Sayap Hitam


“Lepaskan aku ... lepaskan!”

Tangan kekarnya terus menarikku masuk ke dalam hutan pinus. Di bawah keremangan cahaya bulan, aku berusaha melihat laki-laki tinggi yang ada di depanku. Kaos hitam polos berpadu dengan jaket potongan lengan berwarna senada. Topi hitam yang diturunkan, seolah ingin menutupi wajahnya dari penglihatanku. Tangan kirinya memegang sebilah pedang.

Saat di pinggir sungai, ia menancapkan pedangnya pada sebuah batu hitam lalu muncullah kepulan asap putih besar di hadapan kami. Laki-laki ini menarik tangan kiriku, kami melesat, masuk menembus asap putih itu. Tak lama, asap ini mneghilang perlahan dan kami sudah berada di pinggir villa Monterro, villa tua milik tuan Sven. Entahlah, bagaimana caranya kami sudah berada di pinggir villa yang berjarak puluhan kilometer dari hutan pinus tadi. Wangi dupa mulai tercium. Aku berhenti. Mataku tertuju pada tengkuk leher laki-laki di hadapanku.

Ya Tuhan! Tatto bergambar gagak hitam yang sedang terbang mengepakkan sayapnya itu, aku mengenalinya dengan baik. Aku ingat betul siapa  yang memiliki tatto gagak hitam. Karena di kota ini, hanya satu orang yang kukenal yang memilikinya. Laki-laki ini menarik kembali tangan kiriku. Dan tanpa perlawanan, aku mengikuti arah tarikan tangannya. Tatto paruh burung yang sangat ku kenal. Ujung atas paruhnya sedikit bengkok ke bawah dengan kepala yang menghadap ke kanan. Sayap-sayap kecilnya terbuka lebar menunjukkan betapa gagahnya burung itu saat terbang ke angkasa. Lekukan setiap ujung bulu pun sangat detail tergambar. Tatto burung gagak kecil ini mengingatkanku pada seorang laki-laki kidal yang dulu pernah merawatku.

“Benarkah ini kamu, Ziga?”

Laki-laki yang mencengkeram tanganku menoleh, ya, guratan panjang di pipi kanannya itu menambah keyakinanku.

“Ziga?”

Belum terjawab rasa penasaranku, tiba-tiba laki-laki ini berteriak.

“Aileen ... awaas!.”

Jantungku berhenti sekian detik. Nyaris saja kilatan putih itu menyambar kaki kananku bila tidak ditarik kuat oleh laki-laki bertopi ini. Tak lama, aku melihat asap hitam mengepul di atas kepalaku. Kepalaku terangkat, kakiku berjingkat menahan sakit yang melekat. Aku mulai sulit bernapas, lidahku tercekat. Aku pun sulit berteriak. Kakiku mulai berayun tak berarah di atas tanah. Tanganku terlepas dari cengkeraman laki-laki itu. Oh Tuhan, asap hitam ini menarikku ke dalam pusaran besar di dalamnya. Gelap.


  • Senin, 11 September 2017

Artikel Terkait

Semua Anak Adalah Bintang
Semua Anak Adalah Bintang
Mari berpuisi prosais
Mari berpuisi prosais
Cara terbaik agar bisnis menjadi berkah
Cara terbaik agar bisnis menjadi berkah
ADA Fashion Store di Depok
ADA Fashion Store di Depok
30 Days Book Challenge
30 Days Book Challenge
30 Fakta Edan tentang Facebook
30 Fakta Edan tentang Facebook
Ternyata mati suri itu seperti ini rasanya
Ternyata mati suri itu seperti ini rasanya
Aplikasi Ini Perlu Kamu Manfaatkan
Aplikasi Ini Perlu Kamu Manfaatkan

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar