Serunya Dibalik Layar Selebrasi Ala Hexagon City

Serunya Dibalik Layar Selebrasi Ala Hexagon City

“Wah, saya bisa bantu apa nih?”

“Teman-teman, ini ada slot kosong, siapa yang siap untuk isi meramaikan selebrasi kita?”

“Yang punya ide untuk rencana sebrasi, silahkan isi di sini ya.”

-

Beberapa hari terakhir kemarin, Whatsapp group kelompok saya sedang riuh diskusi jelang selebrasi. Ya, perkuliahan di kelas bunda produktif sudah di ujung gerbang. Kami sudah berada pada zona terakhir untuk menyelesaikan petualangan di kota virtual. Gegap gempita rencana selebrasi untuk satu cluster kami di cluster pendidikan, terasa sampai ke CH kami. Beberapa kali informasi masuk tentang apdet hasil diskusi di cluster terkait persiapan dan rencana lain. Karena ternyata tidak semua anggota kelompok kami ada di WAG persiapan selebrasi. Jadi wajar saja beberapa informasi harus disampaikan kembali kepada kami di grup. 


Saya pun membayangkan riuhnya di grup cluster untuk persiapan ini. Bayangkan saja, di cluster pendidikan ada 9 kelompok. Yang rata-rata dalam satu kelompok berjumlah 6-10 orang. Artinya sekitar 50 an kepala yang akan ikut menyumbang keseruan dalam mempersiapkan selebrasi itu. Lalu bagaimana cara mendiskusikannya? Bukannya kalau terlalu banyak ide bermunculan akan makin membingungkan? Apalagi mamak-mamak kalau sudah ngumpul, uwow yekaan. Bisa terjadi pembicaraan mulai dari bawang sampai presiden. Aiiih, bukan mamak-mamak kalau ga banyak ide cling.  Bukan emak-emak yang produktif yang tidak tahu bagaimana cara menjalankan sebuah aktivitas produktif.


Judulnya aja kelas bunda produktif, maka sudah seyogyanya mahasiswa yang ada di situpun menjadi mamak-mamak yang produktif. Judul  atau nama sebuah aktivitas bisa menjadi doa untuk seluruh pemainnya. Kota virtual hexagon city memiliki tagline kota produktif, warga solutif dan penuh solusi. Ini yang kemudian harus terinternalisasi pada setiap warga hexagon city. Dan saya merasakan tagline itu merasuk ke dalam kelompok kami di CH 6 blok kamus.


Zona sebelumnya, kami diingatkan oleh founding mother, bu Septi Peni Wulandani, terkait cara menyelesaikan tantangan dan berpikir runut melalui  six-thinking-hats- nya de Bono. Nyaris setiap menemukan tantangan setelah bahasan zona tersebut, kami, para warga, berusaha menggunakan enam topi berppikir kami untuk menemukan solusi dan bisa mengeksekusinya dengan baik dan benar. Maka hal ini pun terasa sekali kerennya emak-emak dalam menyelesaikan tantangan persiapan dan pelaksanaan selebrasi cluster. Persiapannya hanya empat hari loh dan itu ada hari Sabtu dan Ahad yang merupakan GFOS (Gadget Free on Sunday) bagi kami. Sebuah aplikasi bantuan bernama jamboard menjadi jembatan kami berkomunikasi Leader cluster sesekali mengingatkan progressnya atau untuk mengisi ide dan sejenisnya di aplikasi tersebut. Menarik, semua berpartisipasi mengisi dan menyumbangkan ide. Dan ini dia penampakannya setelah semua ide masuk dari segitu banyaknya orang. 


img-1615214839.jpg


Saya memilih terlibat sebagai…

Dua hari jelang selebrasi, leader CH saya menyampaikan bahwa masih tersedia banyak slot kosong. Wajar juga sih, karena biasanya Sabtu dan Ahad tuh, jarang banget yang pegang hape itu mamak-mamak.  Beberapa poisisi saat akan live selebrasi Senin tanggal 8 Maret 2021. Selebrasi yang disiarkan langsung di tiga channel institut ibu professional itu bikin seru dan deg-deg an, Senin kan udah sebentar lagi, tapi slot kosong untuk beberapa PIC belum terpenuhi. 


Lihat punya lihat, cek jadwal untuk hari Senin, saya pun berinisiatif untuk ikut seseruan jadi ice breaker. Saya pilih menjadi ice breaker karena 


1. Durasi live pendek

Ga perlu nonstop satu jam berada di studio live. Selesai manggung, boleh langsung pulang. Di jam live selebrasi nanti itu, saya sudah masuk zoom yang ketiga, artinya, sudah dari pagi mata saya kelamaan menghadap layar. Duuh, bisa kotak dah wajah saya nanti karena kelamaan menatap layar. Alhamdulilah bisa ikutan berpartisipasi walau hanya beberapa minit sajooo.


2. Saya suka hehorean, seseruan. 

Namanya juga ice breaker, ice itu es, breaker itu pemecah. Jadilah pemecah es. Ya ampuuun gini amat ngartiinnya. Hahaha. Sederhananya tuh, membuka keran kebahagian gitu dah saat acara. Biar ga diem-diem bae selama acara berlangsung. Ice breaking disimpan di awal acara khusus untuk membuka kran kebahagian untuk mengalir deras. Ga tau deh, tadi tuh  beneran bisa mengalirkan kebahagiaan apa kagak yak. Hehorean dan seseruannya semoga sampai ke rumah masing-masing yaa.


3. Bahagia karena membahagiakan orang lain

Ketambahan pulak untuk membagikan doorprize dari ice breaker. Memberikan kebahagiaan untuk orang lain itu kan nikmat tiada tanding. Seneng kalau lihat orang lain bahagia. Bahagia kalau lihat orang lain seneng. Jadi tadi siapa yang dapet doorprize? Padahal yaa, pemirsah tuh belum tak info dan belum tau apa aja hadiah yang akan dibagikan, tapi anehnya, mereka mau aje ikutan main. Terima kasih ya kawans. Saking banyaknya yang ikutan maen, ampe siweur ngliat kolom komen yang bererot banyak. Panitia bungung milih pemenangnya.


4. Live ngoceh, bukan live ngetik di WAG

Lebih cepat, lebih ‘mudah’, lebih seru ngoceh langsung dari pada kudu ngetik seseruan di WA. Jari saya nyaris jempol semua, gedenya rata, montok-montok pulak. Maka perlu effort besar untuk seseruan kalau di WAG. Terutama bila menggunakan ponsel. Saya nagkat bendera putih, Esmeraldaaa. Tapi alhamdulilahnya in live ngoceh, bukan ngetik di WAG atau sejenisnya.


5. Partisipasi semampunya

Yes, selagi bisa dan mampu, berusaha memberikan yang terbaik yang kita miliki, hajar aja bleeh. Hahaha. Ikut aja , terlibat aktiflah maka rasa itu tak bisa dibayar dengan kuaci segerobak, engga mak, ga bisa. Karena cuma hati ku dan hatinya yang bisa merasakan itu. Apaan sih. Duh, ya, pokoknya, selama memang kita mau, bisa dan mampu bertanggung jawab untuk melakukannya, kemapa ga ambil bagian. Dimanapun kita berada, lakukan aja yang kita bisa. Jangan pernah merasa kecil dalam sebuah lingkungan. Karena bila kita mengijinkan untuk mengeclikan diri kita sendiri, maka seperti itulah diri kita. 


Saat live

Kehebohan di offline mulai menggoda. Sudah beberapa hari ini, di rumah sedang kedatangan tiga ponakan nan menggemaskan. Di jam yang nyaris sama untuk saya manggung menjadi ice breaker, para ponakan itu juga ada kelas online yang perlu didampingi di awal terlebih dahulu untuk urusan teknis. Aiih, pas laper pulak. Baru inget tadi masak aja tapi ga lanjut makan. 


Jam 10.40 wib perut saya kroncongan, pemirsah. Di saat yang bersamaan, s ponakan pertama, harus membuat susunan gelas yang diisi air yangharus mengeluarkan bunyi yang  berbeda satu dengan lainnya. Jadilah saya setting dulu untuk urusan isi airnya demi menghasilkan suara yang berbeda. 


Lalu, bahagiakah dengan tantangan sebelum live? Owh, seneng doong. Karena saya merasa bisa melakukan sesuatu dengan produktif. Lihat saja di link ini ya saat selebrasi cluster kami.


tonton di sini ya


Ada yang tertarik untuk ikutan ? yuuk 


Selebrasi yang diinisasi oleh setiap cluster memberikan rasa haru, senang dan juga sedih buat saya. Enam bulan perjalanan belajar bareng tuh kok ya ga terasa yaaa. Sebentar lagi sudah mau selesai ini kelas. Tapi tenaaang, kami akan terus lanjut di kehidupan sesungguhnya walau kelas sudah selesai. Karena di jenjang berikutnya, pasti akan banyak kejutan menarik untuk menaikkan keterampilan dan kompetensi sebagai perempuan Indonesia.


Sumber : http://azkail.com/serunya-dibalik-layar-selebrasi-ala-hexagon-city-detail-433956