dalam sebuah keluarga juga memberikan dorongan dan banyak kejutan dari dalam sendiri. Ada perasaan mereka selalu ada untuk melengkapi kekuatan yang kita miliki. Akan selalu ada dukungan tak kasat mata saat salah satu sedang menghadapi tantangan. Saya merasa mungkin komunikasi menjadi salah satu pemicu utama perasaan itu muncul. Karena komunikasi menjadi gerbang terdepan apapun tanggung jawab yang diberikan. Rekan kerja yang satu keluarga menjadi nilai positif tersendiri.


Ketika 7 tahun lalu saya dan suami mengenal Talents Mapping, kami berdua memutuskan menggunakan bahasa bakat dan tools yang kita sepakati dalam mendidik anak. TM adalah salah satu tools yang kami sepakati untuk kami gunakan dalam beraktivitas di keluarga. Ayah sang intelection dan analitical pun membuat peta kekuatan kami berempat dan mendiskusikan bersama kami, saat itu. Ini dia penampakan peta kekuatan keluarga Azkail.


img-1639530433.jpg


Dari peta kekuatan keluarga inilah yang kemudian menguatkan kami untuk terus membuat aktivitas projek keluarga yang tim intinya adalah kami berempat. Dan itu berlangsung sampai sekarang dibantu dalam pengaplikasiannya dari perkuliahan yang saya ikuti di Institut Ibu Profesional.


2. Bisa mendiskusikan dalam kondisi apapun

Hal ini menjadi nilai tambah buat saya saat keluarga inti menjadi rekan kerja professional. Kami bisa mendiskusikan dalam banyak kesempatan tanpa dihalangi ruang dan waktu yang ada. Kami menyepakati banyak hal dan munculnya ide justru saat obrolan ringan di dapur atau saat ngruntel di kasur. Momen-momen ini bisa memang kita ciptakan atau bahkan seringnya muncul begitu saja saat kami berempat ada dalam satu kondisi.


Nah, berangkat dari kelebihan dan kelemahan bila tim inti diambil dari keluarga sendiri. Ini memudahkan saya dalam menentukan tujuan dan misi hidup berikutnya dalam rumah tangga-keluarga. Saya jadi punya gambaran menarik, dari kekuatan yang saya miliki, apa yang bisa saya support untuk masing-masing anggota keluarga? Mainan apa yang bisa kami lakukan bersama namun bisa meningkatkan daya juang, performa dan sejenisnya dalam diri kami masing-masing. Sehingga muncullah dalam setiap projek bahwa saya akan menambah minimal satu perbaikan dalam diri yang bisa menjadi support bagi keluarga. Saya hanya berpikir, kalau setiap projek dan mainan yang kami lakukan itu bermanfaat minimal untuk perbaikan dalam diri sendiri, tentu orang terdekatnya akan tertulari kebaikan itu juga. 


Di perkuliahan Bunda Salihah inilah semakin menguatkan saya untuk terus menatap, mendekat dan menggapai tujuan itu. Akhirnya saya mengerti bahwa manakala tujuan pertama terlampaui, maka dengan sendirinya akan muncul tujuan berikutnya. Indikator itu tercapai untuk saya pribadi. Bila merujuk pada jurnal harian dalam notes saya pribadi, banyak hal baik yang mulai konsisten dilakukan. Dan ini menjadikan saya seorang ibu pembaharu bagi diri sendiri. Selalu memperbaharui hal baik dan berusaha menjalankan dengan konsisten.


Cara dan tahapan itu tak lepas dari pengalaman belajar di tahapan Bunda Salihah. Saya mendapat banyak sekali insight tentang struktur berpikir dalam menentukan sesuatu. Ini pencapaian luar biasa buat saya yang kadang masih lompat sana sini. Saya paham mengapa suami saya sangat peduli untuk melatih saya menyelesaikan masalah dengan diskusi detil yang sering membuat otak ini mendidih. Saya tautkan dengan materi di Bunda Salihah dan masya Allah hasilnya.


Maka memiliki tujuan, misi hidup dan rencana pencapaian itu penting, namun yang lebih penting lagi adalah kerendahan hati kita selama melakukan tahapan demi tahapan. Semua pencapaian ini adalah karena adanya ijin dari Allah kita sampai pada titik ini.


Terima kasih tim Azkail yang selalu siap menemani dalam setiap etape perjalanan belajarnya bunda ya.


Simak keseruan kami saat keluarga menjadi tim projek dalam video ini


Sumber : http://azkail.com/8-scale-up-your-impact-detail-439960