Home / Artikel Rahasia kematian alam akhirat dan kiamat

Rahasia kematian alam akhirat dan kiamat

Rahasia kematian alam akhirat dan kiamat

Resensi Buku lain-lain

Kamis, 08 November 2018

"Ingatlah kematian

niscaya kamu akan mendapati kenikmatan

Ingatlah kematian 

dapat mematahkan angan-angan yang kosong belaka" (Syair)


Kematian itu memang pasti, datang bisa tiba-tiba atau dengan tanda yang seringnya kita tak sadar. Buku terjemahan karangan Imam al Qurthubi ini sangat saya rekomendasikan untuk seluruh ummat muslim. Buku yang banyak sekali mengandung hikmah dan peringatan kepada kita tentang dan bagaimana kematian, alam akhirat  serta kiamat itu. Buku setebal 758 halaman, terdiri dari 3 bagian yang di dalamnya terdiri dari puluhan bab. Menjelaskan detil sekali mulai dari datangnya kematian, perjalanan seorang hamba saat maut menjemput, ke liang lahat apa yang terjadi hingga hari kiamat itu sendiri. Hadist serta aya al Quran sebagai penguat penjelasan sangat dalam. Bahasa yang dipergunakan pun sangat sederhana. Terbuka sekali pengetahuan kita akn sesuatu yang sudah seharusnya kita wajib yakini. 


Bila buku-buku lain kalau saya baca bisa langsung selesai lalu disambung dengan membuat mind-map nya, namun untuk buku luar biasa satu ini, saya habiskan dalam waktu yang cukup lama. Karena dalam setiap sub bab nya kadang dibaca sambil gemetaran, seringnya malah sambil menangis membayangkan bila itu terjadi pada diri sendiri. Buku best sellernya penerbit Akbar ini membuat saya banyak berpikir dan mengevaluasi diri. Karena adalah betul bahwa cara paling ampuh untuk muhasabah adalah dengan mengingat kematian. Salah satu caranya ya bisa dengan membaca buku ini.

Belakangan setelah buku ini menjadi best seller bahkan sempat harus inden belinya, muncul buku-buku dengan judul dan isi serupa. Tapi dari semua jenis buku itu, saya merekomendasi buku ini. Sangat detil, mak. Detil sekali. Kekuatan penggambaran dan penjabarannya plus mengutip ayat al quran yang sangat luar biasa. Ada satu perkataan dari Abul Atahiyah yang termaktub di halaman 13 yang saya suka;


"Heran aku pada manusia

Seandainya mereka mau introspeksi diri, melihat,  dan melewatkan dunia pada yang lain, mereka akan tahu bahwa dunia itu hanyalah sebuah jembatan

Tak ada kebanggan sejati

Kecuali kebanggaan orang-orang yang bertaqwa

Kelak ketika Allah mengumpulkan semua mahluk di padang mahsyar, mereka akan tahu bahwa bertaqwa dan berbakti adalah simpanan yang terbaik

Aku heran pada orang yang begitu sombong, padahal besok ia akan dikubur tanpa punya kuasa untuk menyegerakan yang diharapkan dan menangguhkan yang ditakuti

Semua yang ia usahakan berpindah pada orang lain."



Di bagian pertama kita sudah disuguhkan tentang hadist, kisah dan ayat al Quran tentang bagaimana pedihnya bila maut datang menjemput. Kisah tentang bagaimana Nabi SAW manusia terbaik di muka bumi ini menemui ajalnya, bagaimana Nabi Musa menjemput kematian. iceritakan bahwa kematian Nabi Musa itu bagaikan burung Emprit yang dipanggang hidup-hidup di atas alat pemanggangan tanpa bisa mati  supaya tidak merasakan apa-apa lagi dan tak bisa terbang lagi. Atau dalam riwayat lain disebutkan "Aku dapati diriku seperti seekor kambing yang dikulilti hidup-hidup oleh seorang tukang jagal." Itu baru kematian para nabi, lalu bagaimana dengan kita?


Satu yang perlu kita ingat bersama, menurut para ulama sepanjang yang memberikan hidayah adalah Allah, sepanjang sikap istiqomah itu tergantung pada kehendak Allah, sepanjang akibat yang terjadi tidak ada yang sanggup mengetahui selain Allah, dan sepanjang keinginan Allah di atas segala-galanya, maka kita jangan keburu mengagumi iman kita, shalat kita, puasa kita, amal-amal kita yang lain dan seluruh pengorbanan kita. Kendatipun secara lahiriah itu adalah betul hasil jerih payah kita. tetapi pada hakekatnya Allah lah yang menciptakannya. Dengan kata lain, kita bisa melakukan semua itu semata-maa adalah karena karunia Allah semata. Jangan sombong.


Kalau kita bangga akan semua hal itu, maka tak ubahnya seperti kita sombong  dan merasa bangga atas barang milik orang lain, bukan milik kita sendiri. Astagfirullah. Saat membaca kembali buku ini, saya pun teringat akan sebuah pusi sederhana yang pernah saya buat beberapa minggu yang lalu.


Dia
Tak pernah ingkar
Tak pernah khilaf
Tak pernah lupa


Dia 
Datang tepat waktu
Kadang kirim bertanda
Seringnya tak bersuara


Bila
Datang tanpa suara
Sudah siapkah kita?


Jangan tertipu
Dengan usia mudamu
Karena syarat mati
Tak harus tua


Jangan tertipu
Dengan raga sehatmu
Karena syarat mati
Tak melulu sakit


Pertanyaannya sekarang adalah sudah siapkah kita bila maut datang menjemput?

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial