Home / Artikel Novel Taj Mahal

Novel Taj Mahal

Novel Taj Mahal

Resensi Buku lain-lain

Kamis, 01 November 2018

"Ketika aku mendengar kisah cinta pertamaku, mulailah aku mencarimu, tanpa sadar betapa maya pencarian itu. Pada akhirnya, sepasang kekasih tidaklah berjumpa di tempat tertentu, sepanjang waktu, di dalam hati mereka menyatu."


Taj mahal, siapa yang tak kenal dengan salah satu situs warisan dunia versi UNESCO ini. Bangunan bersejarah yang dibangun di abad 16 ini sangat indah. Perpaduan gaya Persia, India dan Islam ini terinternalisasi dalam indahnya arsitektur yang dihasilkan. Kubah marmer putihnya yang bulat serta tiang-tiang ramping, khas arsitektur islam, menghiasi keindahan Taj mahal.  Kolam air yang terbentang memanjang di depan Taj Mahal terlihat cantik sekali.


img-1541012900.jpg

foto diambil dari www.nonikhairani.com

Novel ini bercerita tentang kisah  dan latar belakang Taj Mahal yang banyak sekali memuat intrik politik, asmara, perselingkuhan, persaudaraan, perang saudara dan kehidupan keluarga kesultanan India kala itu. Alur mundurnya membawa pembaca seolah berada di abad 16-17 lalu. Kepiawaian John Shors dalam seni bercerita, membuat dialog dan ragam adegan itu menari-nari di kepala. Deskripsinya sangat detil saat menggambarkan sesuatu. Baik latar belakang, kondisi atau pun watak seseorang. Saya dibawa hanyut dalam situasi perebutan tahta dan rencana pembunuhan yang dilakukan oleh salah satu keluarga sultan. Alur mundur yang diceritakan memang terkesan lambat karena sepertinya penulis ingin menampilkan dan menggambarkan banyak hal dengan sangat detil. Showingnya dapet banget. Buku ini bisa menjadi salah satu cara bagaimana hebatnya seorang penulis mendeskripsikan sesuatu. 


Karakter Jahanara, anak dari Mumtaz Mahal yang menceritakan kisah Taj Mahal pada dua cucunya, sangat kental. Sesekali alur maju terbaca dalam alur ceritanya. Namun Alur mundur jauh lebih mewarnai. Tak melulu dialog yang ada dalam setiap babnya. Penggambaran kejadian nan detil mampu membawa pembaca menikmati setiap adegan demi adegan. Kehebatan sang penulis menggunakan alur cerita mundur yang ga ngebosenin. Buku setebal 457 halaman ini akan menyedot perhatian saat mulai membaca di bab pertama. Dibuka dengan kisah yang membuat pembaca penasaran itu sangat apik dalam membingkai kata-katanya. Di novel ini, Jahanara sedang menceritakan kisah masa lalu kepada dua cucunya. Pembaca akan dibawa memasuki India masa silam, dengan kemewahan harem dan romantisnya sungai Yamuna dalam pertunjukan klasik ala Mahabharata atau kisah Seribu Satu Malam, pertarungan antara kuasa cinta dan angkara.


Kepiawaian penulis dalam membawa suasana masa silam mampu menyihir pembaca untuk mengenal siapa saja keluarga sultan itu. Nama-nama hindustan kental disebutkan. Seolah ingin memperkenalkan siapa anak siapa sebagai apa dalam kisah Taj Mahal. Keseruan gambaran watak dan memainkan emosi akan muncul di bab akhir saat terjadi perebutan tahta dan perang saudara. Karena muncul beberapa tokoh dan nama dengan model cerita alur mundur, membuat saya harus mengingat kembali ini siapanya siapa. Namun secara keseluruhan, cerita ini mampu menambah banyak pengetahuan pembaca terkait sejarah adanya bangunan cantik, Taj Mahal. Ditampilkannya beberapa foto Taj Mahal yang berwarna, menambah kesan kuat akan cerita dan karakter tokoh yang dibangun dalam novel ini.


Buat Anda yang suka dengan sejarah namun disajikan dalam bentuk yang sedikit lebih ringan, buku ini menjadi rekomendasi untuk berada dalam daftar atas bacaan. Atau mungkin yang mau travelling ke Taj Mahal, membaca novel ini bisa menjadi salah satu modal awal untuk mengetahui latar belakang pendiriannya. Siapa itu Jahanara, Mumtaz Mahal? Atau ingin tahu beberapa ruang indah tersembunyi di Taj Mahal? Ah, saran saya cuma satu, segera baca novel ini.

Komentar

Tambahkan Komentar

Jejaring Sosial