Belajar Bersama Kelas Bunda Sayang

Belajar Bersama Kelas Bunda Sayang

Resume materi level 3-Kecerdasan


Tanggal 2 januari 2018 lalu materi kecerdasan untuk level 3 sudah dimulai. Setelah libur akhir tahun, teman-teman hebat di kelas bunda sayang akhirnya bertemu kembali dengan materi baru. Materi yang mengupas tentang pentingnya meningkatkan kecerdasan anak demi kebahagian dalam hidup.  Tak hanya mengupas soal perbedaan antara bahagia dan sukses, materi kali ini juga memunculkan tentang ragam kecerdasan yang ada. Apa saja komponen masing-masing kecerdasan dan apa tipenya. Diskusi dimulai satu jam berikutnya dan saat kelas malam.  Seluruh peserta mulai membaca dan mencerna pelan-pelan materi kali ini. 


Diskusi dimulai dari pertanyaan mba Fajrina Addien yang tergelitik dengan nilai akademis pada lembaga pendidikan itu apakah masuk dalam kategori kecerdasan intelektual saja atau menggunakan kecerdasan yang lain juga?


Diskusi seputar ranking yang diterapkan pada beberapa lembaga pendidikan menjadi bahan diskusi kelas kami. Hingga adanya missing link antara apa yang digunakan saat pemberian dan penerimaan materi di sekolah, yang nota bene menggunakan beberapa kecerdasan yang ada, namun pada ujungnya, hanya menghasilkan evaluasi satu kecerdasan saja, yaitu kecerdasan intelektual (IQ). Berikut ini beberapa kutipan diskusinya :


mba Hening :

Memang sekolah umumnya dominan melihat kecerdasan intelektual

Meskipun dalam kurikulum 2013 sudah Mulai menstimulasi dan menggunakan penilaian aspek sikap sosial, spiritual, pengetahuan, dan keterampilan

Tapi, nyatanya, semua pihak yg dilihat pertama biasanya pada aspek pengetahuan


Ya mungkin bisa dibilang salah satu kelemahan sistem pendidikan kita

Meski ada berbagai macam kecerdasan, tp sekolah, terutama negeri belum bisa mengakomodir semua tipe kecerdasan secara maksimal


mba Fajrin :

kelah Ipa masuk naturalis, tapi prakteknya kan sebatas teori dan hapalan ,krn memgejar nilai itu td😆


mba Adnin :

Saya merasa

Lingkungan sekitar saya

Nyaris 100% msh melihat

Anak cerdas dan pintar itu rangking 1


Fasil :

yup, dan kita juga melihat ada upaya pemerintah untuk memperbaiki sistem itu. hanya belum sampai pada akar rumput, belum menyeluruh. sedihnya, belum semua sekolah siap menggunakan sistem non peringkat. karna mengamati anak 40 dalam satu kelas yang mencakup 9 kecerdasan, butuh effort luar biasa.


dengan model kurtilas pun, ternyata tidak semua sekolah siap terkait konsep dan teknis.


sedih juga kalau burung pun harus pandai berenang. karena setiap anak menjadi peringkat di areanya masing-masing.


jadi, apa yang bisa kita lakukan pada anak-anak di rumah sebagai kepala sekolah  dan manajer operasional di rumah?


mba Chusna:

😟😟 betuul...

Saat orang tua menyekolahkan anak di sekolah yg ramah pada kebutuhan anak dibilang "sekolah opo kui?"

Hanya karena ujiannya lewat kesetaraan... 

Disitu saya merasa gemeesh  😣😣😣


mba Adnin :

Upaya pemerintah udah bagus

Tp blm siyap secara keseluruhan

Kalau mmg mau kurtilas

Ya UANnya jgn per mapel

Training guru juga hrs jalan trs


Kalau msh spt skrg

Ya guru bingung 

Siswa lbh bingung


mba Afa :

Mendampingi proses belajar anak seperti yang dilakukan pasangan bu septi dan pak dodi itu bener2 impian banget buat saya kelak 😊😊😊


Fasil :

pada pelaksanaannya, bisa jadi beberapa kecerdasan digunakan, namun ujungnya hanya mengeluarkan bentuk yang sama, warna yang sama dan bisa jadi menggunakan satu kaca mata, satu pengukuran kecerdasan saja.

atau prosesnya bisa 4 kecerdasan yang digunakan, tapi yang diapresiasi hanya dua dari 4 kecerdasan itu


mba Wening :

Bener mbak, kl memikirkan masa depan pendidikan anak.....rasa bersalah ini muncul 😭😭


mba Fajrin :

Aku selalu menekankan pd diri sendiri


Ke anakku yg umur blm genep 4 th

Leee cah bagus, besok nggak rangking 10 besar gpp nak. Sing penting kamu sayang Alloh dan keluarga.

Jadi anak soleh yg sllu bisa diandalkan dan berdaya guna bagi masyarakat

😅😅😅😅

Sambil terus mngingatkan diri sendiri, agar g panik saat pertemuan kluarga besar dan diperbanding2kan


mba Wening :

Samsoyo nangis mbak Ika, miris 😭😭😭😭😭😭

Saya koq membayangkan sekolah seperti pabrik

Mencetak input dg segala macam rupa dan potensi

Digiling, digilas, lalu dicetak dalam bentuk, warna, dan ukuran yg sama

Koq ngeriiiiiiii


Fasil :

jadi, apa yang bisa kita lakukan di rumah ya? dari hal yang paling sederhana?


mba Wening :

Home based education mbak Ika??


mba Afa :

melihat sisi lebih dari masing2 mereka, kmd mensupport mereka pada sisi kelebihan mereka.


mba Adnin :

Kalau saya

Ga pernah kecewa dgn apapun nilai sekolahnya

Saat dia pulang

Tersenyum dari jauh

Trs berbisik

Mak mak

Aq remidi 3 mapel


mba Fajrin :

Kalau saya lebih ke munumbuhkan rasa percaya diri anak.

Membuat ia menyadari bahwa untuk anak seusianya, prestasi bukan ttg rangking d kelas.

Mengajak dia agar tdk ikut terintimidasi dan berani berbeda.

Sesuai dengan bakat dan kecerdasannya.


mba Wening :

Uuuuummmmm......

Untuk anak yg bersekolah, bisa dengan memberikan pengayaan di rumah seperti life skills yang menstimulasi berbagai macam tipe kecerdasan anak kita.


Fasil :

yup. 

karena ga ada sekolah yang 100 % sesuai dengan apa yang kita inginkan. maka lengkapilah di rumah apa yang tidak ada dan tidak terfasilitasi di sekolah


img-1515508558.jpg

Fasil :
penting bagi kita, orang tua, faham apa kelebihan anak-anak kita, sehingga kita mampu melengkapi apa yang belum terfasilitasi tadi. kadang, kita 'terbiasa dan mudah sekali' melihat kekurangan anak dari pada melihat kehebatannya... #self talk

Dan diskusi berlanjut hingga malam hari dan keesokan harinya. Mulai berbagi cerita tentang kurtilas, ktsp hingga membahas tentang bully membully, bagaimana kekuatan orang tua dalam memberikan dukungan moril pada anak agar percaya diri dalam menyelesaikan setiap masalah.


Sumber : http://azkail.com/belajar-bersama-kelas-bunda-sayang-detail-56723?page=4