Keseruan Lain Fasilitator Online di Bulan Ramadhan

Keseruan Lain Fasilitator Online di Bulan Ramadhan

Menjadi fasilitator online di sebuah komunitas pembelajar itu rasanya nano-nano. Selain harus mampu mengelola gadget time, pemilihan diksi dan kemampuan menghidupkan suasana kelas juga sangat berpengaruh. Berbeda bila kita berada dalam ruang kelas offline yang bisa tatap muka dan melihat air muka para penghuni kelas. Kalau menjadi fasilitator online, maka kemampuan membaca diksi termasuk emot di dalamnya, menjadi keseruan lain.


Saat ini saya mengampu kelas remedial. Sesuai dengan namanya, maka seluruh pesertanya pernah mengikuti kelas serupa sebelumnya namun belum lulus, sehingga mengulang di batch ini. Mengelola kelas remedial itu memiliki tantangannya sendiri. Alih-alih para peserta yang sudah tahu seperti apa materi belajarnya, kemampuan menghidupkan suasana diskusi menjadi tantangan yang paling yahud di kelas remedial. Ditambah lagi, saat materi camilan hadir, tidak ada diskusi sama sekali. berbeda dengan aturan sebelumnya yang membuka ruang diskusi saat camilan hadir. Jadi, kelas remedial itu akan hidup saat diskusi materi dan jumat hangat saja. Di luar itu kelas hening. Tapi jangan tanya soal pengumpulan tantangan ya, mak. Peserta remedial sigap dalam menyelesaikan tugas-tugas ini tanpa perlu sering-sering saya reminder, tanpa perlu menjelaskan teknis pengumpulannya. Ya karena mereka sudah pernah mengalami hal seperti ini di kelas sebelumnya. Dari 39 peserta yang tidak rampung menyelesaikan tugas, paling hanya 4 orang saja. Itu pun karena kesibukan atau sakit yang sudah dikonfirmasi ke saya. 


Rasa yang jauh berbeda saat saya mengampu kelas reguler, yang semua pesertanya belum pernah mendapatkan isi materi atau materi mingguan. Ini seru diskusinya, sebagian besar aktif berbicara dan mengungkapkan pendapat dan keseruannya menjalankan tantangan demi tantangan. Namun perlu effort besar terkait mendampingi urusan teknisnya. Mulai dari cara nggeret link tulisan hingga reminder aturan kelas dan syarat kelulusan pun harus terus digaungkan agar menjadi aware untuk kelas itu. Tapi saya sukka, karena jadi sering berinteraksi dengan peserta.


Di luar dari itu semua, saat belajar bersama mereka di kelas remedial ini, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Tentu saja jam diskusi berubah total. Kami menyepakati jam belajar dipindah ke pagi hari. Alhamdulilah selama bulan Ramadhan seluruh peserta mampu menyelesaikan tantangannya dengan baik. Sepertinya waktu untuk menulis lebih banyak dibanding bulan sebelumnya. Mungkin karena jatah istirahat sedikit berkurang, para ibu pembelajar bisa memanfaatkan waktu menulis tantangannya di sela sahur atau jelang berbuka. Ini terlihat dari naiknya jumlah peserta yang menyelesaikan tantangan. Saya pun merasakan hal yang sama. Kesempatan untuk membaca tulisan teman-teman peserta jauh lebih banyak. Entahlah, saya hanya berdoa semoga ini menjadi kebiasan baik yang bisa dikonsistenkan di bulan- bulan berikutnya. Memiliki waktu membaca yang rutin.


Mak, saya menikmati mengampu kelas keduanya, remedial atau reguler. Karena masing-masing kelas memberikan warna baru saat belajar bersama di dunia maya. Terutama tentang bagaimana belajar konsisten  gadget time. Pengalaman unik di kelas remedial saat melakukan tantangan, kenikmatan membaca tulisan semua peserta yang beragam platform, menjadi penyemangat baru dalam belajar dan meremedialkan kembali soal pengasuhan anak.

Tak ada satu daun yang jatuh tanpa sepengetahuanNya. Demikian juga selalu ada kebaikan dalam setiap langkah kehidupan yang kita alami, termasuk mengapa saya berada di lingkungan pembelajar online ini. Bersyukur itu akan banyak mendatangkan kebaikan, bukan?


Sumber : http://azkail.com/keseruan-lain-fasilitator-online-di-bulan-ramadhan-detail-413605