Review Film I Can Speak
Sabtu, 04 Januari 2020
azkail
Bagikan

Review Film I Can Speak

"Apa sulitnya mengucapkan 'aku minta maaf'"

Gegara buku bacaan di rumah dah habis dan lagi ngencengin ikat pinggang untuk beli buku lagi di Januari ini, akhirnya saya geser cara saya belajar. *gaya bet yak. Eh, beneran loh, saya akhirnya browsing dan nonton beberapa film keluarga sarat pendidikan. Jam online, saya habiskan untik nonton maksimal satu jam sehari. Saya pake jamnya nyekrol dan intip WA untuk nonton. Mohon maaf yang WA nya baru terbalas ya😅. Btw, kalau filmnya ampe dua jam, berarti saya pake jam nyekrol berita online dan baca buku di perpus online😆

Wuiiih, ternyata saya menemukan banyak sekali film pendidikan ramah anak yang layak ditonton bareng keluarga. *Kemane aje ye gw." Mungkin dulu pernah tenar di jamannya, macem, Tara zamen paar, three idiot. Penikmat indiahe tentu hapal film berbau pendidikan nan fenominil ini. Selama libur gini, Azka yang sedang libur kuliah, balik ke Bogor, ternyata tetap 'kerja' dengan temannya. Ailsa pun tetap belajar bersama temannya mempersiapkan UN dan SBMPTN. Nah, ada satu masa di antara Ailsa dan temannya belajar, ternyata mereka menjadwalkan nonton. Mupeng lah ya mamaknya. Kalau mereka nonton di bioskop, mamak streaming aja dari rumah deh.

Seminggu kemaren saya pun mulai browsing film pendidikan terbaik di jamannya. Dan sudah ada beberapa film yang saya tonton. Biar ga mandek di kepala saya, hari ini saya mau cerita tentang yang baruuu aja saya tonton. Sebetulnya, kenapa film ini yang akan saya ceritakan duluan tuh, karena selain baru aja selesai tak tonton, pemeran utama wanita dan laki-lakinya, saya kenal wajahnya tanpa tau namanya. Saya lebih mudah mengingat wajah dari pada mengingat nama, hahaha. Sebagai pemain veteran, beliau sering main film dengan karakter yang kuat. Jadi nempel di kepala saya.

img-1578203174.jpg

Film I Can Speak ini telah memenangkan 10 penghargaan bergengsi tingkat internasional. Ini listnya, keren kan...

Baek Sang Art Awards
2018 Best Actress
Blue Dragon Awards
2017 Best Director
2017 Best Actress
2017 Popular Star
Director's Cut Awards
2017 Best Actress
Grand Bell Awards, South Korea
2018 Best Actress
KOFRA Film Awards
2018 Best Actress
Korean Association of Film Critics Awards
2017 Best Films of the Year
2017 Best Actress
Women in Film Korea Festival
2017 Woman in Film of the Year

img-1578201512.jpg
Na Moon Hee, pemeran utama wanita terbaik

Karena kemal (KEpo MAksimaL) tingkat dewi kayangan, apa istimewanya film ini sampai bisa menyabet segitu banyaknya penghargaan. Dan saya pun merelakan nonton walau sampai beberapa kali kepotong iklan untuk njemur, nreakin mamang sayur, lanjut masak ples makan.😋

Sebetulnya, film ini tuh ditayangkan perdana pada 21 September 2017, [dan saya baru tahu di Januari 2020]. Basi banget yekaaan. Ah, tapi tidak untuk isi filmnya. Dijamin ga cuma ngekek berjama'ah tapi bisa bikin tisu kering jadi tisu basah.

Awal nonton, saya merasa ini seperti drama-drama korea keluarga pada umumnya gitu. Tapi dugaan saya salah besar. Ternyata ada latar belakang sejarah antar negara, pahit, getir, haru dan bahagia yang kemudian tergambar dan terbuka satu persatu di film ini.
Plot twistnya keren.

Na Moon Hee sangat handal memainkan karakter khas seorang nenek tua yang bawel, super duper cerewet dan perhatian akan orang lain. Ia dengan sukarela mengumpulkan semua keluhan masyarakat terhadap fasilitas dan layanan pemerintah. Semua kebutuhan dokumen dan bukti fisik ia siapkan. Tumpukan laporannya membuat pegawai negeri di bagian layanan masyarakat mulai gerah. Hingga akhirnya muncul seorang pegawai negeri yang mutasi ke kantor pelayanan tersebut. Dari sinilah banyak sekali kejadian dan keseruan mulai terungkap. Sampai suatu ketika sang nenek ingin sekali bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

                img-1578203438.jpg


Film ini diangkat dari kisah nyata Lee Yong Soo, seorang jugun ianfu, comfort women atau yang dikenal dengan budak seks saat penjajahan Jepang ke Korea Selatan. Berbagai kenyataan pun mulai dikupas. Dan disinilah letak kekuatan film I Can Speak bermuara. Setelah hidup selama 60 tahun, ia tak pernah menceritakan kisah pahitnya pernah dipaksa, disiksa menjadi comfort women, melayani para tentara Jepang yang setiap hari sudah berbaris di depan bangsalnya. Namun lagi-lagi harga diri menjadi taruhannya saat diminta untuk membuka luka lama.

Di film ini kita, eh saya, banyak sekali mendapatkan insight yang kemudian bisa jadi bahan diskusi dengan azkail. Berikut ini beberapa hal menarik yang bisa diangkat dalam obrolan bareng anak-anak;

1. Kesantunan orang korea terhadap orang yang lebih tua, sangat terlihat di banyak film korea yang saya tonton. Pun di film ini. Sampai soal sederhana dalam menerapkan tidak merokok di sembarang area dan selalu menggunakan seat belt layak dijadikan contoh. Termasuk para pegawai yang domelin habis-habisan sama sang nenek pun mereka tetap menaruh rasa hormat pada orang yang lebih tua.

2. Bertanggung jawabnya seorang kakak terhadap proses pendidikan adiknya. Dalam film ini terlihat adik dan kakak pegawai mutasi itu sangat dekat. Konflik-konflik kakak beradik pun sering muncul, namun lagi-lagi rasa tanggung jawab seorang kakak terhadap adiknya tetap menjadi pilihan utama. Termasuk alasan utama nenek ingin belajar bahasa inggris pun ternyata karena kuatnya kekeluargaan terhadap seseorang yang sangat dirindukan. Siapa dia? segera tonton filmnya.

3. Persahabatan nenek dan teman seperjuangannya saat menjadi comfort women sangat dalam. Di sini alur mulai bercerta maju dan mundur. Bersiaplah dengan sapu tangan ya, mak. Kita akan dibawa ke dalam suasana saat mereka berdua menjadi comfort women dan berusaha untuk tetap menjaga satu sama lain di usia yang masih sangat muda.

4. Dukungan pemerintah dan masyarakat ternyata sangat diperlukan guna mengembalikan harga diri dan permohonan maaf yang diinginkan oleh para comfort women dari pemerintah Jepang. Lika liku persidangan dunia pun digambarkan. Kerennya, isu sensitif mengenai sejarah kelam perbudakan seks pada anak di bawah umur saat perang dunia kedua, mampu diangkat ke dalam sebuah layar lebar.

5. Yang terakhir dan yang paling penting dari film ini adalah, keberanian kita untuk berbicara tentang kebenaran, seberapa pun sulitnya. Karena kalau tak dimulai dari kita, siapa lagi?

Film dengan durasi 1:59 menit ini sukses membuat hati saya serasa diaduk-aduk. Plot twistnya bener-bener keren. Banyak adegan dan cerita tak terduga tentang kisah ini.

Tonton deh mak. Saya sih menyarankan untuk 13+ ya. Yuk aah, tunggu review film lain yang ga kalah serunya ya.




Sumber : wikipedia.com
wowkeren.com

Komentar

  1. Marita Ningtyas Selasa, 07 Januari 2020

    Suka banget sama film ini. Awalnya nonton karena sudah pernah lihat kedua pemeran utama yang aktingnya keren2. Kirain film komedi, ternyata duh marai nangis.. gitu deh film Korea suka bikin twist..

    • Admin Selasa, 07 Januari 2020

      iyyo, bener banget mba, di awal cerita tentang keluarga pada umumnya, tap igejolak mulai muncul di saat tak terduga... #tsaaah

Tambahkan Komentar