Serunya diskusi bersama si analytical


Jangan malu untuk mengatakan tidak tahu.


Saat anak bertanya sebetulnya itulah saat yang tepat bagi kita untuk memasukkan sesuatu padanya. Baik itu value keluarga atau melatih anak-anak untuk berpikir kreatif. Namun yang kadang terjadi adalah saya tidak tahu jawabannya, saya tidak yakin atas jawaban saya, saya ga tahu ini jawaban bener  atau sekedar menjawab saja. Saya pernah kelabakan macem eamak kebakaran daster saat anak bertanya di mobil saat macet di lampu merah. Seperti percakapan di bawah ini:


“Bund, itu truk apa? Kok ada bulatan besar di belakangnya?”
“Itu namanya truk molen, mas. Yang buat nge cor jalanan di depan kita itu (mamak sambil menunjuk proyek pembangunan underpass)” -sampai sini, mamak ngerti dong yaaa itu truk buat apa-
“Kenapa bulatan belakangnya masih berputar? Padahal truknya berhenti lagi macet gini? Kan dia belum mulai nge cor.” (disini mamak terdiam. Hahaha)
“Wah, bunda ga yakin jawabannya. Ayah mungkin tahu, mas.” (mamak melirik ayah berharap dapet ban pelampung).

Kadang ya, kalau saya pikir, menjadi ibu juga macem seorang coach pada coachee nya ya, mak. Kadang macem mentor ke menteenya, atau trainer ke trainee nya. Tapi saat itu saya terdiam. Mikir mak. Saya ragu dengan jawaban yang saya punya. Dalam kondisi seperti ini, muncullah pak suami yang menjelaskan. Dan si anak pun senang mendapatkan jawaban langsung saat kekepoannya muncul.

Lain waktu dia bertanya, “Bun, kenapa terjemahan al quran dalam bahasa Inggris untuk kata ganti Allah itu, selalu kata ganti laki-laki ya? Apa Allah itu laki-laki? Buktinya apa ya?”
Matiii akutuu. Dunia seakan nge freeze. Lidah tercekat.

Kapan hari dia protes pada saya. “Bunda tuh ya, kalau butuhnya cuma untuk WA, sms, imel dan ketahanan batrenya bisa lama, pake yang merek hp ini aja jangan yang ini. Hp yang bunda pake sekarang tuh bla bla en de bla. Makanya selalu lemot. Kalo nge cas lama. Voltasenya ga cocok untuk hp bunda. Beli yang merk ini aja.” Sambil menyodorkan 2 merk hape pada saya.Dan saya cuma clengo dong yaaa.

Lain hari, saat kami duduk melingkar menonton diskusi berita terhangat di negeri antah berantah. “Sebetulnya, kalau orang sudah tergoda dengan uang itu, bahaya ya, Bun. Karena bisa menggelapkan dan bisa melicinkan banyak cara untuk sekedar mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi apa dalam hati kecil mereka tuh ga merasa, gitu ya. Minimal merasa bersalah deh sudah menggunakan cara  yang salah.” Saya kaget tetiba dia menyimpulkan seperti itu. Ok anak mampu membaca situasi neh.


Beberapa bulan lalu. “Ternyata ya, calon presiden A itu menggunakan cara bla bla bla loh bun saat menyampaikan visi misinya. Dia punya cara yang lawannya ga bisa lakukan. Tapi sayangnya, ada beberapa temenku ga melihat kekerenan itu sebagai bagian dari perubahan yang kita butuhkan. Ya ga papa sih, kita jadi sering diskusi tentang kelebihan calon yang kita unggulkan.”


Beberapa minggu lalu, “Bun, udah lama nih ga ngikutin berita, Ada apa di Papua ya bun. Aku dapet gambar ini nih. Kok banyak sekali yang dibakar dan dibunuh ya? Apa segitu mudahnya membunuh orang? Apa memang ga ada jalan keluar selain membunuh?. Aku punya temen orang sana, baik banget. Dia selalu ingat kebaikan temen-temennya walau cuma sekedar minjemin pulpen. Padahal waktu itu kita nya udah lupa.”

img-1569936571.jpg


“Oia, bisa tolong kirimin buku politik lagi ga bun. Lagi butuh bacaan nih." emak narik napas panjang. Masya Allah. Walau emak belum punya banyak teman orang Papua, tapi dari banyak cerita, mereka itu sangat menghargai perbedaan dan kebaikan orang lain. Semoga Allah selalu melindungi dan menjaga dari keburukan keadaan di tanah papua ya mak.

Entah lah. Anak itu memang memiliki kelebihan yang kadang kita sendiri takjub dengan apa yang disampaikan pada kita. Ada di titik tertentu saya takjub, kaget. Ada pula saya berada dalam kumparan kekhawatiran karena jauh dari rumah, yang ga bisa selalu saya ajak diskusi kalau ada pertanyaan seru macem di atas. Membekali anak-anak dengan ragam aktifitas, diskusi seru dan ragam lingkungan ternyata sangat berpengaruh pada cara pandangnya dalam melihat kondisi lingkungan dan pengambilan keputusan. Kami terbantu juga denga toolsnya Talents mapping saat melakukan banyak diskusi dengan anak. Tahu apa yang akan dilakukan dan bisa mengelola aktifitas seru lagi produktif yang anak-anak suka.

Memiliki anak yang kalau pakai bahasa talents mapping, analytical dan intelectionnya tinggi itu kadang bikin saya deg-deg an. Tapi efek baiknya adalah jadi membuat saya terus belajar, bersabar  dan bersyukur. Saya menikmati caranya menyampaikan sesuatu dari hasil analisanya. Selalu punya sudut pandang yang berbeda yang kadang ga saya lihat. Da saya mah to the point, kalau dia bisa detil menganalisa sesuatu. hahaha.


Hanya pada Allah kami titipkan buah hati yang saat ini sedang berguru nun di ujung Jawa sana. Semoga Allah menjaga iman dan islammu ya, nak. Kangen diskusi berat nih.

  • Selasa, 01 Oktober 2019

Artikel Terkait

Persiapan Menuju Kuliah
Persiapan Menuju Kuliah
Ternyata Begini Rasanya Belajar pada Anak
Ternyata Begini Rasanya Belajar pada Anak
Ketika Si Hobi Motret Ikutan Demo Mahasiswa
Ketika Si Hobi Motret Ikutan Demo Mahasiswa

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar