Serunya Menjadi Fasilitator Kelas Online

Serunya Menjadi Fasilitator Kelas Online

"Bila kita memiliki banyak harta, kita akan menjaga harta.

Tapi jika kita memiliki ilmu, maka ilmu lah yang akan menjaga kita."

-Aa Gym

Dalem banget ya, mak, kata Aa Gym. Tapi bener ya kalo dipikir tuh berapa banyak coba yang kita dengar dan tahu akibat dari harta bisa menimbulkan banyak perpecahan. Pertemanan hingga menjauhnya keluarga karena harta. Bersyukurlah kita yang masih memiliki keinginan untuk terus belajar kapan dan di mana pun berada. Salah satu hadist terkenal sering kita dengar agar menuntut ilmu sejak dalam buaian hingga liang lahat. Artinya sudah jelas, selama kita hidup, belajar itu tak boleh berhenti kecuali  saat kematian menjemput.Mulai dari anak-anak sampai sudah jadi ibu-ibu gini. Hihihi.


Proses untuk mendapatkan ilmu itu bisa dari banyak jalan. Salah satunya adalah dengan menjadi fasilitator. Ya, kesempatan ini terbuka saat saya menjadi member komunitas Ibu Profesional. Berawal karena ingin mencari komunitas belajar yang bisa dilakukan dari rumah dan bisa berbagi banyak hal di komunitas itu. Bertemulah dengan IP ini. Dimulai saat menjadi mahasiswi perkuliahan online yang dibuka oleh IP. Lulus matrikulasi dan kelas berikutnya, lalu melamar menjadi fasilitator saat kesempatan itu hadir. Waktu itu saya mendaftar untuk menjadi fasilitator offline, namun qodarullah belum beruntung karena kelas offline baru bisa dibuka bila ada minimal 10 mahasiswi, dan saat itu jumlah mahasiswi tidak mencapai 10 orang. Di kesempatan berikutnya, saya mencoba melamar lagi tapi menjadi fasilitator online.Dan akhirnya Allah memberikan saya kesempatan belajar yang luar biasa selama menjadi fasilitator. Pertanyaannya, kenapa sih kok mau jadi fasilitator? online pulak. Baiklah, ini di alasannya :


1. Meremedialkan diri

Salah satu syarat menjadi fasilitator adalah lulus kelas yang akan dilamar saat itu. Jadi kalau mau melamar menjadi fasilitator kelas bunsay,tahun lalu loh ya,  salah satunya minimal sudah lulus dari perkuliahan kelas bunsay. Buat saya, menjadi fasilitator itu adalah belajar kembali. Meremedialkan kembali seluruh materi yang ada. Tak hanya iti dalam setiap tantangan bulanannya, tanpa saya sadari juga ikut serta melakukannya bersama keluarga di rumah. Saat diskusi di kelas, semua mahasiswi merefleksikan apa yang telah dilakukan, saling berbago pengalaman dan ini menjadi pecut berharga buat saya dalam memperbaiki diri.


2. Belajar berkomunikasi melalui tulisan

Yup, bettul. Menjadi fasilitator perkuliahan online yang menggunakan platform whattsapp (WA) itu sesuattu banget, mak. Diskusi dan pemberian informasi seputar perkuliahan diberikan melalui grup WA. Tak seperti komunikasi lisan yang bisa melihat air muka lawan bicara, lah ini kita menggunakan dunia maya. Dan tulisanlah yang menjadi ujung tombaknya. Di situ saya belajar, memilih diksi yang baik dan benar. Mengoreksi dan memahami setiap kata dulu sebelum dikirim ke grup kelas. Menambahkan emot saat terjadi diskusi atau sekedar percakapan biasa. Dan akhirnya membawa suasana kelas menjadi riuh dan seru saat berdiskusi. Tapi sampai sekarang pun masih belajar untuk memilih diksi yang tepat. Karena saya suka becanda, dan bisa jadi, orang lain yang belum kenal bisa tersinggung dengan apa yang kita sampaikan.


3. Mulai melek digital

Aiih, beneran kalo ini, mak. Namanya kelas online, otomatis menggunakan fasilitas online. Baik yang berbayar atau yang gretong-an. Dan ternyata, banyak yang bisa dipelajari untuk mengelola kelas online dari berbagai aplikasi dan website. Mulai dari fasilitas gratisnya google, aplikasi rapat virtual dengan all facilitator in the world sampai teknis belajar mengolah data. Dunia maya yang sangat luas. Sambil geleng-geleng kepala. #mamak norak yaa. hahaha


4. Bertambahnya pertemanan 

Percaya atau tidak, sekali pun kita kuliah dan diskusi online, teman kita pun bertambah. Karena seringnya ngobrol di dunia maya, kedekatan juga bisa terjalin. Terbukti saat saya pulang kampung, hanya satu kali berkabar, saat sampai di kota tertentu, saya dihubungi teman di kelas itu untuk tinggal atau mampir ke rumahnya. Atau pernah juga kami ngumpul di titik tertentu dekat dengan hotel tempat saya menginap. Kikuk kah awal pertemuan fisiknya? saat awal, iya, tapi langsung cair karena kita sudah merasa dekat sejak awal sekalipun secara virtual.


5. Banyak mendapatkan berbagai jenis ilmu

Ini betul-betul saya rasakan. Sekalipun yang saya ikuti adalah komunitas parenting, namun tak hanya ilmu parenting saya dapatkan. Namun akhirnya meluas ke banyak hal dan pengalaman. Ada saatnya dimana mahasiswi saling berbagi tentang apa yang mereka ingin bagi terkait pengalaman atau ilmu. Mulai dari ilmu kesehatan, pertanian hingga aneka pengobatan.


6.Kesempatan berkreasi

Yup, saya yang senang bikin design atau video sederhana, jadi semakin terasah. Ditunjuk sebagai ketua tim kreatif yang bertugas memvisualkan materi itu sesuattu. Saya yang lebih mudah mendapatkan ide saat tengah malam atau jelang pagi itu semakin seru saat mendapatkan tantangan baru. Kebutuhan saya untuk ngulik sesuatu itu terfasilitasi.


7. Blog saya rutin terisi. Hahaha

Ini penting, mak. Awal bikin blog memang untuk nyimpen cerita keseruannya saat menemani anak-anak tumbuh. Akhirnya beneran diseriusin. Materi selama menjadi mahasiswi plus fasilitator, membuat saya akhirnya menseriusi peta perjalanan anak-anak. Membagi kisah dan keseruannya dalam sebuah tulisan itu bahagia banget. Karena bisa mengeluarkan sebagian besar kata dari 20.000-nya setiap hari. Hahaha. Dan terbukti, dengan usaha, kringet plus jadi emak ngalong, blog ini mendatangkan keberkahan lain. Dari menulis bisa bikin saya jalan-jalan gratis, dapet beberapa produk gretong, dapet transferan pulak. Tapi yang paling penting siih, biar berkah tulisannya karena hanya tulisan yang bisa menjadikan kita abadi walau usia sudah berhenti. Oia, ini salah satu yang bikin saya terus ingin berbagi lewat tulisan mak;


img-1556639324.jpg

Padahal banyak blogger lain yang keren pun ikut ajang itu. Tapi Allah selalu memberikan kesempatan biasa menjadi luar biasa di setiap saat. Ini memicu saya untuk terus memperbaiki diri dalam mendampingi anak-anak. Dan dengan adanya blog ini, sebagai ikhtiar saya untuk menjejak kebaikan melalui tulisan. #uhuk


Dah, itu aja

Sumber : http://azkail.com/serunya-menjadi-fasilitator-kelas-online-detail-412526