Yang Menarik dari Buku Grow with Character
Minggu, 25 Oktober 2020
azkail
Bagikan

Yang Menarik dari Buku Grow with Character

All you need is clear positioning-Hermawan Kartajaya


Sebelum melanjutkan baca review saya kali ini, pastikan kompor sudah dimatikan, anak-anak sudah pada tidur dan rumah sudah dikunci. Karena tulisan ini terdiri dari ribuan kata. Hahaha. Siapkan camilan buahnya ya

===

Mengenal buku ini sekitar tahun 2011, saat itu tertarik karena tulisannya dikemas dengan bahasa yang ringan. Sepertinya bisa dibaca sambil rebahan, selonjoran nunggu gilingan cucian, nunggu anak-anak pulang sekolah atau nunggu antrian bis di halte.


Membaca bermenit-menit di toko buku sambil berdiri membuat saya makin kepo untuk segera membeli dan membaca hingga tuntas. Tapi saat itu, belum menjadi prioritas pilihan buku. Akhirnya hanya baca bagian-bagian yang menurut saya penting saja. Padahal ya, nyaris semua halamannya itu penting untuk dibaca. Hahahaha. Buku grow with the character yang ditulis oleh Hermawan Kartajaya ini memang lugas banget. Bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh saya yang nol kosong melompong soal mareketing.Tulisannya mengalir bercerita seputar bagaimana beliau membangun perusahaan bisnis marketingnya dari nol. Saya kadang ikut larut seolah sedang berada di posisi beliau. Itulah yang bikin saya tertarik membaca dengan jenak, 9 tahun kemudian. Hahaha. lama bet yak baru jenak bacanya. Kebangeteun emaaang.


Ya, saya baru tuntas membaca halaman demi halamannya tanpa gangguan tuh beberapa hari yang lalu. Gegara salah satu perkuliahan online yang sedang saya ikuti, membahas tentang pembagian passion. Guru saya itu hanya nyenggol dikit penjelasan tentang passion. Lalu di otak saya seperti dipencet tombol on-nya, seolah ingat, pernah tahu informasi tentang passion itu di mana ya. Tak lama setelah perkuliahan selesai, malam itu juga saya browsing, dan menemukan cerita dibalik pembagian tahap passion itu di buku yang pernah tak baca sekilas di toko buku, 9 tahun yang lalu. Hahaha. Buku  apakah itu?


Grow with Character The Story, buku yang ditulis oleh Hermawan Kartajaya


Saya butuh segera baca mumpung otaknya lagi on, hati sedang terbuka, tangan mulai gatel, mata butuh penyegaran (apaan seh). Kalau beli bukunya, tentu akan lama datengnya ke rumah yekaaan. Akhirnya saya coba iseng cari ke i-pusnas. Biasanya buku terbitan lama yang best seller tuh suka ada di i-pusnas. Dan bener aja. Tersedia 20 ebook tentang buku grow with character!. Saya langsung pinjam. Saat ebook itu sudah ada di rak buku saya, mata pun terbelalak, kepala mulai pening. What?! 429 halaman, maak. Dan saya bacanya online dari HP. Mata minus saya apa kabar, Esmeralda? Karena emang kepo, saya coba donlot di leptop biar layar bacanya agak besar. Oke, berhasil, tinggal meluangkan waktu membaca camilan minggu ini.


img-1603683650.jpg

Sebelum mulai membaca buku, biasanya bukunya tak ajak ngobrol dan tak elus-elus dulu. Hahaha. Saya bilang, "Buku yang baik, temenin saya beberapa hari ke depan ya. Semoga apa yang tertulis nanti, bisa bermanfaat untuk kebaikan saya dan keluarga. Truuus kalau saya udah mulai ngantuk tapi masih pengen baca, jangan lupa, ingetin saya kalau  kuaci siap nemenin, ya."


Daftar isi adalah halaman pertama yang saya telusuri. Dan teruwow saya baca judulnya. Menarik dan runut. Buku ini berisi perjalanan pak Hermawan membangun perusahaannya, dan banyak sekali memasukkan unsur humanis dalam membangunnya. Yang paling menarik buat saya adalah, bab pertama yang terdiri dari beberapa tulisan itu, dibuka dengan cerita bagaimana guru-guru kehidupan beliau yang sangat menginspirasi berani mendirikan perusahaan. Bagaimana seorang Hermawan Kartajaya sangat hormat dengan guru-gurunya. Bagaimana beliau menghargai setiap lini pengalaman berguru dengan maestro langsung. Mulai dari pak Dahlan Iskan saat membesarkan Jawa Pos menjadi koran nasional, Pak Putra Sampoerna saat melanjutkan perusahaan keluarga dan sederet nama pengusaha lainnya. Saya menikmati sekali bagaimana pak Hermawan menceritakan sisi inspiratif guru-gurunya dalam menjalankan perusahaan dengan cirinya masing-masing. Menimba ilmu langsung dari sang pelaku bisnis saat membangun perusahaan itu, menarik untuk disimak.


Tulisannya makin enak dibaca karena menggunakan POV pertama. Jadi seolah-olah sayalah pelakunya. Belum lagi saat menjelaskan beberapa gambaran perusahaan itu dibantu dengan diagram yang memudahkan saya memvisualkan apa yang tertulis. Oia, karena membaca secara online, tantangannya adalah saya ga bisa warnai dan kasih sticky notes seperti yang biasa saya lakukan pada buku fisik. Maka mind mapping membantu saya menangkap dan menyimpan catatannya. 


Banyak hal yang saya tangkap dari ratusan halaman itu.  Saya simpan dalam tulisan ini sebagai pengingat kalau sedang butuh suntikan pondasi berkarya dengan orang lain. Semoga bermanfaat juga untuk teman-teman lain ya.


1. Proaktif dan reaktif

Seberapa sering kita mendengar dua kata di atas?

Kadang kalau sedang kerja sama tim gitu, akan sering muncul dua kata itu. Iya ga sih?.


"Ah, dia mah kerjanya ga pro aktif sih. Jadi kita kan sulit untuk masuknya."

"Pro aktif dong, biar kita ga bingung apa yang akan dilakukan."


Tapi ya, dari cerita dan makna yang disampaikan pak Hermawan, saya makin melek. Bahwa pro aktif itu bukan re aktif akan sesuatu, bukan pula melakukan sesuatu sebelum kejadian apapun. Tetapi  pro aktif itu membebaskan diri dari tekanan situasi, lingkungan atau area kerja. Bagaimana kita bisa mengantisipasi sesuatu itu sederhananya makna dari pro aktif.


2. Helicopter view

Penjelasan beliau tentang seorang pemimpin, di bab ini tuh ngena banget. Bagaimana seorang pemimpin itu harus bisa menjadi helicopter view. Bertanggung jawab mengawal perjalanan  sebuah proses yang biasanya belum tahu ke depannya seperti apa. Sebuah helikopter itu bisa terbang tapi ga bisa terlalu tinggi seperti halnya pesawat terbang gitu. Bayangkan kalau kita sedang naik helikopter. Bisa melihat segala sesuatunya dari atas sana, asyik sih, tapi tak bisa melihat secara detil dan jelas yang ada di bawah. 


Saat berada di dalam helikopter yang sedang terbang, kita mampu memandang sesuatu dengan lebih luas, imaginative dan abstract. Nah, biar makin jelas apa yang harus dilihat, ga abstrak lagi, maka sering-sering turunlah ke lapangan. Berbaurlah dengan mereka yang ada di 'bawah' untuk mengetahui apa yang tak nampak saat kita berada di atas tadi. Pembelajaran ini beliau dapat dari pak Putra Sampoerna. Generasi ketiga pemilik perusahaan rokok terkenal. Biasanya, pendiri pertama perusahaan akan mati-matian babat alas, perjuangan tinggi untuk mendirikannya. Generasi kedua mulai mempertahankan agar lebih baik lagi, sedangkan generasi ketiga, karena perusahaan sudah jauh lebih sehat dan berkembang, lebih dikenal dengan generasi perusak perusahaan. mereka cenderung menghabiskan dan sembrono dalam mengelola perusahaan. karena perusahaan yang sudah terlihat kuat tadi. Nah, cara helicopter view lah yang digunakan oleh pak Sampoerna dalam mengelola perusahaannya.


Dari sini saya juga belajar bahwa ada sebuah teori Z dalam membangun sebuah perusahaan. Yaitu dengan rasa kekeluargaan antara supplier dan distributor. Perusahaan akan mengelola bagaimana di perusahaan itu mereka menjadi life employment. Dan yang menarik adalah semua pegawai itu harus di rotasi ke semua lini jabatan. Jadi semua akan merasakan bagaimana saat bekerja di posisi tertentu. Bisa merasakan euforia kebahagiaan, naik turunnya dalam satu posisi. Ini terjadi di perusahaan Jepang, sebuah produsen terkenal. Semua pegawai yang baru masuk, akan melewati jabatan paling luar terlebih dahulu. Jadi ga ada yang namanya ujug-ujug duduk manis di posisi teratas tanpa melewati proses terluar.


3. Belajar dari keterpurukan IBM

Tahun 1990 adalah masa jaya-jayanya IBM. Perusahaan komputer terkemuka yang nyaris merajai dunia untuk urusan perangkat komputer. Namun teknologi mengalahkan semuanya. Tahun 1993 IBM mulai terpuruk, perusahaan itu berada dibawah pengawasan kebangkrutan. Akhirnya seorang Louis V.  Gerstner, seorang business man, datang untuk menyelamatkan IBM sebagai CEO. Saat itu banyak yang menyangsikan kemampuannya dalam mengelola perusahan besar yang nyaris bangkrut. Namun  itu semua dapat ditepis dengan kemampuan Lou, begitu ia dipanggil, saat mulai menganalisa semua lini perusahaan IBM. 


Ia menemukan bahwa keterpurukan ini efek dari arogansi struktural yang ada serta tidak berpusat pada kepuasan pelanggan.  Salah satu keberanian yang Lou lakukan adalah, terbukanya IBM untuk menerima kritik dan masukan dari pelanggan. Ini keren, karena tak hanya mendobrak pintu yang sudah lama berdiri, tapi juga menyentuh kultur yang akan dibangun di IBM baru.


4. Siapa yang menemukan prinsip 4P?

Saat pertama kali membangun perusahaan marketing plus, beliau belajar ke sana kemari demi menemukan formula yang tepat lagi sederhana untuk dilakukan. Kalau baca bukunya, kita bisa merasakan kegigihannya dalam mencari ilmu dan pengalaman langsung bersama orang-orang hebat. Bagaimana gigihnya beliau dalam melobby sesuatu dengan cara yang kadang tak terpikirkan. Persiapannya pun betul-betul terencana dengan baik. bagaimana beliau mempersiapkan kalimat demi kalimat yang akan ia ucapkan 5 menit pidato di depan orang-orang hebat.


Ada hal kecil tapi fatal menurut saya, apa itu? Saat berkenalan dengan dunia marketing, dulu saya pernah mendengar istilah 4P (product, price, place dan promotion), ternyata dipopulerkan oleh Philip Kotler dan prinsip marketing itu berasal dari Jerome Mc Carthy. Selama ini saya ternyata salah. Saya tahunya istilah 4P itu dibuat oleh Philip Kotler. Hahaha. Ah, terima kasih pak Hermawan, telah meluruskan informasi yang salah selama ini di otak saya.


5. Apa bedanya enterpreuner dan profesional?

Aih, ini bahasan menarik dalam salah satu babnya nih. Saya menyimpulkan ada 3 hal yang perlu dicatat, yaitu


ProfesionalEnterpreuner
Yang dilihat itu ThreatYang dilihat itu opportunity
Risk Avoide (menghapus sama sekali tentang resiko)Risk Taker (berani mengambil resiko)
Just do itLet us do it


Mau memilih sebagai enterpreuner atau cukup sebagai profesional?


6. Tiga strategi dasar marketing

Dalam buku Mind of a Strategistnya Kenichi Ohmae dijelaskan ada tiga strategi yang bisa kita lakukan dalam mengembangkan sebuah organisasi atau perusahaan, yaitu dikenal dengan 3C:

  • Company

Lihat dan fokus pada kekuatan perusahaan saja dan yakinlah bahwa sebuah peluang itu tidak selalu pas untuk semua orang.

  • Customer

Buat strategy need dan want nya pelanggan yang unspoken.  Pelanggan kan ga pernah minta tapi kalau ditawarin pasti mau.

  • Competitor

Strategi kita mau sama atau lebih keren dari kompetitor kita? Boleh banget kok untuk mencari tahu apa sih sebetulnya strategi yang digunakan oleh kompetitor.



Oleh Hermawan ditambahkan satu C lagi, yaitu change. Dari 4C inilah salah satu yang membuat Hermawan makin dikenal banyak orang dan sering diundang sebagai pembicara karena mampu menyederhanakan prinsip marketing.


Masih dari tulisannya Kenichi Ohmae, tapi kali ini dalam bukunya The Borderless World, ia menjelaskan ada tiga macam manusia di dunia ini, menarik nih buat saya. 


  • Manusia yang tidak tahu ada perubahan karena tidak melakukan apa-apa dalam hidupnya
  • Manusia yang tahu perubahan tapi bingung mau melakukan sesuatu
  • Manusia yang ikut mendorong terjadinya perubahan

Anda yang mana, mak?


7. Yang unik dari Harvard Business School

Aih, siapa yang ga kenal dengan HBS sih? Sekolah yang hanya menerima 900 mahasiswa dari 10.000 an pelamar. Padahal kuliahnya cuma dua tahun. Saya mencatat edukasi yang keren banget di HBS;

  • Mahasiswa wajib mencari, membaca jurnal atau buku kuliah sendiri.
  • Diskusi jurnal sering mendatangkan pelaku bisnis yang sedang kesulitan. Jadi mahasiswa melihat dari banyak sisi bahkan bisa memberikan masukan langsung pada pelaku bisnis tersebut
  • Selama menjadi mahasiswa di sana, rata-rata menyelesaikan 500 jurnal atau masalah bisnis yang ada di sekitar mereka. Keren ya. Aplikatif gitu jadinya. Pantes aja profesor juga ikutan belajar bareng.
  • Dikenal kalimat : The professor dont to teach, they must learn from the student. Aiih, apa ga makin pinter aja itu profesor ya. Mereka siap belajar dari siapa saja, sekalipun itu mahasiswanya sendiri. Bagaimana dengan di Indonesia?. 
  • Learning is more important then teaching
  • Saat menganalisa sesuatu cukup gunakan Why, What dan how, bukan 5W dan 1H

Why itu adalah reasoning-menganalisa situasi

What itu adalah strategi yang akan dijalankan

How itu adalah untuk taktik penjabaran strategi (executing)


8. Kisah menarik dari berbagai macam perusahaan

Satu perusahaan yang mengesankan cerita buat saya tentang arti sebuah kepuasan dan fokus. Di perusahaan xerox yang terkenal dengan kualitas mesin fotokopi yang keren. Sudah memiliki hak paten pulak tak lama mereka pun merambah bisnis komputer, mau seperti IBM yang saat itu sedang merajai dunia komputer. Namun orang-orang kemudian berpikir, emang bisa? Ternyata persiapan dan pengalaman belum siap untuk memasuki bisnis komputer bagi Xerox.


Yang menarik di sini adalah, jadilah seperti laser yang bisa menembus logam. Walau cahayanya kecil tapi bisa menghancurkan logam. Bukan malah menjadi seperti matahari yang sinarnya menyebar tidak fokus membakar. Mengerti kan ya maksudnyaa? Hehehe.#soktau


Atau 


Ketika topan datang, jangan langsung gulung layar, take it a challenge! Mungkin itu akan menjadi berkah Anda -Hermawan K-


Konsep yang ditawarkan SME (sustainable Marketing enterprise) adalah Culture. Dengan cara share values (nilai-nilai yang dipikirkan) lalu akan menjelma menjadi common behavior (perilaku karyawan). Contoh sederhana bisa kita lihat di negara Singapura. Dulu dikenal dengan negara yang sangat jorok. Tapi lihatlah sekarang. Kota yang menjadi sangat amat bersih. Yang terpancar juga pada perilaku warganya. Seluruh tamu dan wisatawan yang datang ke Singapura pun terbawa dengan kebiasaan baik di negara itu. Salah satu Share Value yang dilakukan pemerintah adalah tak sekedar bersih itu sehat, tapi pemerintah juga memberlakukan penalty kepada masyarakat yang membuang sampah sembarangan dengan membayar 500 dollar!. Uwow kaan. 


Dari setitik review saya kali ini, masih ingin lanjut membaca buku-buku Beliau lagi? 


Saran saya nih, buat yang bergelut di dunia marketing dan pengelolaan SDM yang humanis, buku-buku beliau tuh isinya daging semua. Wajib dibaca. Mudah dicerna, dan beneran ga pake berkerut dahinya. Ada beberapa buku marketing lainnya yang mungkin bisa Anda baca sambil nunggu cucian kelar, mak.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar