Review Buku The Last Emperor

Buku autobiografi ini dikemas dengan cerita atau tulisan macem novel gitu. Bacanya ringan tapi isinya dalem dan sarat makna. Dialog yang disampaikan bisa membawa saya larut ke dalam lingkaran cerita. Bacanya juga bisa dipotong iklan nyuci, panggilan masak dan sejenisnya. Maklum lah ya, orang rumahan yang kepengen sibuk, ya gini ini. Tapi jarang banget terpotong aktivitas lain, karena kita akan dibawa larut halaman demi halaman yang selalu bikin penasaran untuk terus menikmati ceritanya.


Buku yang bisa memberikan warna tersendiri dalam memandang sesuatu. Belajar dari bagaimana sosok Sang Putra Langit menghadapi banyak tantangan dan menyelesaikannya. Lalu tergambar apa yang kemudian terjadi setelahnya, buat saya menarik. Apalagi disajikan dengan bahasa yang sederhana yang saat dibaca ga bikin dahi berkerut. 


Walau ini buku lama tapi saya masih suka baca ulang. Perjalanan kisahnya menarik dan penuh intrik. Buku yang diterbitkan oleh Serambi Ilmu Semesta tahun 2010 ini menceritakan tentang Sang Putra Langit, seorang kaisar terakhir di China dari monarki Manchuria. Buku terjemahan dari The Last Manchu yang diterbitkan tahun 1964 ini, betul-betul menggambarkan secara detil perjalanan dan lika liku kehidupan Sang kaisar. Kita akan dibawa ke era awal tahun 1900-an. Tahun di mana raja Henry Pu Yi sang putra langit ini lahir. Suasana istana terlarang, sudut-sudut ruang dan taman, sangat detil digambarkan. Mungkin karena yang menuturukannya adalah sang kaisar sendiri ya, jadi pembaca akan hanyut terbawa suasana kekaisaran. Di kepala tuh menari-nari dengan gambaran kita sendiri saking kerennya dalam menceritakan detil demi detil yang ada.


Cerita yang telah direvisi oleh Paul Kramer berdasarkan penuturan yang diceritakan Pu Yi sendiri ini, mampu menyibak kejadian demi kejadian yang ada pada saat itu. Belum lagi didukung foto yang ada di bagian belakang buku. Caption setiap foto mampu menceritakan apa yang ada di dalam foto. Pembaca memiliki gambaran utuh seperti apa kejadiannya saat itu. Orang-orang yang diceritakan pun ada fotonya, jadi sambil membaca, saya bisa membayangkan orang itu sedang berbicara. 


img-1615535767.jpg

Dokumentasi Pribadi


Membaca kehidupan Pi Yu artinya kita ikut menyelami periode penting peralihan China dari kerajaan menjadi republik. Atau bisa diartikan sebagai perubahan dari tradisional menjadi modern. Di foto yang terdapat di buku juga kelihatan banget peralihannya loh. Walau sang kaisar menggunakan baju khas China yang penuh dengan ornament sulaman, beliau tetap menggunakan kacamata hitam bulatnya. Yang kalau dibawa ke masa sekarang tuh, terasa banget jadul markudulnya. Sang putra langit, saat usia dua tahun, sudah dinobatkan menjadi kaisar. Ada fotonya. Bayangkan ya mak, dua tahun sudah menjadi kaisar, bisa ditebak siapa yang akhirnya menjalankan roda kerajaannya? Rebutan! Dan menjadi bonekanya Jepang. Kelemahannya dalam berpolitik menyebabkan ia mudah sekali dicuci otaknya terkait kepemimpinan yang menyebabkan berakhirnya kerajaan Manchuria. Tak ada lagi pengikutnya yang berrsedia berkorban untuk Manchuria. Miris.


Buku setebal 453 belum halaman yang memuat foto-foto ini, benar-benar menceritakan secara detil kehidupan Sang Putra Langit. Bab pertama kita akan diajak bermain dengan Pu Yi kecil saat masa kanak-kanak. Para ibu susu yang merawatnya pun dikisahkan di buku ini, sampai kepada para tutor kehidupan Pu Yi yang mewarnai pola pikirnya sepanjang hidup.


Di bab dua kita akan dibawa merasakan gejolak remaja dan perselisihan keluarga yang muncul. Hingga berturut-turut diceritakan tentang pengasingan yang dirasakan. Hingga sebutan kaisar tanpa kekuasaan pun muncul. Tak lama setelah pengasinan, ia pun ditahan selama lima tahun di Uni Soviet. Sesuatu yang dulu terbiasa dilayani, saat di penjara, ia harus melakukan semuanya sendiri, termasuk menjahit baju yang robek. Berbanding terbalik 180 derajat seperti saat ia menjadi kaisar. Semua serba dilayani dan tersedia di depan mata. 


Namanya juga buku autobiografi, maka cerita di dalamnya tak kan lekang oleh waktu. Kapan pun dibaca, isinya tak akan berubah. Lalu saya mikir, saat kita tiada nanti, kita akan diingat sebagai sosok yang seperti apa ya oleh orang? Keberadaan buku ini membuat saya banyak merefleksikan diri untuk memperbaiki kualitas diri terhadap diri dan ilahi. 


Tahun 1987, buku asli yang berjudul The Last Machu menjadi pemantik dan titik awal dibuatnya film dokumenter berjudul The Last Emperor. Film berdurasi 3 jam 38 menit ini mendapatkan 9 piala Oscar loh. Uwow. Lebih seru baca bukunya dulu baru nonton ya. Dijamin, dapet gambarannya utuh.


Lalu bagaimana kisah tragisnya berakhir? Apakah ia terus menerus dalam kubangan kesedihan dan keterpurukan? Aiih, saran saya, baca buku ini di ruang baca Azkail, kalau Anda belum punya. Dijamin akan terbuka mata kita tentang sebuah sejarah yang kita-saya- baru tahu apa dan bagaimana suku Manchuria.

Kategori
Review Buku lain-lain

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar