Metode Praktis Menjadi Sufi Sehari-hari
Jum'at, 30 Oktober 2020
azkail
Bagikan

Metode Praktis Menjadi Sufi Sehari-hari

"Bila engkau menuntut ilmu untuk berbangga diri terhadap sesamamu, untuk menarik perhatian orang dan untuk memperoleh pelbagai kenikmatan duniawi, maka berarti engkau telah meruntuhkan agamamu, menghancurkan dirimu sendiri dan menjual akhiratmu demi memperoleh dunia."


Buku ini dibuka dengan paragraf pertama seperti itu. Nampol, nonjok banget buat saya. Pembaca dibuat melek dulu terkait memperbaiki niat menuntut ilmu. Diingatkan untuk meluruskan niat terlebih dahulu. Tapi ternyata tak berhenti di paragraf pertama, berikutnya dibuka dengan lanjutan :


"Andai niatmu dalam menuntut ilmu, yang disaksikan dirimu sendiri dan Allah swt, untuk memperoleh petunjuk, bukan sekedar tahu, maka bergembiralah. Sesungguhnya sayap-sayap para malaikat akan mengembang memayungimu di kala engkau berjalan untuk menuntu ilmu. Dan ikan-ikan di laut pun akan beristigfar untukmu."


Tah, apa ga nampol beneran mak?


Di mukadimahnya aja sudah diminta untuk meluruskan niat saat membaca buku ini agar berkah ilmu dari yang kita dapatkan. Masya Allah. Beneran bisa untuk latihan menjadi sufi. Dimulai dari membaca buku dengan niat yang baik. BTW ya, emang sufi itu apa ya? Mmm...Sependek yang saya tahu, ada yang berpendapat bahwa sufi diambil dari kata shofaa yang berarti kemurnian hati dan jiwa. Nah, di buku ini, kita akan dibimbing satu persatu yang bisa kita praktekan dalam keseharian kita.


Buku terjemahan ini ditulis oleh Abu Hamid Muhammad Al Ghazali yang kemudian diterjemahkan oleh H M As'ad El Hafidy. Saat saya beli buku ini April 2020 lalu sudah edisi kedua cetakan pertama (2017). Edisi pertamanya berhasil masuk ke cetakan VI!. Menjadi best seller. Edisi kedua ini jauh lebih 'berwarna' dan memudahkan pembaca. Semua hadist, alquran dan terjemahannya dicetak dengan warna biru. Bikin seger di mata. Tak cuma itu, di edisi kedua ini, ada banyak sekali satu halaman penuh dengan background warna biru yang berisikan quotes yang ingin diangkat dan mendalam sekali maknanya. Jadi kalau suatu saat ingin membaca kembali, cukuplah membaca halaman biru ini saja sebagai pengingatnya.


223 halaman tak akan terasa dibaca dan dinikmati kata demi kata dalam satu hari. Selain karena diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang mudah diterima dan dicerna, buku ini selalu mengingatkan kita, saya terutama, dalam mengisi waktu dari menit ke menitnya dengan perbuatan baik. Bab pertama bercerita tentang bagaimana kita patuh dengan cara yang mudah mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Adab-adab yang baik dan benar ditambah dengan referensi berbagai hadist shohihnya. Plus doa-doa yang bisa kita aplikasikan dalam keseharian kita. Dari bab pertama ini saja sudah banyak catatan saya terkait doa-doanya. Yang menarik lagi, ada satu kata mutiara pertama yang dijadikan satu halaman penuh adalah


"Celakalah sang bodoh karena dia tak berilmu!

Namun lebih celaka lagi sang berilmu karena dia tak mengamalkan ilmunya!"


img-1604036070.jpg


Kita akan diingatkan bagaimana sebaiknya seorang muslim beraktivitas dari waktu ke waktu seperti yang dicontohkan Rosulullah. Detil sekali diceritakan dari hadist satu ke hadist berikutnya terkait kegiatan yang Beliau lakukan. Tak sekedar bagaimana adab bangun tidur, cara benar memasuki kamar mandi, aturan berwudlu, cara baik pergi ke masjid, cara terbaik sebeum melakukan shalat, cara tidur, cara sholat hingga cara Rosulullah berpuasa. Semua bisa kita ikuti satu persatu dalam keseharian kita. 


Di bab kedua banyak sekali menjelaskan tentang dosa-dosa yang mungkin saja kita tak sadar melakukannya. Penjelasannya sederhana namun dalam. Mulai dari apa dan bagaimana cara kita menghindari dosa-dosa itu ditambah lengkapnya rujukan hadis yang disajikan. 


Rosul mengingatkan kita untuk menjaga seluruh anggota tubuh kita terutama tujuh bagiannya. Karena neraka terdiri dari tujuh  pintu yang masing-masing diperuntukkan bagi penghuni neraka yang tak mematuhi perintah Allah dengan bantuan tujuh bagian ini: mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan dan kaki. Duh, baca bab dua ini saya banyak sekali beristigfar. Banyak sekali diingatkan. Bagaimana kita menjaga diri dari dosa-dosa itu. Tak hanya itu, kita juga diingatkan dosa jiwa seperti suka pamer dan pongah.


Bab terakhir diikat dengan bagaimana cara kita berhubungan dengan Allah dan manusia. Berhubungan dengan para penuntut ilmu, guru, orangtua, orang tak dikenal, sahabat hingga kenalan. Membaca bab ini satu persatu cara yang diberikan, mampu membuka mata saya untuk berkaca dan memperbaiki diri.


Indeks diakhir buku akan membantu kita untuk pencarian kata yang dibutuhkan. Ini memudahkan banget saat kita nanti akan membaca kembali dan butuh cepat menemukan pembahasan tertentu. 


Ah...yang paling menohok adalah saat sudah membaca buku baik ini tapi tak diamalkan. :(


Bila butuh suntikan perbaikan diri, maka buku ini bisa menjadi salah satu pilihan teratas yang bisa saya rekomendasikan.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar