Home / Artikel Ini dia sosok Dan Brown

Ini dia sosok Dan Brown

Ini dia sosok Dan Brown

Resensi Buku lain-lain

Minggu, 04 November 2018


Biografi Dan Brown

Sebetulnya, pertama kali saya membaca bukunya om Dan Brown tuh yang judulnya The Lost Symbol. Awalnya sedikit nge per karena faktor ketebalan novelnya, ngeri. Tapi karena isi cerita yang sangat nggilani, akhirnya satu persatu buku karya Dan Brown duduk manis di lemari perpus azkail. Walau belum punya semua karyanya, tapi paling tidak, karya fenomenalnya saya ada lah ya. Anggap saja biaya saya belajar untuk banyak hal terkait kepenulisan. Ga asyik lah ya kalau suka karya tulisannya tanpa mengenal sosok penulisnya. Nah, kebetulan saat salah satu penerbit besar mengadakan cuci gudang di Bandung, saya menemukan buku ini dengan harga nyungsep.


Buku setebal 236 halaman yang diterbitkan oleh bentang ini mampu menggambarkan siapa sih sebetulnya Dan Brown itu. Bagaimana kehidupan masa kecil hingga ia kuliah, diceritakan blak-blakan oleh Lisa Rogak. Bila Anda mengikuti perjalanan novelnya, semua tulisannya itu sangat detil dan dalam saat menceritakan sesuatu. Tampak sekali kalau ditulis bukan oleh penulis abal-abal. Karena di setiap dialog dan adegannya, selalu memunculkan sesuatu yang memang secara nyata, ada dan bisa dipertanggung-jawabkan keberadaannya.


Dan Brown kecil ternyata hidup bersama ayah dan ibu yang juga suka dengan teka-teki dan kode. Terbukti setiap natal tiba, untuk mendapatkan hadiah yang besar, ayah ibunya hanya menaruh secarik kertas bertuliskan sedikit clue di bawah pohon natal untuk kemudian disambungkan dengan clue berikutnya di suatu tempat yang harus mereka temukan. Lahir dari keluarga terpelajar yang tentu saja sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Dan Brown remaja bersekolah di asrama yang sangat terkenal menelurkan tokoh-tokoh hebat di negara bagian Amerika Serikat. Ayahnya mengajar dan menulis buku yang kemudian menjadi rujukan banyak sekolah untuk mata pelajaran matematika. Karena kehebatannya dalam matematika, ayahnya pernah dilamar NASA untuk bekerja sama dalam mengembangkan sebuah teknologi. Namun hal tersebut ditolak, ayahnya lebih mencintai mengajar daripada meneliti.


Siapa yang tahu kalau Dan Brown dulunya adalah seorang penyanyi. Sempat mengeluarkan album dua kali loh. Selalu ada kisah dan data yang disajikan dalam setiap lagu yang diciptakannya sendiri. Sejak remaja, Dan Brown sudah menjadi paduan suara gereja. Kemampuannya dalam bernyanyi, mencipta lagu dan mengaransemen musik, menjadi modal awalnya untuk masuk ke dunia industri musik. Sempat membeli apartemen di kawasan Hollywood untuk merambah jaringan yang lebih luas. Tak hanya itu, kecintaannya pada musik, berhasil membawanya keliling dunia dan mengenal ragam budaya berbeda. Namun lagi-lagi hati kecilnya berontak saat lagu-lagunya banyak dikenal orang. Ia merasa bukan orang yang harus tampil di atas panggung, ia lebih mencintai mengajar.


Saat melakukan tour di negara Spanyol, Ia menyempatkan kuliah jurusan sejarah. Berkenalan dan rutin juga mengikuti kuliah seni dan karya.  Rahasia dan kisah dibalik lukisan dan seni rupa yang ia temui di bangku kuliah, sangat menarik. Menurutnya, selama ini, orang yang awam soal seni lukis atau seni rupa, hanya mengetahui indahnya lukisan tanpa tahu bahwa ada banyak rahasia dalam hasil akhir lukisan. Inilah titik awal Dan Brown tertarik untuk menulis. Ingin menyampaikan informasi itu dengan bahasa yang dimengerti oleh orang awam dan menjadi cikal bakal novel berikutnya. Banyaknya pengalaman ke beberapa negara membuatnya tertarik dengan sejarahnya masing-masing lokasi yang dikunjungi. Dari sinilah kayanya pengetahuan dan kuatnya riset selama menuntaskan novelnya. Ia baru menemukan kenikmatan melakukan menulis setelah banyak purnama dilalui. Pernah mencoba menerbitkan buku namun hanya laku sekitar 200ribuan  kopi saja. Belajar dari situ, ia pun mulai menekuni riset-riset mendalam tentang calon novel berikutnya.


Tak banyak media yang tahu kalau ternyata istrinya yang juga managernya adalah seorang produser dan penulis juga. Istrinya-lah yang mengatur pertemuan Dan Brown dengan beberapa produser, penerbit dan lainnya demi memunculkan kekuatan sang suami. Perpaduan yang indah deh kalau Anda baca buku biografi ini. Bagaimana seorang istri mampu melihat kekuatan yang ada pada diri pasangannya lalu mendukung penuh dan mau gadag-gidig memajukan  dan menaikkan kekuatan suaminya. Mereka berdua faham betul apa kekuatan masing-masing yang bisa saling melengkapi.


Saat novelnya mendunia, Dan Brown yang ternyata tak suka tampil di depan kamera dan menjadi terkenal, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dan mulai kembali mengadakan riset untuk novel-novel berikutnya. Novel terbaru yang terbit tahun lalu, mendulang sukses efek dari riset yang dilakukan dengan sepenuh hati hingga 5 tahun lamanya. Niat banget kan mau bikin buku. Lalu, bagaimana dengan kita?

Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial