Panduan islam mendidik anak menuju baligh-review buku
Rabu, 10 Juni 2020
azkail
Bagikan

Panduan islam mendidik anak menuju baligh-review buku

Masa remaja atau pubertas, adakah dalam islam?


“Anak-anak muda dengan semangat dan potensinya yang besar, arahkan dengan ilmu agar berada dalam frame islam yang benar”- Budi Ashari, Lc


Buku yang saya review kali ini mengupas tentang yang kita kenal dengan remaja dan panduannya untuk menyiapkan mereka. Bahasan dalam bukunya nampol saya bolak balik. Sukses bikin saya berpikir kembali apa yang telah dan akan saya lakukan. Masya Allah, Beliau mengupas dengan bahasa yang sangat sederhana, mudah dimengerti. Maka wajar buku ini sudah memasuki cetakan kelima di tahun 2020. 


Buku parenting nabawiyah berseri ini sebetulnya pernah duduk manis di perpusnya Azkail beberapa tahun yang lalu saat mengikuti kajian rutin Ustadz Elvin dari Kuttab. Namun saat itu dipinjam teman trus ga balik sampai sekarang. Hehehe. Rapopo, sing penting itu buku dibaca dan bisa diamalkan bareng-bareng. Saya juga sudah lupa siapa yang minjem karena saking seringnya buku itu berputar dari dari satu tangan ke tangan yang lain. Nah, beberapa hari yang lalu, lewatlah informasi di timeline facebook saya kalau salah satu teman menjual buku itu. Tanpa pikir panjang, saya memutuskan membeli kembali buku keren ini. Saya perlu punya bukunya sebagai pengingat di kala lupa, pemecut di kala galau. 


Buku setebal 125 halaman yang diterbitkan oleh Pustaka Nabawiyyah ini sebetulnya buku lama dari salah satu tulisannya ust Budi Ashari. Cetakan pertamanya lahir di bulan Desember 2012 dan di April 2020 lalu sudah sampai pada cetakan kelima. Ukuran bukunya mudah digenggam dalam datu tangan. Kertas yang digunakan juga cukup tebal. Foto pada cover yang menggambarkan beberapa anak muda sedang duduk melingkar belajar bersama cukup mensiratkan bahwa buku ini menjelaskan tentang pendidikan. Warna covernya elegan karena dipadu dengan tulisan yang mudah dibaca yang berwarna kuning dan putih. Senada dengan warna font penerbitnya.


Bab pertama dibuka dengan pembahasan menggelitik seputar diksi remaja,  pubertas dan beberapa pemakluman tentang mereka,

“Maklum aja, namanya juga sedang mencari jati diri.” Atau

“Namanya juga nak muda, maklum aja... .”


Adakah remaja dan pubertas dalam islam? Cara pandang yang salah tentang remaja dikupas dalam bab pertama ini. Dalam tafsir Ibnu Katsir tentang para pemuda ashabul kahfi dijelaskan bahwa mereka adalah para pemuda. Pemuda yang seperti apa?


Para pemuda itu jauh lebih mudah menerima kebenaran, lebih mudah mendapatkan petunjuk yang lurus dbandingkan  orang tua yang durhaka dan tenggelam dengan agama kebathilan. Untuk itulah, yang paling banyak menyambut kebenaran seruan Allah adalah dari kalangan pemuda. 


Ustadz Budi Ashari mencontohkan ada 10 pemuda yang masuk islam dan sudah dijamin masuk surga dalam satu hadits Rosul. Yaitu : 

1.Abu Bakar As Shiddiq (37 tahun)

2.Umar bin Khattab (27 tahun)

3.Utsman bin Affan (34 tahun)

4.Ali bin Abi Tahlib (10 tahun) 

5.Thalhah bin Ubaidilah  (14 tahun)

6.Zubair bin Awwam ( 16 tahun)

7.Saad bin Abi Waqqash (17 tahun)

8.Said bin Zaid (15 tahun)

9.Abu Ubaidah bin Jarrah (27 tahun)

10.Abdurrahman bin Auf (30 tahun)


Lalu beliau menceritakan asal muasal istilah remaja dan pubertas dari berbagai sumber yang kita kenal. Dan ya Allah, ternyata menohok sekali arti dari pubertas itu. Lalu mengapa kita selama ini malah terbiasa menggunakan diksi itu tanpa tau arti sesungguhnya. Nama panggilan atau sebutan itu adalah doa. Saya ga akan membahasnya disini, mamak perlu baca sendiri penjelasan komprehensipnya di buku itu. Oia, dalam islam hanya dikenal dengan tiga penyebutan yaitu anak kecil-pemuda/dewasa dan orang tua. Tak ada istilah remaja apalagi pubertas. Jangan lagi menggunakan diksi remaja apalagi pubertas. Ini catatan untuk saya. Bismillah. Ya Allah, bimbinglah kami.


Di bab selanjutnya beliau mengungkapkan betapa luar biasanya Allah menyebut pemuda dalam banyak kisah dan ayat-Nya. Ada 8 kisah dalam al quran yang beliau jabarkan tentang pemuda dan sifat-sifat yang mendasarinya. Allah saja sudah langsung menghargai dengan sebutan pemuda yang melekat kebaikan padanya. Lalu disambung dengan penjelasan 4 hal dalam banyak hadist tentang apa dan bagaimana seorang pemuda itu digambarkan. Berhenti sampai bab ini, kepala saya kemudian melayang. Bahwa islam sungguh memuliakan kita dalam hal ‘sepele’, penyebutan pemuda/fataa yang ternyata banyak sekali sifat baik yang melekat pada penyebutan itu. Lalu mengapa kita masih menggunakan sebutan lain? Sudah jelas-jelas islam menyebutnya dengan pemuda, diksi yang mengartikan dan memberikan kepercayaan pada yang melekat dengan sebutan itu.


Di bab berikutnya, beliau mengingatkan kita tentang bagaimana sebaiknya dan seharusnya kita mendidik anak-anak kita menuju usia baligh. Lihatlah bagaimana islam mengajarkan mulai dari perbedaan lawan jenis. Anak-anak sudah dikenalkan dengan kongkret bahwa kalau perempuan, anak-anak sudah mengenalnya dengan perbedaan pakaian. Penggunakan hijab untuk wanita, laki-laki tidak menyerupai perempuan dan begitu juga sebaliknya. Kemudian beranjak ke usia 7-10 tahun untuk memisahkan kamar tidur laki-laki dan perempuan. Bahkan ada satu konsep islam yang saya tuh makin melek, masya Allah. Ada di QS An Nisa’:5-6, tentang konsep Ar Rusyd bagi anak-anak yang telah baligh. Islam begitu mengangkat dan menghargai bagaimana seorang pemuda itu. Islam memberikan solusi. Akal dan hati selalu mengirimkan perintah yang akan terlihat jelas pada pergerakan anggota tubuh. Dan Allah telah memilih harta sebagai perwakilan akal dan hati para pemuda dalam konsep Ar Rusyd dalam firman-Nya itu. Contoh nyata, mak. 


Mereka itu (pemuda) adalah yang telah baik dalam mengendalikan harta, menyimpan, memperbaiki, membelanjakan dan mengembangkan, pasti telah tersusun dengan baik akal dan hati mereka. Mereka telah mampu membedakan yang bermanfaat dan mana yang membahayakan.


Pemuda itu visioner, memandang jauh ke depan, bukan hanya kesenangan sesaat. Tinggal kemudian, bagaimana cara mendidik anak agar menjadi pemuda seperti itu? Lihatlah konsep Ar Rusyd di atas. Artinya sejak awal, anak-anak itu sudah dididik untuk mengendalikan harta, diberi kepercayaan mengelolanya. Hingga saat sudah baligh nanti, mereka makin percaya diri untuk mengembangkan karena sudah paham apa manfaat dan mudhorotnya. 


Saya kemudian berkaca, betapa banyaknya sekarang anak muda yang sudah baligh tapi belum 'Aqiil (berakal). Jangankan kemandirian dalam pengelolaan harta, mengelola emosi dan dirinya sendiri saja masih banyak dibantu orang tua. Dengan dalih orang tua yang sayang pada anaknya agar anaknya tak mengalami rasa epdih dalam menghadapi hidup. Owh  big no!. Bahkan dari rasa pahit sekalipun, anak perlu tahu dan merasakannya dengan jelas, mak.


Lanjut di pembahasan berikutnya, benang merah yang bisa saya tarik adalah, bahwa selain tauladan orang tua, obat itu sebetulnya ada dalam diri mereka sendiri. Kita tinggal menjaga agar berada dalam jalan-Nya dengan mengikuti petunjuk dan kisah yang beliau gambarkan dalam buku itu. Misal, gejolak seksual remaja bukan masalah dan islam itu tidak menolak tentang hal itu tetapi mengatur. Termasuk mengatur terhadap hubungan dengan lawan jenis, mengubah cara pandang; seksual menjadi ibadah. Karena menjaga kesucian adalah sesuatu yang wajib dan menutup seluruh saluran kecuali dengan menikah. Ah... baca bab ini tuh meleleh, berkaca-kaca. Bagaimana islam mengatur sampai sedetil itu. Termasuk contoh tantangan yang sering dihadapi saat berdiskusi dan menjawab beberapa pertanyaan dengan para pemuda. Mamak yang punya anak muda atau jelang usia baligh, pasti tahu tantangannya ya. Nah, di buku ini tuh, Ustadz Budi menjelaskan dengan sederhana dengan diselipi kisah para sahabat dahulu.


Di bab terakhir menjadi kisah pamungkas buku ini, bagaimana kekuatan bercerita yang ada pada diri ustadz Budi Ashari tentang bagaimana Rosulullah menghadapi dan menjadi problem solver terhadap para pemuda. Yang ternyata kejadian dan kondisi saat itu pun terjadi hingga saat ini. 


Saran saya mak, baca sampai tuntas buku ini. Walau hanya 120an halaman tapi berasa membaca lebih dari itu. Dalem dan nonjok banget. Ini baru seri ketiga ya, Kapan-kapan saya review seri pertama dan kedua buku parenting nabawiyyah ini ya. Ikuti aja cerita saya di blog ini ya.


Ups, sudah punya bukunya?

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar