Review Buku Start With Why

"Jika tidak tahu mengapa, kita tidak tahu bagaimana."- Simon Sinek


"Mengapa hanya sedikit saja perusahaan atau organisasi yang mampu bertahan dan berkembang hingga puluhan bahkan ratusan tahun?"

"Apa yang menyebabkan sedikit sekali orang yang mampu menginspirasi banyak orang?"

Seorang pria berkebangsaan Amerika, Simon Sinek, telah menemukan sebuah pola tentang bagaimana caranya pemimpin besar itu bisa menginspirasi orang untuk bertindak. Pola yang ia temukan selama 3,5 tahun itu memberikan wacana baru pada kita tentang sesuatu yang dianggap sebagai muara dari perilaku orang lain terhadap sesuatu yang dianggap benar kemudian diikuti oleh orang lain. Menarik, itu mengapa judul bukunya Start with Why, Cara pemimpin besar menginspirasi orang untuk bertindak.


Simon Sinek yang lahir pada tanggal 9 Oktober 1973 ini memulai karirnya sebagai seorang agensi marketing terbesar di New York. Sebuah perusahaan yang memiliki 316 kantor perwakilan yang tersebar di 75 negara bagian. Tak lama kemudian Simon pun mendirikan perusahaan sendiri. Dari sinilah semua tulisan-tulisan kerennya berasal. Pengalaman dan pengetahuannya dalam bidang marketing communication, ia tuangkan dalam buku pertamanya yang berjudul Start with Why. Buku pertamanya yang terbit di bulan lahirnya ini mendapat antusias luar biasa dari para pembaca. 


Start with Why yang terbit tahun 2009, membuat sosok Simon Sinek kian melambung sebagai motivator dunia. Jadwal mengisi sesi sharingnya di TEDx semakin padat. Caranya menyampaikan ide-ide  dan pola yang ia temukan, sangat menarik. Dan kalau kita nonton videonya di TEDx,  bakalan manggut-manggut. Pemikirannya sederhana, kadang kita -saya ini mah- ga kepikiran. "iya ya, bener juga ya." Makanya trus penasaran pengen baca langsung bukunya.


Dan taraaaa....


Buku Start with Why ini menceritakan, menjelaskan dan menggambarkan tentang sebuah pola berulang yang muncul secara alami, cara berpikir, bertindak dan berkomunikasi yang memberi kemampuan kepada sejumlah pemimpin untuk menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Menariknya, Simon menceritakan dengan sederhana dan detil sekali beberapa contohnya. Seperti saat perusahaan apple yang mampu bertahan dan memiliki pelanggan setia. Atau Marthin Luther King yang bisa menginspirasi sebuah negara untuk berubah, atau bahkan Wright bersaudara si pembuat pesawat terbang yang tak hanya mampu membuat pesawat berawak pertama namun mampu menjadi pemimpin penerbangan di eranya saat itu.


Kalau dipikir ya, padahal banyak sekali perusahaan komputer sejenis apple, padahal banyak sekali orang-orang lain di negara itu, padahal banyak sekali orang-orang hebat yang juga berhasil membuat pesawat terbang. Lalu mengapa tiga contoh tadi bisa menginpisrasi dan mampu menggerakkan banyak orang untuk ikut serta dalam pemikirannya?


Setidaknya saya mencatat beberapa hal yang perlu saya garis bawahi tentang buku ini. 


1. Miliki sudut pandang alternatif

Saat kita berlatih menemukan sudut pandang yang berbeda dengan orang lain, Simon menemukan bahwa kunci pola yang ia namakan dengan Lingkaran Emas, Golden Circle. Di mana lingkaran terluarnya dimulai dengan Apa-Bagaimana dan yang paling terdalam adalah Mengapa. Mengapa kita melakukan apa, lalu bagaimana kita melakukannya. Ini kalimat kunci yang saya pegang. Semua perusahaan boleh saja memanipulasi cara mereka menawarkan produknya. Entah itu potongan harga, beli satu gratis satu dan seterusnya, akankah itu bertahan lama? Akankah pelanggan akan kembali lagi membeli produknya walau sedang tak ada potongan harga? Alih-alih mengejar kuantitas, Simon menjelaskan beberapa perusahaan yang berhasil memiliki pelanggan setia selama bertahun-tahun itu karena pegawainya dibekali pengetahuan tentang MENGAPA perusahaan itu ada di tengah masyarakat. Bila pegawai sudah tahu dan paham mengapa, maka mereka akan mampu menjelaskan apa dan bagaimana meningkatkan penjualan, misalnya.


Karena bila tidak tahu mengapa maka kita tidak tahu bagaimana.


Sesederhana itu. Pola Golden Circle ternyata dipengaruhi juga oleh susunan otak kita loh. Lingkaran terluar yang menceritakan tentang apa itu lebih pada semua orang bisa menjelaskan apa yang membuat produk itu berbeda dengan produk sama dari perusahaan lain, namun saat masuk ke lingkaran lebih dalam lagi, di bagian bagaimana dan mengapa, ternyata ini dimainkan oleh otak limbik. Otak yang mengelola perasaan bukan otak untuk berpikir dan menyusun diksi. 


Pernah kah Anda berpikir mengapa Anda cocok dengan produk A di perusahaan tertentu tapi tidak dari perusahaan sebelah. "Rasanya saya lebih nyaman menggunakan produk ini dari pada produk dari perusahaan sebelah." Kata 'rasanya' itu kemudian yang menarik sebuah keputusan untuk memilih dan membeli produk itu.


Ini baru satu hal tentang miliki sudut alternatif yang berbeda. Saya akan lanjutkan besok ya di poin berikutnya yang ga kalah lebih menarik.


[bersambung]

Kategori
Review Buku lain-lain

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar