Home / Artikel Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat

Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat

Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat

Resensi Buku Parenting

Selasa, 05 Juni 2018

img-1534215388.jpg

Buku ini menggelitik saya saat melewati rak-rak di toko buku tahun 2009 dulu. Judul bukunya provokatif banget. 'Tinggalkan sekolah sebelum terlambat'. Apa pulak inii. Hahaha. Saya ingat, membaca buku ini ga sampek dua jam. Itu habis dalam perjalanan pulang ditambah sedikit waktu saat sudah sampai di rumah. Penasaran. Ya, berangkat dari penasaran, mak. Kenapa ini orang punya pemikiran berani kek gitu. Orang tuanya mendukung pulak. Aiiih....

Dan saya pun menemukan jawabannya, buku yang 'hanya' setebal 278 halaman ini, mampu menggambarkan minimal apa, mengapa dan bagaimana prosesnya. Saat itu, sang penulis memutuskan untuk berhenti sekolah dan meneguhkan hati untuk belajar sesuatu yang ia sukai, yang ia yakini, yaitu ngulik program komputer. Di sekolahnya ia merasa hanya dihujani teori dengan sedikit praktek tanpa banyak melakukan pengayaan untuk anak-anak yang sudah mampu melakukan sesuatu. Akhirnya, karena rasa haus yang tak terbayarkan, ia memutuskan mencari sendiri guru yang dibutuhkan. Bila ia ingin bisa melakukan A, maka ia belajar sendiri tentang A sambil mencari seorang guru atau mentor yang menurutnya ahli di bidang A tadi. Begitu seterusnya. Sehingga tanpa disadari ia pun ahli dan detil di bidang itu. 

Yang kalau pake bahasa kekiniannya, ia sudah mengumpulkan secara tidak langsung, portfolio dirinya. Keahliannya yang sangat spesifik banyak dicari orang. Ia cukup menyodorkan resume dirinya, maka banyak perusahaan, orang, dan pengalaman baru yang kemudian datang. Saat membaca buku itu saya hanya banyak melongo, waww, oh gitu ya, mantab nih orang sambil sesekali manggut-anggut sok ngerti gituuh. Dan gegara resume atau portfolio itu, ia akhirnya diwawancarai oleh perusahaan apple dan menjadi seorang manajer penguji perangkat lunak di apple computer. Padahal usianya baru 24 tahun, mak. Di usianya yang masih sangat muda ia mampu menemukan dirinya dari berbagai pengalaman sekalipun tak ikut mencicipi bangku sekolah. Sekalipun ia memutuskan untuk tidak bersekolah, namun ia memiliki tekad yang kuat untuk mengasah dan menemukan jawaban dari rasa ingin tahunya yang besar. Orang tua mendukung keinginannya dan membantu menemukan ruang untuk ia belajar. Ah, betapa yaaa di luar sana tuh mereka sangat menghargai skill, bukan melihat ijazah. 

Dan gegara buku ini, saya jadi mikir, bagaimana dengan anak-anak saya kelak? Apa yang harus dipersiapkan? Waktu yang dititipkan pada saya terasa amat cepat. Apa yang sudah saya lakukan untuk anak-anak? 

Di buku ini dikenalkan cara gilaknya dia melakukan sesuatu yang dianggap aneh saat itu, namun ternyata sudah banyak dilakukan oleh para orang tua saat ini, termasuk saya (kalau ini, saya baru engeh setelah saya membaca kembali buku aneh ini. hahaha). Buku yang menyuntik dan membangunkan saya untuk bersegera memperbaiki diri dalam mendidik anak-anak dari kaca mata lain. Seru mak. Menemani mereka bertumbuh di masa yang jauuuh berbeda saat saya seusia mereka. Pake metode ala bajak laut, mak. Dia mengenalkan caranya saat belajar melakukan banyak hal yang disukainya secara mandiri. Ada sebelas elemen mendidik diri sendiri ala bajak laut, mulai dari melacak kebutuhan, masalah yang timbul harus digimanain, cara berpikir sistem sampai pada membuatnya efektif dijelaskan. 

Buku ini cocok untuk yang suka dan berani mencoba cara-cara belajar baru yang mandiri. Karena pada prinsipnya, belajar tak harus duduk di bangku sekolah. Kita bisa menemukan guru di mana saja. Selama kita mau bergerak melacak dan bergerak, saat murid siap maka guru akan datang.

Tau ga, efek dari buku ini, ternyata juga membangunkan beberapa teman saya yang saat itu sedang galau dengan pilihan sekolahnya, tuntutan orang tua dan sekitarnya. Dan gawatnya lagi, efek beberapa teman yang saya sodorin buku ini, mereka resign dari pekerjaan dan sekolahnya daaaan sekarang jauh melesat ke angkasa menjadi pribadi mandiri, kuat dan hebat. Kemampuannya diakui banyak orang bahkan pemerintah. Mereka mampu membuktikan banyak hal. Bahwa belajar itu tak hanya ada di sekolah duduk manis di kelas. Tapi bisa ditemukan di luar itu, selama kau berani melangkah. Saya ga bilang bahwa buku ini keren. Yang keren adalah pilihan kita untuk berani dan bertanggung jawab atas apa yang menjadi pilihan kita. Buku ini hanya sebagian kecil saja sebagai pembuka wawasan bahwa ada cara lian loh untuk berhasil.

Maafkan saya yang sudah menjerumuskan kalian ya melalui buku ini. hehehe.

Setelah membaca kembali buku ini saya jadi teringat, bahwa Rosulullah pun saat mudanya sudah berkelana, berguru langsung pada alam sekitar yang memang sudah disiapkan oleh Allah sebagai sarana belajar, seperti belajar berdagang langsung dari ahlinya, sang paman. Itu juga kali ya mengapa banyak ayat al quran yang kita diminta untuk berfikir dan mencari tau.

Entahlah, saya hanya percaya bahwa adalah betul tak ada yang sia-sia segala penciptaan di langit dan di bumi ini. Dan setiap kita tentu diciptakan dengan masing-masing keunikan dan kelebihannya, pasti untuk melakukan sesuatu yang memang 'hanya' kita lah yang bisa melakukan itu. Tinggal kita berani bergerak, memutuskan dan melakukan itu sesuai keunikan yang kita miliki. 

Menemani anak-anak tumbuh dan berkembang hingga saat ini, menjadi pembelajaran kehidupan yang luar biasa buat saya. Hingga akhirnya sampai pada titik mengantarkan ke tingkat yang lebih tinggi. Dan hanya pada Mu ya Allah, kami titipkan anak-anak kami.

Mak, tapi tau ga...

Si penulisnya memang betul pernah drop-out dari SMA, lalu ia belajar otodidak dan akhirnya menjadi manajer di Apple Computer dalam usianya yang ke 24 tahun, menjadi pembicara dan pengajar di banyak universitas top dunia. Menurutnya, Anda tak perlu menjadi  pelaut untuk bsa mengarungi samudra kehidupan ini, menjadi bajak laut pun sanggup melakukannya, kadang bisa menjadi hebat daripada pelaut 'sekolahan' sesungguhnya. Tulisannya blak-blakan, liar dan nakal, tapi inspiratif. 

Pesan saya, jangan pernah lagi baca buku kek ini ya, bahaya. hahaha. Wes tak simpen ae buku ini, lagian juga udah terlihat usang. #eeh

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial