Serunya Menikmati Fitur Baru di Facebook

Pembelajaran tidak didapat dengan kebetulan. Ia harus dicari dengan semangat dan disimak dengan tekun.

-Abigail Adams-


Ada yang berbeda di tahap terakhir dari kelas bunda cekatan kali ini. Setelah perjalanan di tiga tahap sebelumnya kami dituntun membuat semacam roadmap, mengupas mulai dari apa kekuatan diri, lalu apa yang ingin dipelajari. Hingga tiba saatnya sekarang mempraktekkan apa yang sudah dilewati di tiga tahap berikutnya. Yaitu menjadi mentor dan menjadi mentee dalam satu waktu belajar. Kekuatan yang kita miliki, bagikan pada orang lain. Jangan pernah menganggap kita tak memiliki sesuatu untuk dibagikan pada orang lain. Karena tak perlu menunggu untuk menjadi ahli untuk berbagi. Lalu apa yang membuat tahap kali ini seru?


Ya, facebook group adalah ruang belajar yang selama lima bulan terakhir ini kami gunakan. Di awal, ada sekitar 2000-an mahasiswa belajar bersama di sana. Di grup itu ternyata ada fitur baru, salah satunya bernama mentorship programme. Dan tahap kali ini, kami gunakan untuk menjalankan sebagai mentor dan mentee di situ. Nah, yang membuat endorfin saya naik adalah


1. Pengalaman pertama

Ya, selalu ada langkah pertama untuk memulai, bukan? Selalu ada langkah pertama sebelum mencapai jauhnya 1000 mil perjalanan. Dan ini menjadi pengalaman pertama saya mengelola kelas suangat besar dalam satu forum. Bayangkan saja, mahasiswanya ada 2000-an. Orang-orang keren di dalamnya pulak. Uwow yekaaan. Dan pertama kali juga saya menggunakan fitur mentorship di grup. Maka saat tahu akan mengelola sebuah grup, saya pun menyiapkan grup cadangan lain sebelum tahap ini dibuka untuk berlatih. Ini sesuatu yang baru, saya ga mau ada di tempat yang sama yang tidak tahu apa-apa tentang facebook group. Maka grup itu menjadi tempat saya mencoba dan bermain di semua fitur yang ada. Karena saya suka ngulik dan kepo an dengan teknologi yang ‘baru’ menurut saya, maka saya harus mengetahui dulu sebelum terjun mengelola di kelas yang sesunguhnya. Dan keseruan nan seru itu kemudian muncul di tahap ini. Mantab jiwa, pokoke.


Fitur mentorship facebook group ini memfasilitasi anggota yang ada di dalamnya untuk saling bertemu. Sebagai mentor itu menguatkan dengan pertanyaan bimbingan terarah, yang menjadi mentee mempersiapkan diri untuk peta pengembangannya. Mereka akan dipandu secara otomatis oleh facebook selama menjadi mentor. Sebagai admin penyelenggara facebook group, durasi mentorship ini bisa kita atur. Mau sampai berapa bulan program ini akan dijalankan dan seterusnya. Menarik ya. Yang bikin endorfin saya naik adalah banyak pertanyaan teknis dari para mahasiswa yang kadang saya pun kepo dengan jawabannya. Kendala dan tantangan yang dirasakan mahasiswa lain, bisa jadi tidak saya temukan saat saya bermain-main dengan facebook group yang saya buat sendiri. Di sini lah letak tantangan pertama. 


2. Belajar caranya belajar

Ini yang saya rasakan selama menjadi Co-Fasilnya bu Septi Peni di kelas bunda cekatan. Bersyukur banget mendapatkan kesempatan belajar langsung dari tangan pertama kelas ini. Saya yang juga sebagai mahasiswa kelas bunda cekatan, sering kali mendapatkan banyak kejutan menyenangkan beberapa menit sebelum materi baru tayang di kelas. Kemudian saya harus belajar menerjemahkan apa yang dimaksudkan ibu, untuk kemudian diturunkan sampai menjadi hal yang sangat teknis kepada para mahasiswa (persiapan kalau ada yang nanya sampeeee teknis banget). Ini juga menjadi tantangan yang saya suka. Karena selain saya belajar langsung dari sumber pertama, saya juga berkesempatan belajar caranya belajar, plus belajar menerjamahkan apa yang dimaksudkan oleh ibu. Dan tetiba saya belajar banyak hal. Mulai dari :


A. Ilmu penerawangan :)

Saya 'menerawang' dulu apa yang ibu maksudkan. Lalu saya konfirmasi ke ibu kebenarannya. Setelah betul apa yang saya pahami, baru saya share ke mahasiswa. Kalau sayanya ga paham, bisa ga ketemu kuaci lagi saya nantiiii...Owh nooo.


B. Ilmu komunikasi

Saya belajar menyederhanakan bahasa. Ini juga seru nih. Kadang tuh ya, menurut saya sudah sederhana, tapi ternyata masih menimbulkan pertanyaan berikutnya. Hihihi. Jadi tak selamanya kalimat sederhana itu adalah kalimat efektif. Maka, biasanya, sebelum saya lempar ke mahasiswa, saya minta pendapat dulu di tim inti tentang kalimat yang saya gunakan. Saat membantu menerjemahkan kepada mahasiswa yang lain, ada rasa khawatir banyolan saya atau diksi yang saya gunakan, menyinggung perasaan mereka. Maafkan yaa temaaaans. Saya mencintai kalian karena Allah. Ciyuuus.


C. Ilmu sabar bolak balik

Nah, yang ini mah ga usah ditanya. Insya Allah stok sabar dan cinta saya sak ho hah. Buanyuak. Saya selalu mengisi tangki cinta dan sabar setiap pagi dengan kuaci, coklat dan yang terbaru, es cendol.


3. Menjadi mak comblang, lagi

Karena tahap kali ini adalah kita menjadi mentor dan mentee dalam satu waktu, maka membantu mempertemukan satu pasang mentor mentee yang cocok juga menjadi tantangan yang paling seru loh. Bagamana cara mempertemukan mereka di sinilah fitur facebook itu bekerja. Ada satu tombol yang sebagai admin facebook, kita tinggal klik. Lalu seluruh mahasiswa yang sudah menuliskan profilenya di fitur itu, akan saling bertemu. Namun ada sekitar 86 orang dari 1500-an yang lulus tahap sebelumnya, fitur mentorshipnya tidak muncul di gawai mereka. Aiih, putar kepala lah ya mamak nih, gimana cara membantu menengahi mereka yang seperti ini.


Proses mempertemukan dua orang yang saling membutuhkan ini pernah saya lakukan juga di tahap kedua, kelas bunda cekatan ini. Hanya saja, saat itu, saya bantu mengkategorikan kebutuhan mereka. Jadi mahasiswa lebih mudah mencari orang yang mendampingi sesuai kebutuhannya masing-masing. Saat ini, saya tidak melakukan itu. Saya ingin mengetahui apa yang akan terjadi bila kami hanya membantu mempertemukan secara massal melalui fitur mentorship. Yeaay, terima kasih ya temans sudah menjadi teman belajar saya.


Di sini terlihat cekatannya para mahasiswa. Bagaimana cara mereka mengiklankan diri sendiri agar menarik melalui tulisan yang terbatas jumlah karakternya. Bagaimana serunya proses bertemu mentee-mentor tanpa dikelompokkan oleh kita.  Mak comblang kali ini hanya melakukan yang sifatnya massal melalui fitur mentorship, tidak satu per satu di pertemukan. Mahasiswa lah yang harus mandiri mencarinya. Yup, sesuai namanya, kelas bunda cekatan. Termasuk cekatan untuk mencari kebutuhan pribadi guna membantu menaikkan kompetensi masing-masing. Bersyukur sekali dibantu para KAHIMA nu hebring tea, mereka berinisiatif membuat list mentor mentee yang belum bertemu. Keren kan mereka!


4. Templet jawaban

Ini yang ga kalah seru. Di tahap ini adalah tahap paling banyak saya menerima messenger dan WAPRI. Seneng sih karena mereka aware dengan kebutuhan. Banyak sekali yang bertanya tentang hal teknis terkait fitur mentorship itu sendiri. Bahwa sudah dibuatkan FAQ nya sekalipun, ada saja mahasiswa yang bertanya kembali. Mungkin bacanya sambil bikin es cendol jadi ga fokues gitu. Hehehe. Atau belum ngeh apa yang tertulis. Maka saya sudah menyiapkan jawabannya yang tinggal saya kirim. Ya, saya sudah punya templet aneka jawaban dari pertanyaan berulang. Saya tinggal tambahkan emot dikit lah. 


5. Makin tegas dengan kandang waktu

Ya, saya makin tegas dengan kandang waktu. Terutama online. Di tahap bunda cekatan sebelumnya (sampai sekarang masih saya lakukan), saya berhasil mengatur ulang jam online di WA dan facebook. Dua media ini bisa yang paling banyak menyita waktu harian saya kalau diikutin terus. Bisa ga rebahan, ga baca buku, berkurangnya tilawah atau bahkan bisa ga kuacian lagi kalau malam. Hahaha. Akhirnya saya pasang profile picture ini lagi di WA saya. Semata sebagai reminder diri. Maafkan untuk WA atau inboks yang telat bin basi banget jawabnya yaa. Atau sudah dibaca, tapi lupa belum jawab. 


img-1588906914.jpg

Dan untuk membantu melipat-gandakan kesenangan dan kebahagiaan selama Ramadan, saya membuat reading tracker kembali. Saya tempel, saya pasang di leptop. Agar menjadi reminder buat saya.


img-1588907424.jpg

Doakan saya istiqomah ya


Lalu bagaimana dengan saya sendiri sebagai mahasiswa? 

Ya, saya juga mahasiswa bunda cekatan. Maka endorfin saya makin banyak masuk. Saya menikmati prosesnya. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan mentor yang tepat dan saya butuhkan saat ini untuk delapan minggu ke depan. Saya menetapkan untuk belajar fotografi menggunakan android yang saya miliki. Mengapa? Saya melanjutkan proses mindmap tentang menulis. Di mana saat menulis dibutuhkan foto atau gambar penunjang. Dan saya butuh foto yang sesuai dengan yang sedang ditulis tapi itu foto hasil jepretan saya sendiri. Selain lebih puas karena hasil jepretan sendiri, proses penulisan dari awal hingga akhir pun lebih cepat selesai karena saya memiliki stok foto yang banyak dan beragam untuk ragam tema tulisan. 


Bagaimana saya sebagai mentor? 

Di sini menariknya. Setelah awalnya saya sudah mempersiapkan diri menjadi mentor terakhir untuk para mahasiswa, akhirnya diurungkan. Karena jumlah mentor lebih banyak dari pada jumlah mentee. Maka diputuskan dari pusat, yang tidak menemukan mentee, cukup menjadi mentee saja. Belajar dari mentornya bagaimana ia mementori kita. Saatnya saya belajar menjadi mentor dari mentor saya. Pastikan Anda sudah memiliki mentor ya.


Jadi, berhentilah berharap, mulailah bertindak.

Terima kasih teman-teman semua telah menjadi teman saya berlatih dan belajar.


Kategori
Komunitas Ibu Profesional

Artikel Terkait

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar