Home / Artikel Ternyata Begini Rasanya Belajar pada Anak

Ternyata Begini Rasanya Belajar pada Anak

Ternyata Begini Rasanya Belajar pada Anak

Parenting

Kamis, 29 November 2018



"Anak lebih membutuhkan contoh daripada kritik." Jospeh Joubeh


"Kakak, simpan piring kotornya di tempat cucian dong."  Kata Bunda di samping sang ayah yang malah ngeloyor pergi dari meja makan tanpa mengembalikan gelas bekas kopi paginya.

"Ayah kok naro handuk di sini, sih?"
"Abi, lihat,  Aku bikin ini, gambar rumah seperti yang Abi bikin semalam." Adik menunjukkan gambar rumah mirip seperti rumah yang sedang dikerjakan Abi untuk kliennya. Dan rumah itu digambar di kertas laporan Abi yang siap dibawa ke kantor. Wakwawww
"Ayah, katanya ga boleh pegang hape pas di meja makan. Ayah kok malah WA an?"
Ingat kan mak? Bahwa anak tak pernah gagal dalam meniru kita, orang dewasa.

----

Allah selalu punya cara untuk menegur dan mengingatkan kita untuk berubah menjadi lebih baik. Salah satunya melalui lisan atau perbuatan anak-anak kita. Percakapan di atas mungkin kita pernah merasakannya. Nyesek ya, mak? Banget. Karena langsung tanpa tedeng aling-aling, anak-anak menegur kita karena kesalahan yang biasanya menurut kita sepele. Tapi ternyata tidak buat anak. Karena bagi mereka, kita adalah orang terdekat yang menjadi contoh termudah di mata mereka. Tentu kita sudah sangat paham bahwa anak adalah benar, yang salah ada kita saat menggoreskan warna pertama kekeliruan pada mereka. Entah karena ketidak tahuan kita sebagai orang tua atau saat khilaf muncul. Itu mengapa pentingnya sokongan doa orang tua kepada anaknya tak ada penghalang. Baik mendoakan yang buruk apalagi yang baik pada anak. Maka berhati-hati-lah saat berucap tentang anak. Itu bisa jadi doa kita untuk mereka. Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda,


ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Apakah hanya anak kecil saja yang hebat dalam meniru orang di sekitarnya? Ternyata tidak. Hingga mereka baligh pun, belajar dari tauladan pada orang sekitar itu selalu ada. Namun bedanya adalah mereka diberikan akal pikiran yang memudahkan untuk pengambilan keputusan layaknya orang dewasa. Ga usah jauh-jauh, mungkin ada sikap atau keputusan kita pun dipengaruhi atas tauladan dari orang tua kita dan itu masih dipergunakan hingga saat ini.


Di rumah, kami memiliki satu papan tulis yang terpasang di area yang mudah terlihat oleh semua keluarga. Papan tulis ini berfungsi sebagai pengingat. Semua to do list dan projek kami masing-masing dalam satu bulan berjalan hingga bulan depan, ada di papan itu. Semua anggota keluarga faham apa yang harus dilakukan dan bisa saling mengingatkan satu sama lain. Ibu saya pun ternyata melakukan hal ini sejak saya kecil sampai sekarang. Menuliskan apa yang akan dilakukan dan melakukan apa yang sudah ditulis itu memudahkan kita untuk fokus pada satu pekerjaan hingga tuntas. Begitu kata ibu.  Mungkin hal ini terlihat sepele. Tapi buat kami hasilnya sangat besar mempengaruhi aura kerja sama di dalam rumah. Bagaimana si kakak akan dengan sangat mudah membantu meringankan tugas sang adik dengan mengajaknya berdiskusi, bagaimana Ayah faham bagian mana yang harus disupport ke anak-anak saat mereka butuh jeda dalam beraktifitas. Ya, karena kami semua tahu apa fokus aktfitas masing-masing dan fokus projek keluarga. memang ga  semua mulus sesuai dengan rencana. Tapi minimal kami tahu apa yang akan kami lakukan . Dan anak-anak senang dengan aktifitas pilihannya.


Dengan berjalannya waktu, saya kemudian baru mengetahui bahwa apa yang kami lakukan itu memadukan hukum Pareto dan Jauhari windows. Ini saya baru tahu saat ikut pelatihan beberapa tahun lalu. Oh, ternyata ada namanya toh. Hihihi. Lalu saya teringat bagaimana ibu saya sering bilang untuk mendahulukan yang penting dan yang paling prioritas dulu saat melakukan tugas serta tidak diperkenankan pindah kegiatan sebelum kegiatan itu tuntas. Artinya beliau mengajarkan memilih prioritas kegiatan saya saat itu, fokus dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan atas apa yang telah saya pilih. Lagi-lagi ternyata, saya pun meniru apa yang dilakukan orang tua saya. Oia, dalam Jauhari Windows pun ternyata dikenal dengan kuadran pilihan. Ini dia kuadran yang bisa digunakan dalam berbagai kesempatan:

img-1543446302.jpg

Cara ini terbukti ampuh sampai saat ini dan asyiknya lagi, Jauhari windows bisa diajarkan ke anak-anak. Saya pernah membuat empat kotak besar dengan menuliskan keterangan seperti di gambar. Lalu minta anak-anak menuliskan kegiatan yang disesuaikan dengan empat kuadran itu. Di sini mereka akan belajar memilih prioritas. Dan tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan empat kuadran itu berjalan sebagaimana mestinya. Bagaimana caranya? ternyata fokus adalah kuncinya. Fokus pada aktifitas di kuadran satu lebih mudah dari pada mengerjakan sesuatu yang ada di kuadran tiga atau empat.  Kalau kuadran satu selesai, bukan tidak mungkin, aktifitas di kuadran lain akan bergeser ke kuadran satu bukan? Saya memang cetek dalam memahami Jauhari Windows ini. Tapi saya merasakan efek baik dari belajar fokus di kuadran satu.  Mungkin cara ini bisa dilakukan agar bisa konsistenSelama anak-anak belajar mandiri mengenal dan  menuliskan aktifitasnya di empat kuadran saat itu, saya tetap menuliskan reminder kami di papan keluarga. Lain waktu, anak-anak ternyata langsung menuliskan aktifitas yang perlu diketahui orang serumah, di papan keluarga itu.


Lain waktu saya kemudian dikenalkan dengan istilah hukum Pareto. Saya coba cari tahu tentang hal itu. Dan ternyata apa yang diminta ibu saya dulu, untuk fokus di kuadran satu itu ada namanya ya. Hahaha. Sepertinya mengacu pada hukum Pareto. Menurut wikipedia, Hukum Pareto dikenalkan kembali oleh seorang pemikir manajemen bisnis Italia, Joseph M Juran. Ia mengamati kondisi ekonomi saat itu bahwa ternyata;

  • 80% keluhan pelanggan muncul dari 20% produk atau jasa.
  • 80% keterlambatan jadwal itu muncul dari 20% kemungkinan penyebab penundaan
  • 20% produk atau jasa bisa mencapai 80% dari keuntungan
  • 20% tenaga penjualan itu bisa memproduksi 80% pendapatan perusahaan
  • 20% cacat sistem bisa menyebabkan 80% masalah


Joseph M Juran mengambil pemikiran itu dari seorang ekonom, sosiolog dan pengamat politik bernama Vilfredo Federico Damaso Pareto. Pareto mengenalkan pendekatan matematika dalam setiap analisanya terhadap ekonomi negara saat itu. Ia berpendapat bahwa untuk banyak kejadian, ada sekitar 80% efeknya itu disebabkan karena 20% akar penyebabnya. Jadi prinsip Pareto mengajarkan pada kita bagaimana memilih prioritas yang memiliki potensi besar. 20% aktifitas akan menghasilkan 80% produktifitas.


Saya baru mengenal istilah ini di bangku kuliah dulu dan diingatkan kembali oleh atasan saya kala itu. Basi banget yak. hahaha. Dan ternyata dua anak kami sudah dikenalkan prinsip ini oleh gurunya di sekolah. Lebih dulu tahu dari pada saya dulu. hihihi. TOP lah. Pantas saja saat saya menuliskan to do list di papan keluarga dengan empat kotak, mereka seolah mengerti menuliskannya mau di kotak yang mana, bukan menghabiskan di satu kotak saja. Dan yang bikin saya takjub adalah hal itu masih digunakan  mereka sampai sekarang. Beberapa hari lalu si sulung yang sudah kuliah di Surabaya bercerita bahwa ia ternyata tetap membutuhkan papan tulis untuk reminder to do list nya. (Selama ini ia menggunakan google keep di HP yang to do listnya di link kan dengan hape kami semua. jadi tetap kami bisa keep intouch saling support walah jarak memisahkan. #tsaaah). Dan kemarin lusa si sulung mengirimkan foto ini di grup keluarga, ternyata jadi juga beli papan tulis dan spidol warna warninya. Hihihi :


img-1543455976.jpg

Empat kuadran si sulung. Tak perlu diajarkan, mereka cukup melihat untuk tahu dan melakukan.


Dan seperti inilah penampakan papan reminder keluarga kami yang ternyata mirip dibuat oleh si sulung di kamar kostnya. Papan reminder ini berlaku di bulan ini dan bulan depan.


img-1543458090.jpg


Tak ada yang menyuruhnya untuk membuat atau melakukan hal seperti di atas. Yang saya rasakan hanyalah, bahwa ternyata anak-anak itu lebih banyak merekam apa yang kita lakukan dari pada apa yang kita ucapkan. Jadi semakin harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu.


Tak hanya itu, kesukaan saya merangkum dan menulis di buku dengan pulpen warna warni di buku cantik, ternyata juga menular ke si bungsu. Dan karena tulisannya itu, bukunya sering dipinjam teman-temannya untuk di foto kopi. Persis seperti saya dulu saat SMP hingga kuliah. Dan saat ini, si bungsu memilih hand lettering sebagai projek beberapa bulan ini. Aah, betapa ya, mereka tuh bener-bener merekam apa yang dilihat.



img-1543457723.jpg

Tulisan si bungsu untuk mempermudah Ia belajar

Dan lihat caranya mereminder diri sendiri. 


img-1543459226.jpg

Ini adalah to do listnya minggu ini


Dan setelah saya renungkan, ternyata memang betul bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jadi berpikir dan merefleksikan apa yang telah dilakukan dan akan dilakukan kemudian. Dengan cara menyadari bahwa anak itu lebih banyak merekam apa yang kita lakukan dari pada apa yang kita sampaikan, membuat saya terus belajar memperbaiki diri. Ga usah juga ngudak-ngudak anak untuk melakukan ini itu bersegera. Semua ada saatnya.  Membuat mereka menikmati dan senang dulu melakukan sesuatu yang mereka mau, itu jauh lebih baik.


Yuk ah, jangan sampai ada waktu yang berlalu begitu saja pada kita dan anak-anak. Jangan menjauh di waktu lapangnya. Jika kita sibuk bekerja, ketahuilah, anak-anak hanya memiliki masa kecil dan masa baligh sekali dalam hidupnya. Jika ingin dikenang anak di kemudian hari, jadilah di bagian hidupnya, sekarang. Betapa waktu cepat berlalu. Bekal apa lagi yang akan kita siapkan untuk anak-anak kita?

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial